Hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Akan datang masanya kita berpisah dgn dunia berikut isinya. Perpisahan itu terjadi saat kematian menjemput, tanpa ada seorang pun yg dapat menghindar darinya.
Maut Pasti Tiba
Kematian akan menyapa siapa pun, baik ia seorang yg saleh atau durhaka, seorang yg turun ke medan perang atau pun duduk diam di rumahnya, seorang yg menginginkan negeri akhirat yg kekal ataupun ingin dunia yg fana, seorang yg bersemangat meraih kebaikan ataupun yg lalai dan malas2an. Semuanya akan menemui kematian, apabila telah sampai ajalnya.
Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman :
كُلُّ نَفۡسٍ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةًۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ
“Setiap yg berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dgn kejelekan dan kebaikan sbg satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami-lah kalian akan dikembalikan.” (QS al-Anbiya : 35)
أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍۗ
“Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yg tinggi lagi kokoh.” (Qs. an-Nisa : 78)
Perbanyak Ingat Kematian
Maka, setiap makhluk hidup, pasti mati. Karena itu, dianjurkan setiap muslim untuk selalu mempersiapkan dan mengingat kematian. Dalam Kitab Tanqih al-Qaul Hatsits Syarah Kitab Lubabul Hadits, Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani Al-Makki Asy-Syafi’i rahimahullah (1813 M, Tanara – 1897 M Mekkah), menjelaskan hadits2 tentang keutamaan mengingat kematian, memiliki banyak keutamaan, memiliki nilai pahala dan manfaat.
Dalam kitabnya ini, Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah, mengutip hadits Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam dari Anas bin Malik Al-Khazraj Radhiyallahu Anhu (612 M, Madinah – 709 M, Basra, Irak) disebutkan :
“Perbanyaklah ingat kematian, karena mengingat kematian dapat menyucikan dosa dan membentuk sikap zuhud di dunia. Bila kamu semua mengingatnya dalam keadaan kaya maka dapat menghilangkannya, dan bila kamu mengingatnya ketika kafir maka dapat merelakan kehidupanmu.” (HR Al-Hafidz Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Ubaid bin Sufyan bin Qais al-Baghdadi al-Umawi al-Qurasyi atau Imam Ibnu Abid Dunya rahimahullah, 823 – 894 M, Bagdad, Irak)
Dalam hadits lain, menurut Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah, riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu (610 – 693 M di Makkah), Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam juga bersabda : “Hendaklah kamu di dunia ini, seolah sedang menjadi pengembara, bahkan menjadi orang yg melewati jalan, dan anggapkan kamu sbg penghuni kubur.” (HR Imam Ahmad bin Hambal, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, dan Imam Ibnu Majah rahimahumullah).
Orang Yang Cerdas
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yg paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yg paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yg paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yg paling cerdas.” (HR. Imam Ibnu Majah rahimahullah, wafat 19 Februari 887 M, Qazvin, Iran).
Mengingat maut, sungguh berpengaruh besar dalam memperbaiki jiwa, sebab jiwa lebih mengutamakan dunia dan kelezatannya, serta berhasrat untuk kekal selama2nya di dunia. Terkadang jiwa cenderung pada dosa dan maksiat serta malas beramal.
Jika maut selalu berada dalam pikiran seorang hamba, ia akan menganggap kecil dunia dan membuatnya selalu berupaya memperbaiki diri dan memperkuat jiwa dalam ketaatan.
Jika Lupa Maut
Imam Al-Baihaqi rahimahullah (994 – 1066 M, Naisabur, Iran) dalam kitab Syu’a’bul Iman, Imam Ibnu Hibban Al-Busti rahimahullah (884 – 965 M, Afghanistan) dalam kitab Shahihnya, dan Imam al-Bazzar (wafat 292 H / 905 M Ramlah Israel) rahimahullah dalam kitab Musnadnya, meriwayatkan hadits dgn sanad hasan, dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : “Perbanyaklah oleh kalian mengingat penghancur kelezatan, yakni maut. Maut itu jika diingat dalam kesempitan hidup, ia akan melapangkannya, dan jika tidak diingat dalam keluasan hidup, ia akan menyempitkannya.”
Imam Abu Abdirrahman Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah (726 M Turkmenistan – 797 M, Hit, Irak) dalam kitabnya az-Zuhd wa ar-Raqa’iq, menyebutkan bahwa seorang saleh berkata, “Lupa mengingat maut walau sesaat sungguh membuat hatiku rusak.”
Kemuliaan dan Kehinaan
Al-Imam Abu Ali Al-Hasan bin Muhammad bin Ali ad-Daqqaq An-Naisaburi rahimahullah (wafat 1023 M / 412 H Naisabur Iran) berkata:
“Siapa yg banyak mengingati kematian, maka akan mendapat tiga kemuliaan: bersegera untuk bertaubat, hatinya qana’ah (merasa cukup) dan sentiasa bersemangat dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yg melupakan mati, ia akan dihukum dgn tiga perkara: menunda tobat, tidak ridha dgn perasaan cukup, dan malas dalam beribadah.
Maka dari itu, mari kita berpikir, jangan menjadi kelompok orang yg tertipu, yg merasa tidak akan dijemput kematian, tidak akan merasa sekaratnya, kepayahan, dan kepahitannya. Cukuplah kematian sbg pengetuk hati kita, membuat mata kita menangis, memupus kelezatan, dan menuntaskan angan2. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan dan membayangkan datangnya hari kematianmu dan perpindahanmu dari tempat hidupmu yg sekarang?”
(Termaktub dalam Kitab At-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa umur al-Akhirah, karya al-Imam Al-Alim Al-Mufassir Sl-Muhaddits Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr Al-Anshari al-Qurthubi Al-Mishri Al-Maliki atau Imam al-Qurthubi, wafat 29 April 1273 M, Mesir)
Imam Al-Qurthubi rahimahullah juga berkata : “Ketahuilah, bahwa ingat mati menimbulkan hasrat menjauhi dunia yg fana, dan setiap saat menghadapkan diri ke negeri akhirat yg baka.”
Obat Kerasnya Hati
Imam Ourthubi rahimahullah, dalam kitabnya tsb juga berkata, para ulama mengatakan bahwa tiada yg lebih bermanfaat bagi hati daripada ziarah kubur, terlebih bagi hati yg keras. Bagi yg berhati keras, obatnya ada tiga.
Pertama, mencabut hal2 buruk yg menempel pada dirinya, dgn menghadiri majelis ilmu, yg berisi nasihat, peringatan, kabar gembira, ancaman dan kisah orang2 saleh, sebab itu semua dapat melunakkan hati.
Kedua, ingat mati. Hendaknya banyak mengingat penghancur kelezatan, pemisah kelompok dan pembuat anak2 jadi yatim.
Ketiga, menyaksikan orang yg sedang sekarat. Sebab, melihat orang mati beserta sekaratnya, serta membayangkan keadaan setelah kematian, termasuk hal yg memutuskan kelezatan jiwa, mengusir kesenangan hati, membuat mata tidak tidur, membuat badan tidak berisirahat, memotivasi diri untuk beramal, dan menambah kesungguhan dan kerja keras dalam beramal.
Sadarlah Mautmu Menjemput
Abu Khalid Yazid ar-Raqasyi Al-Ghanami Radhiyallahu Anhu (wafat 12 H / 632 M di Yamamah), berkata kepada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid ! Siapa gerangan yg akan menunaikan shalat untukmu setelah kematianmu ? Siapakah yg mempuasakanmu setelah mati ? Siapakah yg akan memintakan keridhaan Rabb-mu untukmu setelah engkau mati ?”
Kemudian ia berkata, “Wahai sekalian manusia, tidakkah kalian menangis dan meratapi diri2 kalian dalam hidup kalian yg masih tersisa ? Duhai orang yg kematian mencarinya, yg kuburan akan menjadi rumahnya, yg tanah akan menjadi permadaninya, dan ulat2 akan menjadi temannya…, dalam keadaan ia menanti dibangkitkan pada hari kengerian yg besar. Bagaimanakah keadaan orang ini?” Kemudian Yazid menangis hingga jatuh pingsan. (Termaktub dalam kitab At-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa umur al-Akhirah karya Imam Al-Qurthubi rahimahullah)
Semoga bermanfaat
From a variety of sources by Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA
CHANNEL YOUTUBE SARINYALA

No responses yet