Rezeki merupakan karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala, yg diberikan kepada hamba-Nya yg beriman maupun tidak beriman. Bentuk rezeki tidak harus berupa uang saja, melainkan segala sesuatu yg datang dari-Nya dan bermanfaat bagi kita. Misalnya, kesehatan, kebahagiaan, terhindar dari musibah dan lain sebagainya. Rezeki hakikatnya dari Allah Sang Maha Pemberi Rezeki, tapi pasti melalui perantara makhluk-Nya, lalu tidak akan mati seorang manusia sebelum semua rezekinya telah diberikan.
Secara bahasa, rezeki (rizki), berasal dari kata rozaqo – yarzuku – rizqon, yg bermakna “memberi / pemberian”. Sehingga, makna dari rizki adalah segala sesuatu yg dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’laa kepada hamba2-Nya dan dimanfaatkan oleh hamba tsb.
Dari pengertian di atas, dapat difahami bahwa yg termasuk dalam ketagori rezeki, tidak terbatas hanya pada besar kecilnya gaji dan pendapatan atau banyak tidaknya harta maupun uang yg tersimpan. Tetapi makna rezeki lebih luas daripada itu. Kesehatan tubuh dan jiwa, udara yg kita hirup, air hujan yg turun, keluarga yg menyenangkan, kepandaian, terhindarnya dari kecelakaan atau musibah, dan lain sebagainya, adalah bagian dari rezeki Allah Subhanahu wa ta’laa.
Termasuk juga turunnya hidayah Islam pada diri seorang hamba, pemahaman akan ilmu agama, terbukanya pintu2 amal shalih dan bahkan husnul khatimah dan mati syahid juga merupakan bagian dari rizki yg tiada tara. Dan masih banyak lagi karunia Allah Subhanahu wa Ta’laa yg sangat luar biasa, yg di-karuniakan kepada hamba2-Nya dan tidak mungkin terhitung.
Soal rejeki, teringat nasihat Ulama Mujadid Abad ke- 20, Syekh Prof DR Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi Asy-Syafi’i rahimahullah (16 April 1911 – 17 Juni 1998 M) yg dikenal sbg Imam Ad-Du’ati (Pemimpin Para Da’i), ulama kenamaan di Mesir, beliau pernah mengatakan:
إنْ كنتَ لا تعرفُ عُنْوانَ رزقِكَ# فإنَّ رزقَك يعرِفُ عُنوانَك.
“Jika kamu tidak tahu alamat dimana tempat rezekimu berada, maka sesungguhnya rezekimu tahu dimana alamat tempatmu berada.”
Seringkali banyak orang yg resah, cemas, khawatir rezekinya tidak ada. Rezekinya tidak datang. Rezekinya berkurang, disebabkan suatu kondisi dan keadaan yg tidak ia harapkan.
Banyak kemudian orang yg mengeluh, terganggu pikirannya, terusik ketenangan tidurnya, memikirkan bagaimana rezeki berupa uang diperolehnya mengalir seperti yg ia inginkan.
Rezeki bagi kebanyakan orang hanyalah berupa lembaran kertas berwarna biru dan merah. Rezeki dipahami hanya berwujud materi yg bisa dipegang dan diraba. Selebihnya, hanyalah pelengkap dan penyempurna kenikmatan yg bisa dibeli den lembaran kertas itu.
Padahal, jika kita mau memahami konsep hakikat rezeki di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala hanya menyebut penisbahan rezeki dalam konteks rahmat dari langit, keberkahan dari bawah bumi, kenikmatan dari ditundukkannya seluruh alam semesta bagi manusia. Sebagaimana keterangan di atas.
Ada beberapa prinsip tentang rezeki:
Pertama, semua makhluk (yg berakal maupun yg tidak berakal), rizkinya telah dijamin oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Ada banyak dalil yg menunjukkan hal ini. Diantaranya, firman Allah subhanahu wa ta’ala :
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Tidak ada satupun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rizkinya”. (QS. Hud : 6).
Prinsip yg kedua adalah setiap jiwa tidak akan mati, sampai dia menghabiskan semua jatah rezekinya. Sehingga siapapun yg hidup pasti diberi jatah rezeki oleh Allah subhanahu wa ta’ala sampai dia mati. Ajal artinya batas waktu hidup di dunia beserta rejekinya dan amal ketaatannya. Tidak mungkin lebih dan kurang dari ajal. Setiap manusia itu punya ajal yg terbatas, yg tidak mungkin seseorang melebihinya dan tidak mungkin kurang darinya.
Ajal berasal dari bahasa Arab dari akar kata ajala – ya’jilu berarti menahan, mengakhirkan, kemudian membentuk kata al-ajal berarti batas waktu (kematian). Kata ajal, juga sudah menjadi bahasa Indonesia dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan ‘batas hidup yg ditentukan Tuhan’.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Tiap2 umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ ، فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُ ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dgn baik, ambil yg halal dan tinggalkan yg haram.” (HR. Imam Al-Baihaqi rahimahullah, dalam kitab Sunanul Kubro 9640, dishahihkan oleh Imam Al-Hakim An-Naisaburi rahimahullah dalam kitab Al-Mustadrak dan disepakati oleh Imam Ad-Dzahabi rahimahullah).
Bila ajal telah tiba, rezeki berarti telah berakhir. Sebagaimana keterangan dalam kitab Syarhus Sunnah karya al-‘Allamah Al-Faqih al-Millah ‘Alam az-Zahad Al-Imam Isma’il ibn Yahya Al-Muzani Asy-Syafi’i atau Imam Al-Muzani rahimahullah (791 – 877 M, Kairo, Mesir), murid dan sahabat terdekat Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Imam Al-Muzani rahimahullah berkata :
وَالخَلْقُ مَيِّتُوْنَ بِآجاَلِهِمْ عِنْدَ نَفَادِ أَرْزَاقِهِمْ وَانْقِطَاعِ آثَارِهِمْ
“Makhluk itu akan mati dan punya ajal masing2. Bila ajal tiba, berarti rezekinya telah habis dan amalannya telah berakhir.”
Mungkin banyak orang yg masih mengasumsikan bahwa ajal dan umur manusia memiliki kesamaan. Padahal, keduanya memiliki perbedaan. Ajal merupakan waktu atau masa yg telah digariskan Allah subhanahu wa ta’ala untuk berapa lama seseorang atau sesuatu berada.
Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Setiap umat memiliki ajal, bila tiba ajal mereka, maka tidak bisa minta mundur dan tidak bisa minta maju.” (QS al-A’raf: 34).
Sementara, umur adalah bagian dari ajal yg diisi dgn kehidupan, dgn kebaikan, dgn ibadah, dgn mengasihi sesama, dan diisi dgn segala macam kebaikan yg bisa memakmurkan alam semesta. Bisa jadi ajal seorang panjang, tapi hanya sebagian yg diisi dgn kehidupan dan kebaikan, maka ia berajal panjang tetapi berumur pendek.
Sebaliknya, bisa jadi ajal seorang pendek, tetapi dia berumur panjang, bahkan sangat panjang, karena dia menyambungkan kehidupannya pasca kematian jasadnya.
Seseorang yg beramal jariyah dgn hartanya, dgn jasanya, atau dgn ilmunya, hakikatnya ia menyambung umur kehidupannya dgn kehidupan berikutnya. Mungkin juga ada seorang yg ajalnya masih ada, dalam arti masih hidup secara badani, tapi hakikatnya umurnya telah terkubur jauh sebelumnya. Semoga kita diberi umur yg panjang, bukan hanya ajal yg panjang.
Prinsip yg ketiga adalah hakikat dari rezeki adalah apa yg dikonsumsi dan yg dimanfaatkan. Sementara yg dikumpulkan oleh manusia, belum tentu menjadi jatah rezekinya.
Dalam hadis dari Abdullah bin Sikhir radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
“Manusia selalu mengatakan, “Hartaku… hartaku…” padahal hakekat dari hartamu – wahai manusia – hanyalah apa yg kamu makan sampai habis, apa yg kami gunakan sampai rusak, dan apa yg kamu sedekahkan, sehingga tersisa di hari kiamat. (HR. Imam Ahmad Bin Hambal rahimahullah, Imam Muslim rahimahullah dan yg lainnya).
Rezeki bisa beraneka ragam bentuknya:
Yang pertama adalah rezeki yg bersifat umum.
Yaitu segala sesuatu yg memberikan manfaat bagi badan, berupa harta, rumah, kendaraan, kesehatan, dan selainnya, baik berasal dari yg halal maupun haram. Rezeki jenis ini Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada seluruh makhluk-Nya, baik orang muslim maupun orang kafir.
Yang kedua adalah Rezeki yg sifatnya khusus.
Yakni segala sesuatu yg membuat tegak agama seseorang. Rezeki jenis ini berupa ilmu yg bermanfaat dan amal shalih serta semua rezeki halal yg membantu seseorang untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Termasuk di dalamnya adalah mendapatkan teman yg shalih pun adalah termasuk rezeki. Inilah rezeki yg Allah subhanahu wa ta’ala berikan khusus kepada orang2 yg Allah subhanahu wa ta’ala cintai. Inilah rezeki yg sejati, yg bisa menghantarkan seseorang mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Rezeki jenis ini Allah khususkan bagi orang2 mukmin. Allah subhanahu wa ta’ala menyempurnakan keutamaan bagi mereka, dan Allah subhanahu wa ta’ala anugerahkan bagi mereka surga di hari akhir kelak.
Maka, setelah memahami hakikat rezeki, sudah semestinya manusia lebih bersemangat untuk menggapai kebahagiaan akhiratnya tanpa meninggalkan bagiannya di dunia, bukan hanya sibuk mengejar harta dunia namun lupa akan kehidupan akhirat. Harta yg dimiliki, kesehatan yg dirasa, haruslah menjadi penyemangat untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bukan hanya untuk mengumpulkan harta dunia.
Oleh karena itu, marilah kita bekerja secara proporsional jangan menabrak yg haram2 melupakan ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala yg sejatinya sang pemberi dan penanggung rejeki kita.
كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي وَمَن يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى
“Makanlah di antara rezeki yg baik yg telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yg menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.” (Qs. Thaha : 81)
“Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya (untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana ia lari dari kematian,, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.”
( HR Imam Ibnu Hibban rahimahullah)
3 Ikhtiar Memperluas Rezeki
Salah satu ikhtiar yg dilakukan untuk memperluas rezeki adalah meningkatkan tiga hal berikut yaitu, ILMU, IBADAH, DAN SEDEKAH. Tiga tipologi inilah yg paling banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an.
Bahkan, jaminan seorang hamba yg taat ibadah semata mengharapkan ridha-Nya secara istiqamah, ikhlas dan konsisten sangat berpeluang memperoleh rezeki besar tanpa terduga.
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
“Perintahkan keluargamu salat serta bersabarlah atas ibadah itu. Kami tidak meminta rezeki dari kamu. Bahkan, Kami yg akan memberimu rezeki. Itulah ganjaran bagi orang yg bertaqwa.”
Jadi, rezeki itu pada hakikatnya bukan ditentukan oleh seberapa besar semangat mendapatkannya, tapi seberapa besar kebaikan dan ibadah itu kita tingkatkan.
Insya Allah semakin bagus ibadahnya, diiringi dgn ikhtiar mencari rejeki dgn cara yg halal, maka semakin luas dan berkah rezekinya. Yakin saja, dan lihat bukti kenyataannya. Laa ilaha illallah yaqinan billaah.
Rejeki Yang Sempurna
Kita patut bersyukur bahwa Allah Ta’ala dengan sifat Maha kasih-Nya melimpahkan banyak nikmat dan rezeki kepada manusia. Ada banyak macam rezeki seperti harta benda, kesehatan badan dan ruhani, anak yg saleh, teman yg baik. Semua itu adalah rezeki yg wajib disyukuri. Lalu, apa sebenarnya rezeki yg paling sempurna?
Berikut kalam ulama besar kelahiran Mesir, Syeikh Prof Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi (1911-1998 M). Beliau berkata :
المَالُ هُوَ أَدْنَى دَرَجَاتِ الرِّزْقِ
و العَافِيَةُ أَعْلَى دَرَجَاتِ الرِّزْقِ
و صَلَاحُ الأَبْنَاءِ أَفْضَلُ أنْوَاعِ الرِّزْقِ
و رِضَا رَبِّ العَالَمِينَ فَهُوَ تَمَامُ الرِّزْق
Harta adalah rezeki yg paling rendah. Kesehatan adalah rezeki yg paling tinggi. Anak yg shalih adalah rezeki yg paling utama. Sedangkan Ridho Allah adalah rezeki yg sempurna.
Amalan
Berikut Amalan Memperlancar Rejeki Dan Mempermudah Nikah yg di ijazah kan secara aam (umum) kepada kaum muslimin dari Ahbab Maulana Syeikh Yusri Rusydi Al Hasany Syeikh DR. dr. Yusri Rusydi Jabr Alhasani hafidhahullah :
● Menjaga Silaturahmi.
● Birrul Walidain.
● Mencari Penghasilan yang Halal.
● Membaca Ya Fattah Ya Razaq 100x setiap selesai shalat.
● Membaca Surah Alwaqiah, setelah Shalat Sunnah Isya 2 Rakaat.
● Melanzimkan Shalawat Nabi.
Ijazah dari KH Muhammad Syakur Dewa atau Gus Dewa Menjawab (Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid Tampolong Tanjungsari Krejengan Kabupaten Probolingo)
IJAZAH SHALAT DHUHA
Barang siapa shalat Dhuha 4 rakaat :
Rakaat pertama membaca Fatihah 10 kali dan Ayat Kursyi 10kali.
Rakaat kedua membaca Fatihah 10 kali dan Qul yaa ayyuhal kaafiruun 10 kali.
Rakaat ketiga membaca Fatihah 10 kali dan Al Mu’awwidzatain 10kali.
Rakaat ke-empat membaca Fatihah 10 kali dan surat Al Ikhlas 10kali.
Setelah itu membaca wiridan:
Istighfar 70kali.
Subhaanalloh, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illalloohu walloohu akbar, wa laa hawla wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhiim, 70x.
Yaa Sami’ yaa Bashir 313 x (tambahan dari mbah yai Shabib)
Maka Allah Subhanahu wa Ta’laa akan menolak kejelekan penduduk langit dan penduduk bumi, serta mengabulkan 70 keinginannya, baik hajat dunia dan akhirat. (Kitab Khozinatul Asror halaman 30). Amaliah ini istiqamah dilakukan oleh Syaikhina DR KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh, (Rais Am PBNU 1999-2010)
Wallahu A’lam Bish showab
From a variety of sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi khodim JAMA’AH SARINYALA
CHANNEL YOUTUBE SARINYALA

No responses yet