Hidayah memang di tangan Allah dan kewajiban kita sekedar menyampaikan. Dengan tersebarnya ilmu dari orang yg berilmu, maka dgn izin Allah subhanahu wa ta’ala, akan banyak yg memanfaatkan ilmu tsb, dan ketika banyak yg memanfaatkan ilmunya, akan banyak ganjaran dan pahala.

Oleh karena itu hal2 yg berkaitan dgn ilmu, mulai dari menuntut ilmu ,hingga menyebarkan ilmu, termasuk suatu amalan yg sangat besar keutamaan dan ganjarannya. Tidak sepantasnya kita menyia2kan kesempatan ini, bagi yg berilmu.

Pesan Ulama

قال الإمامُ مالكٌ رحمه الله : ”إنّ الله قسم الأعمالَ كما قسم الأرزاق فربَّ رجُلٍ فُتح له في الصلاة ولم يفتُح له في الصوم وآخرُ فُتح له في الصدقةِ ولم يُفتح له في الصوم وآخرُ فُتح له في الجهادِ فنشرُ العلم من أفضلِ أعمال البِرِّ وقد رضيتُ بما فُتحَ لي فيه ارجوا أن يكون كلانا على خيرٍ وبر” .سير النبلاء 8/114

Syaikhul Islam al-Imam Malik ibnu Anas bin Malik bin ‘Amr al-Asbahi atau Imam Malik bin Anas atau Imam Malik rahimahullah (711 – 795 M, Jannatul Baqi’ Madinah) berkata :

“Sesungguhnya Allah telah membagi2 amalan2 hamba, sebagaimana Allah telah membagi2 rezeki mereka. Terkadang, seseorang dimudahkan untuknya dalam melakukan ibadah sholat, namun tidak dimudahkan dalam berpuasa. Sedangkan yg lainnya dimudahkan untuk bersedekah, namun tidak dimudahkan dalam berpuasa.

Ada juga, orang yg dimudahkan baginya dalam berjihad. Adapun menyebarkan ilmu agama termasuk amalan yg paling utama, dan sungguh aku benar2 ridho, dgn apa yg telah Allah mudahkan untuk dalam menyebarkan ilmu. Aku pun berharap masing2 kita berada di atas kebaikan.” (Kitab Siyar a’lam an-Nubala 8/114, karya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah adz-Dzahabi al-Fariqi Asy-Syafii atau Imam Adz-Dzahabi rahimahullah, wafat 3 Februari 1348 M, Damaskus Suriah)

قال ابن المبارك –رحمه الله : لا أعلم بعد النبوة درجة أفضل من بث العلم. تهذيب الكمال .٢٠/١٦

Abu Abdirrahman Abdullah Ibnu Al-Mubarak atau Imam Ibnul Mubarak rahimahullah (726 M Turkmenistan – 797 M, Hit, Irak)
berkata: “Aku tidak mengetahui setelah kenabian, sebuah derajat yg lebih utama dari menyebarkan ilmu.” (Kitab Tahdzibul Kamal Fi Asma’ir Rijal, 16/20, karya al-Hafidz Al-Muhaddits Jamaluddin Abul Hajjaj Yusuf Ibnul Zaki Abdurrahman Ibn Yusuf Ibn Ali Ibn Abdul Malik Ibn Ali Ibn Abi al-Zuhri al-Kalby al-Qadha’i al-Mizzi Asy-Syafi’i atau Imam Jamaluddin Al-Mizzi rahimahullah (1256 – 1341 M / 654 – 742 H Damaskus Suriah).
قال ابن الجوزي رحمه الله : من أحب أن ﻻ ينقطع عمله بعد موته فلينشر العلم. التذكرة .٥٥

Al-Imam Al-Hafidh Abul Faraj Abdurrahman Al-Baghdadi Al-Hambali atau Imam Ibnul Jauzi rahimahullah (wafat 16 Juni 1201M, Bagdad, Irak) berkata: “Barang siapa yg menyukai amalannya tidak terputus setelah dia meninggal, maka hendaknya dia menyebarkan ilmu.” (Kitab at-Tadzkirah fii Ahwal Al Mauta wa Umuur Al Akhirah -55, karya Al-Imam Al-Alim Al-Mufassir Al-Muhaddits Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr Al-Anshari al-Qurthubi Al-Maliki atau Imam Al-Qurthubi rahimahullah (wafat 29 April 1273 M, Mesir)

Jariyah

Diriwayatkan dari Suday ibn ‘Ajlan ibn Wahb atau Abu Umamah Al-Bahili radliyallahu anhu (wafat 700 M, Homs, Suriah), dia berkata, Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

أَرْبَعَةٌ تَجْرِي عَلَيْهِمْ أُجُوْرُهُمْ بَعْدَ الْمَوْتِ: رَجُلٌ مَاتَ مُرَابِطًا فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ عَلَّمَ عِلْمًا، فَأَجْرُهُ يَجْرِي عَلَيْهِ مَا عُمِلَ بِهِ، وَرَجُلٌ أَجْرَى صَدَقَةً فَأَجْرُهَا لَهُ مَا جَرَتْ، وَرَجُلٌ تَرَكَ وَلَدًا صَالِحًا يَدْعُو لَهُ

“Empat orang, yg pahala mereka terus mengalir kepada mereka setelah mati : Seseorang yg mati dalam keadaan bersiap siaga (menghadapi musuh) di jalan Allah, seseorang yg mengajarkan ilmu, maka pahalanya mengalir kepadanya selama ia diamalkan, seseorang yg mengeluarkan sedekah maka pahalanya mengalir kepadanya, selama ia dimanfaatkan, dan seseorang yg meninggalkan anak shalih yg mendoakannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad Bin Hambal, Imam al-Bazzar, Imam ath-Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir dan al-Mu’jam al-Ausath, ia shahih dari hadits beberapa orang sahabat).

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

“Barang siapa yg menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yg mengamalkannya, maka walaupun yg menyampaikan sudah tiada atau meninggal dunia dia akan tetap memperoleh pahala”. (HR. Imam Bukhari rahimahullah).

Tidak harus dengan ucapan

Menyampaikan “ilmu”, tentunya tidak selalu dgn ucapan. Bisa juga dgn perbuatan (tangan atau anggota tubuh lainnya), sehingga bisa diamati dan mudah dilihat. Bahkan, bila disampaikan dgn perbuatan melalui contoh, ilmu akan lebih mudah difahami orang lain. Sebab, manusia bukan hanya diberikan kemampuan menyerap ilmu dgn cara mendengar, tetapi juga melihat langsung cara melakukannya.

Bentuk pengajaran ilmu yg bisa diberikan ada dua macam:

  1. Dengan lisan, seperti mengajarkan, memberi nasehat dan memberikan fatwa.
  2. Dengan perbuatan atau tingkah laku yaitu dgn menjadi qudwah hasanah, memberi contoh kebaikan.

Dari Abu Umamah al-Baahili radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ »

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar2 bershalawat/mendo’akan kebaikan bagi orang yg mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia” (HR. Imam At-Tirmidzi rahimahullah)

Semoga bermanfaat
Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

CHANNEL YOUTUBE SARINYALA
https://youtube.com/channel/UC5jCIZMsF9utJpRVjXRiFlg

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *