Dalam belajar aqidah, selain mempelajari argumentasinya, sudah seharusnya kita pelajari juga hikmah dari aqidah2 tersebut. Agar ilmu aqidah tersebut bisa teraplikasikan dalam kehidupan sehingga lebih menancap di hati dan jadi pola pikir kita.
Seperti mengetahui 20 sifat wajib bagi Gusti Allah beserta dalil-dalil aqli dan naqlinya. Kalo kita resapi, kita jadi selalu sadar keberadaan Dzat-Nya, merasakan sifat-sifat-Nya, memahami hakikat kehidupan, hati dan pikiran selalu terhubung dengan Gusti Allah tiap melihat sesuatu. Puncaknya, kita jadi paham posisi kita sebagai manusia yang berperan sebagai kholifah sekaligus hamba.
Dan untuk mencapai semuanya, pertama tentu ada pakemnya yaitu : harus punya akal yang sehat, berpedoman buku atau kitab yang mu’tabar (terpercaya dan direkomendasikan oleh para ahli), dan yang utama, dipandu oleh guru yang jelas sanad ilmunya, direkomendasikan dan diakui oleh para guru yang lain. Tanpa ketiga pakem itu, terutama guru, maka tidak akan tercapai apa yang jadi tujuan beraqidah.
Kita boleh saja kalo ingin mempelajari aqidah dan berijtihad secara mandiri tanpa guru dan memperoleh tujuan ilmu, tapi harus punya 3 hal yang harus dipenuhi, menurut Imam Ghozali, yaitu :
1. Telah mencapai puncak tertinggi dalam ilmu-ilmu syariat dan diakui sebagai pakar (imam)
2. Bersih dari niat keduniawian secara total, akhlaq yang bagus, sehingga tidak ada jeda sedikitpun untuk mengingat Gusti Allah, semangatnya hanya untuk-Nya, sibuk fisik dan jiwanya di dalam-Nya dan tidak merasa rugi selama mengingat-Nya.
3. Watak kebaikan menurut Gusti Allah sudah mendarah daging dalam diri, menjadi karakter, nalurinya hanya mencintai-Nya, alam pikirnya selalu punya inisiatif dan inovasi untuk mencapai tingkat penghambaan yang totalitas.
Kalo merasa belum punya ketiga hal itu, ya wes, sebagai orang yang berakal, kudu selalu berpedoman pada kitab dan guru yang terpercaya. Agar tercapai tujuan dalam mempelajari ilmu aqidah. Yaitu naluri penghambaan pada Gusti Allah.

No responses yet