Lebaran yang baru saja kita lewati, saya sowan ke beberapa famili. Salah satunya adalah ke adiknya Mbah Jad, Pengkol, Warujayeng, Nganjuk. 

Adik Mbah Jad  ini bernama Kiai Abdul Rouf Faqihuddin (PP. Al Hidayah, Ketegan, Tanggulangin). Saya memancing bertanya kepada Kiai Rouf tentang kakaknya yang baru meninggal, yakni Kiai Mashuruddin Faqihuddin. 

Kiai Rouf mengatakan bahwa kakaknya itu sangat cerdas. Buktinya bisa menghafalkan Alfiyah selama  20 hari. Selain itu, Kiai Mashuruddin yang setelah dari Lirboyo terus mengajar di Gresik dan selanjutnya mengaji kepada  Kiai Jamal, Batokan, Kediri (murid Kiai Hasyim  Asy’ari) juga punya lelakon yang unik, yakni selain tidak menikah (sama dengan Mbah Jad), juga pilih tinggal di masjid di daerah Kediri.

Kata adik perempuan Mbah Jad yang juga saya sowani, di masjid Kediri ini silih berganti santri senior Lirboyo yang mengaji kepadanya. Kiai Mashuruddin yang ahli Falak (dan juga Faraid) ini baru pulang ke Pengkol setelah mau wafat.

Adik perempuan Mbah Jad yang tinggal di rumah kasepuhan (tempat orang tuanya dulu tinggal) mengatakan bahwa Kiai Mashuruddin adalah ahli berceramah, tapi di masa tuanya tidak mau berceramah dan jarang ngomong, bahkan bila sedang mengunjungi familinya, lebih banyak diam, dan setelah itu langsung pulang.

Saya menjadi teringat dengan famili saya yang juga jelang wafatnya topo mbisu (tidak mau ngomong). Famili saya ini  pendekar pilih tanding di masanya dan ahli tirakat serta dikaruniai Alllah kekayaan yang berlimpah berkat usaha warungnya. Beliau  punya lelakon sekitar tiga tahunan jelang wafat malah topo mbisu. Kalau ada tamu tertentu akan ditemui tapi beliau diam. Kalau tamu mau pulang, kadang malah digandoli dan disuruh duduk lagi, tapi tidak diajak bicara. 

Lelakon diam ini menjadikan saya merenung dan teringat dengan sang guru diri yang sekian tahun lalu mengatakan bahwa penceramah itu harus hati-hati dan bisa dititeni karena saking sering berceramah hingga kadang sedikit berbohong tidak terasa, dan lama-lama menjadi biasa. Hal yang lebih berat lagi sering menasehati orang lain tapi lupa menata dirinya. Tentu harus dicatat tidak semua penceramah demikian.

Kalau teringat hal di atas, saya dalam hati memohon semoga anak didik saya tidak menjadi penceramah, bila menjadi penceramah, semoga menjadi  penceramah yang bisa menjaga diri dan mampu menjaga hatinya.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *