Menjaga kesucian, dalam derajat lebih tinggi, bisa dipahami sebagai menjaga kesucian hati dari akhlaq buruk. Seperti buah, dalam thoharoh, Imam Ghozali membaginya dalam tiga elemen yang harus dicapai :
1. Al Qisyrul Khorij, sucinya elemen terluar (kulit), yaitu sucinya pakaian dan ruangan.
2. Al Qisyrul Qorib, sucinya elemen perantara (daging buah), yaitu sucinya badan dari hadats dan najis.
3. Al Lubbul Bathin, yaitu sucinya aspek ruhaniah (biji), yaitu hati yang dibersihkan dari akhlaq buruk dan dipenuhi akhlaq baik.
Tujuan akhir dari thoharoh itu sebenarnya elemen ketiga, yaitu Al Lubbul Bathin. Maka kita gak bisa mencapai biji tanpa membereskan kulit dan buahnya dulu. Atau kalau kita membuang biji, maka kita gak dapet inti dari thoharoh, kebaikan pun gak berkembang biak.
Karena sebenarnya ada hikmah-hikmah kenapa Gusti Allah menentukan secara khusus syariat tata cara bersuci ini. Misal kenapa anggota tubuh tertentu saja yang dibasuh dalam wudhu?
Menurut Mbah Sholeh Darat Semarang, hal-hal yang membuat kita harus wudhu (pipis, BAB, kentut, tidur, telapak menyentuh kelamin dan menyentuh kulit lawan jenis) adalah akibat dari kenakalan anggota wudhu.
Misal saat WAJAH kita melihat makanan dan minuman, sehingga muncul nafsu dan otak kita yang ada di KEPALA memerintahkan diri untuk melangkahkan KAKI menuju makanan dan minuman tersebut, lalu memacu TANGAN kita mengambilnya dan menyuapkannya ke mulut. Makanan minuman ini yang bikin kita jadi pingin pipis, BAB, kentut, tidur karena kekenyangan. Artinya semua anggota wudhulah yang bikin kita berhadats dan mengeluarkan najis. Maka anggota wudhu itulah yang harus dibersihkan lewat wudhu untuk membersihkan jejak nafsu yang bikin kita punya kotoran.
Lebih dalam lagi, anggota wudhu itulah yang paling bertanggung jawab atas berpalingnya hati dari Gusti Allah dan bikin hati dipenuhi nafsu dunia sehingga hatinya kotor. Seperti contoh di atas, hati berpaling dari Gusti Allah dan jadi kepikiran makanan dan minuman.
Kalau kita merasakan hikmah tersebut, kita akan merasa kagum. Bahwa Gusti Allah benar-benar mendesain syariat-Nya sedemikian dalam dan kompleks, sebagai wujud rohmat dan pertolongan-Nya. Gak asal bikin sembarangan. Kekaguman itu yang nantinya bikin kita ingin menghamba pada Gusti Allah, menjalankan syariat-Nya dengan senang, menjauhi akhlaq buruk dan memenuhi hati dengan akhlaq baik.

No responses yet