Oleh: Lativa Nur Hidayah
Komunikasi merupakan bentuk dari kehidupan manusia. Kegiatan komunikasi ini menjadi suatu kedisiplinan ilmu yang di pelajari secara spesifik. Dalam islam, komunikasi merupakan aktivitas dakwah yang menyampaikan kebenarannya meskipun hanya satu ayat. Allah SWT berfirman dalam Q.S Al Baqarah ayat 2, yang artinya “Dan berkatalah kamu kepada semua manusia dengan cara yang baik”
Saat melakukan komunikasi, tentu tidak lepas pada proses komunikasi. Menurut Atep Aditya Barata proses komunikasi dilakukan dengan sebaik mungkin agar pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh penerima dengan metode penyampaian yang efektf dan komunikasi tersebut dapat tercapai. Hal ini dapat dilakukan komunikasi dalam keluarga. Dalam keluarga terdapat dua komponen yaitu orang tua dan anak. Orang tua merupakan pendidik pertama bagi anak-anaknya, maka dari itulah orang tua harus menciptakan komunikasi yang baik bagi anak-anak mereka.
Al Qur’an merupakan ajaran atau sumber utama bagi umat islam. Banyak sekali ayat Al Qur’an yang membahas komunikasi di dalamnya. Contohnya komunikasi antara Nabi Ibrahim AS dengan anaknya Nabi Ismail AS. Dalam kehidupan masa sekarang ini, kita perlu mencontoh bagaimana terciptanya komunikasi yang baik seperti nabi Ibrahim dengan ismail agar anak dapat menumbuhkan rasa percaya dirinya dan membantu perkembangan anak dengan menghasilkan perilaku yang baik.
Dalam Al Qur’an surat as shaffat ayat 99-113 dikisahkan bagaimana Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah SWT, untuk menyembelih Ismail. Lalu Ibrahim mendatangi anaknya dan menceritakan mimpi tersebut, “Wahai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”. Dengan di akhiri pertanyaan ‘bagaimana pendapatmu?’ Ibrahim memberikan peluang agar anaknya dapat memberikan tanggapan atas mimpinya tersebut.
Percakapan ini merupakan etika komunikasi digunakan sang ayah kepada anaknya. Beliau menceritakan bagaimana perintah itu terjadi tidak memeritah secara langsung atas keinginannya sendiri. Tentu ini merupakan bentuk perintah yang tidak harus dengan kata-kata perintah. Dan contoh komunikasi tersebut dapat kita pratekan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan jawaban ismail yang diluar dugaan, ia menjawab “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Q. S As shaffat:102). Jika saja Ismail bukan manusia pilihan mungkin saja jawabannya akan berbeda. Ismail juga paham betul bagaimana perintah Allah SWT, dalam mimpi ayahnya. Maka ia berkata kepada ayahnya agar ia melakukan apa yang sudah allah perintahkan.
Tentu ini merupakan ujian bagi nabi Ibrahim, yang dimana beliau memohon kepada Allah agar dikaruniai seorang anak selama bertahun-tahun. Allah SWT, berfirman “Sesungguhnya ini suatu ujian yang nyata” (Q. S As shaffat:106). Lalu Allah SWT, menggantikan Ismail dengan seekor sembelihan yang besar.
Dalam akhir ayatnya Allah SWT, juga memberikan pujian kepada nabi Ibrahim. Allah SWT, mengatakan salamun ‘ala Ibrahim yang artinya kesejahteraan dilimpahkan pada Ibrahim (Q.S as shaffat: 109).
Komunikasi yang baik akan mendapatkan dampak yang baik pula. Tercermin dari komunikasi Ibrahim dan Ismail ini. Percakapan tersebut tidak hanya dilakukan dalam mendidik anak, tetapi dapat pula kita sematkan kepada atasan, bos atau lain sebagainya agar kita juga mendapatkan hasil yang maksimal.

No responses yet