Akhir tahun lalu saya berbincang tentang kenapa “semangat anti China” begitu mudah tumbuh di kalangan masyarakat, terutama para pendukung khilafah. Padahal salah satu komponen penyebar agama Islam di era madya  beberapa diantaranya adalah para pendakwa keturunan China. Salah satu yang masih populer adalah Cheng Ho, yang namanya banyak dijadikan nama masjid. 

Proses stigmatisasi negatif secara  “Kultural” dan  “ideologis” kepada keturunan China memang sudah berlangsung sangat lama. Bahkan sejak munculnya kerajaan Mataram Islam yang kemudian diperparah dengan kehadiran VOC yang menjadikan para saudagar China sebagai pesaing dan penghalang bisnis mereka. Di sisi lain penghapusan jejak peran penting orang China dalam sejarah kebangunan bangsa Nusantara juga dilakukan secara sistematis. Akibatnya benih anti China semakin lama semakin mengerucut menjadi kebencian etnis. Bahkan begitu kuatnya spirit anti China tersebut sampai membuat warga keturunan  yang memiliki ikatan kultural dan bahkan ikatan emosional (karena kesamaan keyakinan) menjadi “termarjinalkan” secara sosial. Itulah kenapa mereka akhirnya enggan bergabung dalam organisasi keagamaan dan mendirikan sendiri organisasi dan yayasan yang bersifat eksklusif. 

Fenomena ini terus berlangsung hingga saat ini. Beruntung sekali ada beberapa tokoh masyarakat dari keturunan China yang terus mau menyambung dan menghidupkan aspek kultural nenek moyang mereka yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Nusantara. Meskipun tetap saja ada kecurigaan yang terus dipupuk dan didengungkan oleh para penganut ideologi diskriminatif baik yang berbasis agama ataupun liberal. Lebih mengkhawatirkan lagi sekarang proses yang hampir mirip tengah terjadi pada keturunan Arab. Artinya ke depan entah berapa tahun lagi, fenomena anti China ini akan juga dialami oleh keturunan Arab jika stigma-stigma negatif terhadap keturunan Arab  terus didengungkan oleh mereka yang tidak suka dengan kelompok khilafah dan salafi Wahabi yang terus menerus menjelekkan identitas kultural bangsa Indonesia. Apakah harus menunggu datangnya “kolonialis” baru yang akan mempertegas benih perpecahan  yang memang sudah ada benihnya, yang sengaja dirawat sejak era kolonial lalu.  #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *