Categories:

Adakah marah itu baik? Apa baiknya?. 

Marah itu selalu membuat luka. Perih. Bahkan tidak sedikit yang berakhir pada penganiayaan dan pembunuhan. Marah itu bara, yang siap melahap siapa pun yang berada di sekitar api amarah. 

Gara-gara luapan amarah. Orang tua membunuh anaknya. Suami menceraikan istrinya. Anak-anak memukul orang tuanya. Saudara dihabisi. Tetangga dilukai. Marah, selalu berakhir dalam jurang penyesalan.

Amarah yang membuncah, buta segala arah, akan merusak  tanpa terarah, yang akhirnya dia hanya dapat menyesali apa yang telah berdarah. 

******

Dalam vedio ini, seorang bapak yang minta dibukakan pintu pada sesiapa yang ada di dalam rumah. Ia mengetuk pintu, mungkin beberapa kali. Tapi, tak ada respon, atau mungkin sang penghuni rumah tidak mendengar. Sang bapak marah besar. Ia kembali ke dalam mobilnya dengan mesin yang masih menyala. 

Seorang anak perempuan dengan riang gembira mendatangi pintu, untuk membukanya. Ia sangat ceria, mungkin karena bapaknya datang, ia seakan-akan menyambutnya dengan penuh cita. 

Apa yang terjadi?!. tanpa sepengetahuan sang bapak, anak menyambutnya. Sedangkan bapak yang ada dalam mobil itu amarahnya sudah tidak terkendali gegara pintu belum dibuka. Bapak itu menabrak pintu gerbang dengan mobilnya. Brak.. brak..pintu gerbang itu pun lepas. Di balik pintu, ternyata anaknya lagi membuka gerbang, tapi terlambat, ia terpental, jatuh, hampir saja terlindas….takdir masih berbicara lain. Anak itu selamat.

Amarah. Seandainya takdir berbicara lain. Sang bapak dengan amarah yang membara, akan menyesalinya seumur hidupnya. Ia akan dituduh bapal membunuh anaknya.

Gegara marah. Gegara kurang sabar. Coba sebantar saja menghela nafas. Sambil menenangkan diri. Berdzikir. Atau duduk santai, sambil ngopi. Mungkin tidak akan terjadi. Tetapi, penyesalan tidak ada di awal, pintu sudah lepas, anak penuh luka. Ia hanya bisa menyesal.

La taghdab…la taghdab..walakal jannah!!!

Jangan marah, Nabi mengulang beberapa kali, maka bagimu surga.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِيْ ، قَالَ :  لَا تَغْضَبْ!!. فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ :لَا تَغْضَبْ!!!.

Ada seorang laki-laki minta wasiat kepada Nabi Shallahu alaihi wassalam : “Berilah aku wasiat ya Rasul”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri].

Marah terkadang tidak mudah dikendalikan. Maka, butuh belajar untuk menahannya, dan belajar untuk bersabar.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *