Khusyuk dalam sholat itu menghadirkan hati saat membaca bacaan sholat. Bisa hadir hatinya kalo memahami dan meresapi makna yang di baca. Kalo bisa, di semua bacaan sholat, kita hadirkan hati. Sehingga sholatnya khusyuk semua. Tapi ya susah banget.
Tapi tenang, mbah. Kalo gak bisa di semua bacaan, minimal kita usahakan hadirkan hati di tiga tempat :
1. Saat membaca doa iftitah di bagian “Inni wajjahtu wajhiya”
2. Saat membaca surat Al Faatihah, terutama ayat “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin”
3. Saat membaca tahiyat, terutama bagian “Assalaamu ‘alaika ayyuhannabiiyu warohmatullahi wa barokaatuhu”
Nah, kita coba bedah makna bacaan di tiga tempat ini berdasarkan dawuh para ulama. Terutama saya mengambil sumber dari kitabnya Mbah Sholeh Darat yaitu Lathoiful Isyarot Wa Asrorus Sholah.
1. Dalam bacaan iftitah di bagian
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ
“Sesungguhnya aku benar-benar menghadapkan wajahku”
Saat sholat, secara lahiriyah kita menghadapkan diri pada kiblatnya sholat yaitu Ka’bah. Tapi pada hakikatnya, kita menghadapkan tubuh dan hati kita kepada Gusti Allah. Namun bukan berarti Gusti Allah ada dalam ka’bah. Kita menghadap ka’bah karena itu perintah Gusti Allah.
Sebagaimana para malaikat pernah disuruh sujud kepada Nabi Adam dan para malaikat patuh. Ini bukan berarti Gusti Allah ada dalam Nabi Adam atau Nabi Adam itu tuhan baru. Bukan gitu konsepnya. Tapi malaikat sujud pada Nabi Adam karena takut, hormat dan hanya menuruti perintah Sang Pemberi Perintah, yaitu Gusti Allah. Kepatuhannya pada Gusti Allah mengalahkan logika. Jadilah malaikat itu benar-benar hamba yang patuh.
Hanya iblis yang menolak perintah Gusti Allah karena memandang dzat yang jadi obyek perintah, yaitu Nabi Adam. Iblis lupa siapa yang memberi perintah. Iblis menakar perintah Gusti Allah dengan logika lahiriyah sehingga muncul kesombongan. Maka jadilah iblis itu dicap durhaka dan dilaknat karena kesombongannya itu.
Begitulah konsep saat kita menghadapkan diri kita ke arah kiblat. Bukan berarti kita menyembah ka’bah. Tapi hal itu dalam rangka menuruti perintah Gusti Allah. Karena menuruti perintah Gusti Allah inilah, kita bisa disebut hamba Gusti Allah.
Karena yang namanya hamba (budak), kalo disuruh Sang Juragan ngalor ya ngalor, ngidul ya ngidul, nyemplung sumur ya nyemplung sumur gak pake mikir. Itu baru hamba sejati.
Sehingga saat mulut membaca bacaan “inni wajjahtu..dst,”, kita maknai dalam hati, bahwa “Ya Allah, saya menuruti perintah-Mu untuk menghadapkan diri kemanapun Engkau perintahkan untuk menghadap, sebagai bukti bahwa saya meletakkan logika (sumeleh) di hadapan Kuasa-Mu, mengaku lemah di hadapan-Mu dan menyatakan diri sebagai hamba-Mu, semoga Engkau berkenan menerima saya sebagai hamba-Mu”
Mugi manfaat.
#AyoNyarkub #ArbainFiUshuliddin #ImamGhozali

No responses yet