Mythomania adalah kebiasaan seseorang yg terus berbohong. Orang dgn mythomania, cenderung menciptakan dongeng, untuk diceritakan terus menerus kepada orang lain, sampai ia pun percaya akan kebohongannya sendiri. Ini seperti kemampuan untuk berbohong dalam perilaku dan rutinitas sehari2.

Mythomania merupakan suatu kebiasaan seseorang untuk berbohong, demi mendapat perhatian lebih, akan situasi atau masalah yg dihadapi. Kondisi ini dibawa oleh kebiasaan pribadi yg secara segaja dan tanpa disadari, dapat merugikan orang lain, bila mereka percaya pada situasi yg tengah dibahas dan dikatakan oleh seseorang. 

Mengutip pernyataan para ahli dari instituto mexicano social, mereka mengatakan bahwa mythomania terjadi, karena harga diri penderita yg rendah. Sehingga, dgn membuat kebohongan tsb, penderita akan mendapat perhatian yg lebih dari orang sekitar. Tentu tujuannya bukan untuk menipu, tapi untuk mendapat pujian.

Perhatian khusus mendapatkan pujian, yg diharapkan oleh penderita mythomania, cenderung mempermudah mereka bersosialisasi dgn orang banyak, tetapi dgn kebohongan yg berlebihan.

Demi sebuah kata sakral “pengakuan”, seseorang rela menyembunyikan identitas dirinya, kemudian mengemasnya dengan baju anomali yang indah. Penyakit ini sudah mulai menjangkiti banyak sisi kehidupannya.

Kebohongan2 yg dilakukan olehnya cenderung di luar kesadaran, yg artinya adalah dia tidak tahu/tidak sadar bahwa orang lain akan merasa terganggu dgn kebohongannya, karena yg terpenting baginya adalah dirinya mendapat pengakuan oleh sekelilingnya, pengakuan terhadap ‘kenyataan’ yg ingin ia wujudkan demi melarikan dirinya dari kenyataan sebenarnya yg tidak mau ia terima, dgn tanpa rasa menderita ataupun perasaan bersalah.

Cara berbohong mereka bertujuan hanya untuk ‘keluar’ dari masalah yg dihadapi tanpa dipandang buruk oleh orang2 sekitarnya. Tetapi sayangnya, kondisi ini malah membuat mereka menjadi terbiasa akan kebohongan, sehingga mudah sekali membesar2kan sesuatu, untuk mendapatkan rasa simpatik dari orang2 sekitarnya.

Penderita mythomania, meyakinkan diri sendiri tanpa tujuan untuk menipu orang lain, karena ketidaksadarannya mengelabui atau membesar2kan kenyataan yg sebenarnya telah terjadi sebaliknya. Kondisi kehidupan yg berkebalikan dgn pernyataan dan informasi yg keluar dari mulutnya, perlu disinkronisasikan, sehingga mereka dapat memahami apa arti kebenaran yg sebaiknya diucapkan. 

Penyakit mythomania dibagi menjadi 2 yaitu ringan dan berat. Pada mythomania ringan, penderita melakukan kebohongan hanya untuk mencari perhatian dari orang2 sekitar. Sedangkan pada mythomania berat, penderita memang sudah mengalami gangguan mental, memilikis sifat narsis yg hanya mementingkan penampilan atau dirinya saja.

Selain itu penderita mythomania ini mempercayai kebohongan yg ia buat sendiri. Penderita sering tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang berbohong. Ini yg membahayakan dirinya sendiri.

Kebohongan yg ditanam terlalu lama dan sifat melebih2kan masalah, melebih2kan kebesaran dirinya, melebih2kan yg dimilikinya, tentu merugikan pihak orang lain dan diri mereka sendiri. Jika salah, selalu merasa benar. Jika ada orang lain di atas dirinya dianggap suatu ancaman. Padahal, merasakan kenyataan tidak akan merampas hidup mereka, sehingga dgn menceritakan apa adanya bahkan lebih baik, daripada kerap membohongi keadaan, hanya untuk mendapatkan simpatik orang lain.

Mythomania bukanlah sebuah penyakit, tetapi merupakan serangkaian gejala penyakit kejiwaan berbeda, terutama pada gangguan kepribadian.

Kita mungkin menemukan orang2 yg suka membohong. Namun, jangan buru2 memberi label mythomania. Orang mungkin berbohong karena punya tujuan tertentu, misalnya melindungi atau mempertahankan dirinya dari sesuatu atau seseorang, juga selalu ada alasan mengapa orang tsb berbohong.

Mythomaniac sendiri sebenarnya adalah korban. Ia korban dari ketidakbahagiaan dalam hidupnya dan korban dari penderitaan yg terlalu terus menerus. Ia tidak mampu mengekspresikan keaslian dirinya, sehingga selalu ingin bersembunyi dibalik banyak topeng.

Adapun penyebab mythomania antara lain karena kegagalan dalam hidup seperti urusan keluarga, masalah keluarganya, sekolah, masalah kuliah, pertemanan, pekerjaan, rendahnya harga diri, adanya ketidakpuasan, butuh kasih sayang dan cinta, tidak diterima di lingkungan sosial, hingga memiliki perilaku ambivalen yg diciptakan, padahal tak sesuai dgn kehidupan orang itu sendiri.

Mengobati mythomania sebenarnya tergantung pada seberapa parah kondisinya. Ini adalah pekerjaan jangka menengah dan panjang, karena harus mengubah persepsi mengenai realitas. Kesabaran, kasih sayang dan keuletan merupakan bahan dasar bagi mereka yg ingin membantu orang mythomania.

Semoga bermanfaat

Variety of references by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi  Khodim Jamaah Sarinyala Gresik 

CHANNEL YOUTUBE SARINYALA

https://youtube.com/channel/UC5jCIZMsF9utJpRVjXRiFlg

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *