Laki-laki sejak awal memang sudah “menang”. Paling tidak dia diciptakan lebih dahulu dari perempuan. Bahkan karena “keyakinan”  inilah muncul konsep bahwa perempuan diciptakan untuk menyempurnakan laki-laki. Ingat kata “menyempurnakan” sering disalahartikan sebagai komplemen dari bentuk yang sudah “sempurna”. Akibatnya yang berkembang adalah budaya “laki-laki”, sedangkan perempuan dianggap “tidak ada”. Bahkan seorang dokter yang juga ahli jiwa dan konsultan keluarga menyatakan yang paling menentukan jenis kelamin seorang anak adalah laki-laki. Dia berujar seolah perempuan hanya berperan pasif saja. Dia menafsirkan ini hanya dari fakta bahwa kromosom perempuan yang xx sedangkan laki-laki xy. Lain waktu kita akan diskusikan soal tafsir aneh ini kawan. Saat ini saya hanya pingin bicara perihal relasi dalam keluarga. 

Dalam aliran konstruktivis, relasi dalam keluarga dibangun atas banyak faktor. Baik yang bersifat material, sosial, dan spiritual. Faktor material kuat kaitannya dengan modal ekonomi. Faktor sosial terkait dengan kondisi status sosial dan psikologis.  Sedangkan fakta spiritual itu terkait dengan kesadaran rasa bathin beyond humanity. Masyarakat awam sering menjadikan agama sebagai bagian dari yang ketiga ini. Karena itu banyak sekali ketidakrasionalan  dalam model masyarakat yang terdoktrin dengan keyakinan spiritual. Meskipun sebenarnya ketiga hal tersebut tersebut nggak mungkin dipisahkan layaknya jasad, akal pikiran serta rasa ruhani. Tapi seringkali untuk memudahkan “terapi” kita memilah ketiganya sebagai  kutub-kutub ekstrim. Ini juga pemilahan yang aneh juga, tapi begitulah manusiai biasa melakukan. Bahasa lainnya ada gejala fisik, gejala psikis dan gejala spiritual. Kalau mengalami masalah obatnya bisa beda-beda seolah ketiganya  tidak berhubungan. 

Dalam nuansa laki-laki sebagai yang pertama ada, disusul kemudian perempuan. Maka muncullah “keyakinan” laki-laki lebih sempurna secara fisik, akal dan spiritual dari perempuan. Entah bagaimana nalar ini menjadi sangat terinternalisasi begitu dalam sehingga sampai sekarang masih saja bertahan kuat dalam masyarakat yang sangat terdidik sekalipun. Saya pernah mendengar seorang aktivis gender klas “internasional” berujar banyak lelaki yang terlihat berpikiran terbuka atau inklusif dan  punya kesadaran gender dalam karya-karyanya. Ternyata praktik dalam keluarganya berbeda 180 derajat. Mereka tetap menindas dan tidak memuliakan pasangan atau istrinya. #Bersambung #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *