ijazah ini disaksikan oleh kiai baidlowi, kiai ma’shum dan kiai fathurrahman  dari lasem

Tiga ijazah doa ini yang pertama disebut dengan “Lembu Sekilan” yang dimulai dengan “…اللهم اني اعوذبك”. Doa kedua disebut dengan “Asma’ Pager Awak” yang  dimulai dengan redaksi “…الله حفيظ”. Ketiga disebut dengan “doa lilhifdzi wal hirasah” yang dimulai dimulai dengan “….لقد جاء “.

Hal yang menarik adalah tiga doa yang terpisah kaifiyahnya ini kami temukan dalam catatan rapi Kiai Bisri Musthofa. Kakek dari Gus Menteri yang sudah tidak beredar catatannya.

Kami juga menemukan tiga doa tersebut dalam tulisan tangan rapi dari Kiai Faiq Hasyim (adik Kiai Fattah Hasyim). Namun Kiai Faiq tidak menyebut sebagai lembu Sekilan, Pager Awak  dan doa lilhifdzi wal hirasah, tapi beliau menjelaskan kepada saya bahwa tiga doa  yang dirangkai oleh Mbah Wahab dengan ayat-ayat serta sholawat Nuridzati sebagai doa penolak marabahaya besar. Saya membayangkan doa itu digunakan sewaktu perang dan tahun 1965.  

Entah apakah saat ini bisa disebut sedang ada bahaya besar. Santri-santri tidak mewiridkan doa itu. Saya sendiri kalau berdoa hanya meminta kepada Allah kalau rakyat Indonesia ada yang sakit (sakit apapun), semoga disembuhkan, kalau ekonomi sulit, semoga ada jalan keluar. Masalah dikabulkan adalah urusan Allah.

***

Ada sisi lain yang juga menarik, saya pernah bertemu mantan pendekar yang sekarang beralih  “nyufi” berkisah yang ada relasinya dengan doa lembu sekilan.

Sang pendekar saat muda mendapatkan ijazah doa lembu sekilan dari gurunya yang setelah disampaikan ke saya, redaksinya ternyata sama dengan yang saya tulis di atas. Beliau menjelaskan kalau lembu sekilan di atas memang doa spesialis untuk lembu sekilan, berbeda dengan laqodja yang memang kadang disebut dengan lembu sekilan, tapi aslinya doa berfungsi umum. Keterangan pendekar ini sama dengan yang dikatakan Mbah Wahab sebagaimana ditulis oleh Kiai Bisri Musthofa bahwa laqodja adalah doa lilhifdzi wal hirasah.

Saat saya sampaikan kepada sang pendekar,  “Mbah  Wahab punya doa lembu sekilan yang redaksinya sama dengan yang anda miliki.” Sontak sang pendekar gembira banget sampai dia bilang bulu-bulu tangannya berdiri.

Selanjutnya  dia berkata, “Kalau tahu doa itu sambungannya dengan para kiai besar, pasti akan saya istiqomahkan, tapi karena saya tidak tahu, maka  karena ilmu lembu sekilan saya anggap cocok saat muda saja, maka saat ini  tidak diistiqomahkan.”

Masih saya tambahi bahwa tiga doa itu didapat Mbah Kiai Wahab dari Kiai Mahfudz Termas dari Kiai Syamsul Arifin (Situbondo) dari Syaikh Yusuf Annabhani. Sang pendekar malah terkagum. 

Lalu sang pendekar berkata, pantas saja ilmu lembu sekilan ini dulu sangat hebat berdasar pengalamanya. Ketika muda, saat sang pendekar selesai puasa pernah dites gurunya dengan dilempar sandal dalam posisi membelakangi. Di lempar beberapa sandal tidak kena, Lalu dilempar pisau juga tidak kena, hanya  menancap di tembok. Tahu yang dilemparkan pisau, sang pendekar muda ini langsung berteriak agar dihentikan, masih ada rasa kahwatir.

Pernah juga waktu muda sang pendekar guyon dengan tetangga, tapi akhirnya tetangga marah. Di situ ada satu baskom air (panas?) ditumpahkan ke sang pendekar. Herannya airnya hanya kena sekeliling pendekar tanpa  menyentuh bajunya.

Beliau juga menuturkan fungsi lembu sekilan dari doa di atas kalau meleset bisa menjadi ilmu kebal kayak welut putih. Ada kejadian di di Mayang, Jember. Suatu saat sang pendekar berkumpul melatih pencak. Tanpa disangka kayak adegan di film, ada seseorang berkelebat  dengan dua pedang melompati anak buah pendekar dengan ilmu meringankan tubuh dan langsung membabat sang pendekar. Tentu sang pendekar kaget sekali dan tidak menyangka ada orang usil. Untungnya walau pedang kena tubuhnya, tapi badannya tidak apa-apa. Tahu badannya tidak terluka, sang pendekar punya nyali tambah, dihajarlah sang peringan tubuh yang membawa dua pedang.

Sang pendekar juga bercerita bila doa lembu sekilan ini dicampur dengan jurus Ya Hafid bisa punya punya fungsi lain. Saat mengembara di Banyuwangi andalan untuk menolak santet dengan doa ini. Pun lembu sekilan bila dikombinasi dengan jurus Ya Hafid  bisa untuk menutup pandangan orang lain atas suatu lokasi. Bahkan juga bisa untuk ngentas ikan di tambak dan menjatuhkan burung.

Sang pendekar memungkasi. Beliau punya teman seperguruan  yang juga mengamalkan doa  di atas. Sang pendekar melihat dengan  mata kepala sendiri teman seperguruan ini  membedah perut  seseorang dengan jarinya. Di dalam perut pasien ada neonnya, santet. Kalau sekarang, operasi tinggal ke RS. Tapi kalau kena santet ya entah lagi.

Untuk para kiai yang disebut lahumul Fatihah 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *