ghuluw atau berlebihan adalah istilah teknis untuk mengilustrasikan sikap berlebihan dalam beragama semacam mabuk karena tidak menggunakan akal waras.

Shalat lah di rumah ! salah satu tambahan lafadz adzan saat hujan lebat mendera. 

*^^^^*

Pesona Rasulullah saw sungguh luar biasa — dia mencintai sesama terlebih umatnya. Sebuah karakter kepribadian yang humanis dan penyayang. Agama itu mudah jangan diperberat. Bila ada dua pilihan sulit, maka pilih yang paling ringan sepanjang tidak melawan syar’i. 

Kesahajaan Rasulullah saw kadang membuat tak sabar sebagian umatnya yang inginnya beragama dengan teramat serius dan mengamalkan yang berat berat. Ada yang ingin membujang tidak menikah ada yang ingin shalat sepanjang malam tidak tidur dan ada yang ingin puasa sepanjang umur—-

Suka kah Rasulullah dengan kehendak sahabat nya itu ? Kemudian Rasulullah saw berkata untuk menepis ghuluw atau berlebihan tepatnya mabuk : aku tidak membujang tapi menikah. Aku shalat malam juga tidur. Aku puasa san berbuka’. 

*^^^**

Dua peristiwa penting pada masa Rasulullah saw tentang dua sikap berlawanan meski bersumber pada hukum syar’i tapi dengan pemahaman yang jauh beda-

Pertama:

“Aku bermimpi “basah” pada satu malam yang dingin dalam peristiwa perang Dzât as-Salâsil, lalu aku khawatir akan binasa bila mandi. Oleh karena itu aku bertayammum. Kemudian aku shalat mengimamai para sahabatku shalat Shubuh. Lalu mereka menceritakan peristiwa ini kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Wahai ‘Amru, benarkan kamu shalat mengimami para sahabatmu dalam keadaan junub ?” Lalu aku menceritakan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang menghalangiku mandi dan aku katakan bahwa aku mendengar Allâh Azza wa Jalla berfirman : ‘Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allâh adalah Maha Penyayang kepadamu. (an-Nisâ’: 4:29).  

Lalu Rasûlullâh tertawa dan tidak mengucapkan sesuatu. 

Kedua:

Dari Jâbir Radhiyallahu anhu , beliau berkata, “Kami berangkat dalam satu perjalanan lalu seorang dari kami tertimpa batu dan melukai kepalanya. Kemudian orang itu mimpi “basah”  lalu ia bertanya kepada para sahabatnya, ‘Apakah kalian mendapatkan keringanan bagiku untuk tayammum ?” Mereka menjawab, “Kami memandang kamu tidak mendapatkan keringanan karena kamu mampu menggunakan air.”

Lalu ia mandi kemudian meninggal. Ketika kami sampai dihadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, peristiwa tersebut diceritakan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau bersabda, “Mereka telah membunuhnya. Semoga Allâh membalas mereka. Tidakkah mereka bertanya jika tidak mengetahui ? Karena obat dari tidak tahu adalah bertanya. Sesungguhnya dia cukup bertayammum. 

*^^^*

Ada sebagian yang merasa tak cukup dengan apa yang ada kemudian mencari sesuatu yang berat mungkin semacam sensasi agar terlihat saleh di mata publik.

Ash sholaatu fi rihalikum

atau fi buyutikum tak selalu bermakna shalat jamaah harus di masjid jika shalat jamaah di rumah ternyata lebih maslahat. Bukan menafikkan perintah memakmurkan masjid jika keadaan darurat karena hujan atau angin dikawatirkan mengancam jiwa. Maka shalat jamaah di rumah bersama akan lebih maslahat. 

Tapi setiap kita punya cara pandang yang berbeda : takmir masjid pimpinan ranting cabang daerah wilayah hingga pusat pasti punya daya jangkau berbeda —- sebab keluasan pandangan akan berbanding lurus dengan ke-‘aliman setiap orang. 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *