Oleh: Helmi Hazir (Mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta)
Pro dan Kontra, keduanya tidak dapat dipisahkan begitu saja, apalagi yang berhubungan dengan manusia. Yang mana keduanya merupakan baggian dari kehidupan (min lawazim al-hayat) manusia. Maka tidak heran jika sebagian pakar menyebut sejarah manusia adalah sejarah Pro dan Kontra. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan dibiarkan begitu saja dari segala upaya untuk mengelola dan meredamnya. Maka tulisan ini mencoba menggali spirit dalam mengelola dan meredam konflik dari sudut pandang Al-Qur’an dan As-Sunnah
Al-Qur’an memberikan spirit dalam menginspirasi serta memotivasi seseorang untuk mewujudkan resolusi Pro dan Kontra menuju perdamaian.
- Melakukan tabayyun(memberikan deskripsi yang akurat). Dalam hal ini adalah langkah awal upaya mencari kebenaran dan klarifikasi atas sebuah informasi, apalagi informasi yang keadaannya masih samar-samar tentang kejelasannya, sehingga dapat menimbulkan fitnah. Hal ini disebutkan juga dalam Al-Qur’an untuk menguji kebenaran informasi dari seseorang (Q.S. Al-Hujurat:6).
- Melakukan tahkim(menyerahkan keputusan dan menerima keputusan). Dalam hal ini upaya tahkim dilakukan sebagai salah satu cara mendamaikan kedua belah pihak yang sedang berkonflik dan mendatangkan seseorang sebagai juru damai, seperti yang dikatakan dalam Q.S. An-Nisa:35. Sebagai catatan seorang juru damai harus berdiri ditengah. Maksudnya, bersikap netral dan berupaya kepada salah satu pihak yang tengah berkonflik. Ia diharuskan mendorong dan mengondisikan kedua belah pihak tersebut kearah perdamaian.
- Melakukan musyawarah. Upaya ini digunakan agar memecahkan suatu konflik dengan mengambil keputusan bersama. Dalam hal ini sangan penting dalam meyelesaikan sebuah masalah. Pentingnya musyawarah ditegaskan dalam Q.S. Ali-Imran:158.
- Bersikap saling memaafkan. Ketika terjadinya sebuah konflik dan dari kedua belah pihak sudah melakukan musyawarah tidak heran jika ada yang cenderung mengikuti ego mereka. Sehingga, bersikap saling memaafkan merupakan pintu utama menuju kebaikan dan ketakwaan seseorang. Disebutkan dalam Q.S. Al-Baqarah:237. Hal ini sangat ampuh menciptakan perdamaian seseorang.
- Yang terakhir adalah berdamai. Setelah dilakukannya beberapa cara tadi termasuk saling memaafkan, maka kemauan untuk berdamai pun menjadi sesuatu yang penting. Sebab dalam Al-Quran sendiri menegaskan untuk berdamai dalam berkeyakinan (Q.S. Al-Baqarah:208). Bahkan ayat ini ditafsirkan sebagai ayat perdamaian. Sebagaimana yang ditafsirkan Ibnu ‘Asyur dalam karyanya, Al-Tahrir wa Al-Tanwir. Beliau menafsirkan kata Al-Silmi dalam ayat tersebut dengan pengertian Al-Sulh(perdamaian), dan Tark Al-Harb(meninggalkan peperangan).
Konsep berdamai dalam konflik merupakan salah satu ajaran agama islam. Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang menjelaskan tentang konsep berdamai tersebut, baik dalam konteks konflik setingkat komunitas kecil, seperti konflik dalam hubungan suami istri(Q.S. An-Nisa:128), maupun dalam tingkat komunitas besar, seperti konflik antara kelompok alim ulama yang bertikai(Q.S Al-Hujarat:9).
Tidak hanya di Al-Qur’an yang menjelaskan pentingan perdamaian, dalam hadist Nabi Muhammad SAW. terdapat beberapa hadist yang menerangkan tentang perdamaian. Diantaranya hadist yang diriwayatkan oleh Abu Darba’, bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Maukah kalian saya beritahu suatu hal yang lebih utama daripada derajat puasa, sholat dan shodaqoh?. Para sahabat Nabi-pun menjawab “apa itu ya Rasulullah, beritahu kami”. Lalu Rasulullah mengatakan “yaitu mendamaikan suatu perselisihan, karena perselisihan dapat membinasakan seseorang” (H.R. Abu Daud).

No responses yet