Oleh: Pajriah (Mahasiswa ITB Ahmad Dahlan Jakarta)
Sering terjadi bahwa kebaikan kita justru dibalas dengan kejahatan. Nyatanya, begitulah kehidupan. Ekspektasi kita tak selalu sama dengan kenyataan yang terjadi. Niat baik dan bantuan tulus tak selalu berbalas sama. Sebaliknya, tak jarang kita malah mendapatkan kerugian. Pengkhianatan, fitnah, hujatan, bullying, dan sejenisnya menjadi hadiah dari ketulusan yang kita persembahkan pada orang lain.
>>SIKAP KITA
1. Menganggap itu sebagai tanda Tuhan sedang memperkuat kita
Kebaikan yang dibalas kejahatan adalah hal yang bisa mengejutkan seluruh syaraf kita. Mental kita jatuh dan pikiran menjadi kacau. Namun, kamu harus ingat bahwa ujian pada insan itu bermacam-macam bentuknya. Satu di antaranya adalah kebaikanmu yang dibalas dengan kejahatan.
Selalu ada maksud di balik kejadian. Ujian adalah cara Tuhan mendewasakanmu dan menguatkanmu agar mampu menempuh jenjang yang lebih berat. Sebagai manusia, tugasmu selanjutnya cukuplah bersabar dan berlapang dada menerima itu semua sebagai takdir. Kemudian, bangkitlah tanpa berlama-lama menenggelamkan diri dalam kebencian dan kepiluan.
2. Tetaplah berbuat baik karena pasti akan dibalas
Sikap bijak selanjutnya kala mendapati teman, keluarga atau kerabatmu mengkhianati kebaikanmu adalah mengabaikannya sembari terus berbuat baik dengan tulus. Hanya ketulusan yang mampu membawamu ke dalam dekapan ketenangan dan kelegaan. Jangan menyesal karena telah menaburkan kebaikan. Jangan pula memilih berbuat hal yang sebaliknya. Ingatlah bahwa kebaikan tidak pernah merugikanmu.
3. Meyakini bahwa kebaikan adalah caramu sendiri untuk diri sendiri bukan orang lain
Orang yang datang silih berganti dalam kehidupan kita meski hanya beberapa menit adalah bagian dari jalan cerita yang telah diatur oleh Sang Sutradara terbaik. Ketika ada orang yang meminta bantuan padamu, Tuhan sedang menyiapkan celah bantuan untuk kesulitanmu di masa yang lain. Lebih tepatnya, menolong orang lain pada dasarnya sama seperti menolong diri sendiri. Hanya saja, kita tidak pernah tahu kapan fase sulit akan datang. Tugas kita adalah menanamkan aset kebaikan sebanyak mungkin agar bantuan pun tak berhenti mengalir pada fase sulit kita nanti.
4. Optimis
Segeralah move on setelah menangis puas atas musibah yang menimpa. Segeralah berganti strategi dan rencana agar kesalahan tak kembali terulang. Lihatlah tujuanmu berkali-kali, agar langkahmu tak mudah berhenti sampai di sini.
5. Ingatlah bahwa apa yang kamu tabur, itu yang kamu tuai
Apa yang kamu tanam, itulah yang akan kamu panen. Apa yang kamu tabur, itulah yang akan kamu tuai. Kalimat ini benar adanya. Merry Riana pun mengingatkan bahwa mungkin kebaikanmu tak selalu dibalas pada saat itu juga. Masih ada masa depan yang akan kamu susuri selanjutnya. Mungkin, kebaikanmu pun tak selalu dibalas oleh orang yang telah kamu tolong. Kebaikanmu justru dibalas oleh orang lain yang tak pernah kamu duga dan kenal.
Teruslah berbuat baik tanpa pamrih, kecuali pada balasan yang telah dijanjikan oleh Sang Maha Perkasa.
>>BAGAIMANA MENURUT ISLAM?
kebaikan dibagi menjadi dua bagian
Pertama, kebaikan yang dilakukan semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Dan yang kedua, kebaikan itu dilakukan untuk mendapat keridhaan manusia. Kebaikan yang dilakukan demi mendapatkan keridhaan Allah SWT tentunya akan mendapatkan pahala, bisa sampai sepuluh kali lipat.
Tetapi, kebaikan yang dilakukan untuk mendapatkan kerihdaan manusia, misalnya karena ingin mendapatkan uang, atau yang bersangkutan dengan hal duniawi tidak ada sangkut pautnya dengan urusan akhirat atau mencari Ridha dari Allah SWT, maka balasan yang akan kita dapatkan tentu saja dari manusia juga.
Allah SWT berfirman,
“…Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS Ibrahim: 34) “…Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS Al-Ahzab: 72)
Sesuatu yang diperuntukkan memperoleh keridhaan manusia maka tidak akan dapat balasan dari Allah SWT. Balasan dari manusia adalah ukuran manusia itu sendiri, balasannya adalah akhlak dan manusia yang bersangkutan.
Terkadang kita melihat manusia yang memperoleh kenikmatan dari Allah dengan rezeki yang banyak, keselamatan dan kesuksesan-kesuksesan, ia mengingkari Allah SWT. Apalagi orang itu berhadapan dengan manusia. Bisa saja ia lupa akan budi perkerti yang baik dan membalas kebaikan orang lain dengan keburukan dan kejahatan.
Untuk itu lah kita harus selalu ingat bahwa apa yang kita lakukan harus semata-mata karena mencari Ridha Allah SWT. Karena Allah SWT tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya. Jika kita menggantungkan harapan kepada manusia maka yang akan kita dapat hanya kekecewaan.

No responses yet