Jakarta. Toleransi sangat penting untuk menghadapi tantangan bangsa dan negara, sebagai akibat dari derasnya arus informasi. Demikian di ditegaskan oleh Prof. Dr. Kholid At-Touzani dalam webinar internasional bertajuk Tolerance In Indonesia (Papua) and Morocco; Experience Perspective, atau dalam bahasa Arab At-Tasamuh fi Indonesia (Papua) wa al-Maghrib; Mandzuur Tajribiy, yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Pengalaman Indonesia (Papua) dan Maroko Prihal Toleransi. Berdasarkan tema ini, topik bahasan webinar adalah upaya saling sharing ilmu dan pengalaman antara Maroko dan Indonesia (Papua) dalam mengimplementasikan toleransi di tengah-tengah masyarakat yang heterogen, dan menjadikan agama sebagai tali perekat yang menyatukan dan saling menghormati, demi tercapainya pembangunan dan pemerataan kesejarteraan.
”Ada kesamaan persoalan antara Maroko dan Indonesia, yaitu persoalan upaya-upaya proxy war media-media Barat untuk menggoncangkan persatuan bangsa dengan provokasi-provokasi dan fitnah-fitnah yang mengarah pada distintegrasi. Inilah persoalan yang dihadapi Maroko terkait daerah janub as-sahra al-gharbiyah, begitupula yang dihadapi Indonesia soal Papua” jelas tokoh cendekiawan modern Maroko tersebut.
Menurut Cendikiawan Muda Maroko yang sering menjadi pembicara di Chanel TV 6 Maroko ini, ada dua solusi penting yang harus segera dilakukan, yaitu; pertama, segera menangkal tuduhan-tuduhan (proxy war) yang membuat masyarakat ragu dan galau. Kedua, melakukan strategi-strategi political will untuk memantapkan toleransi dan persatuan, seperti; memberikan bimbingan dan pelatihan skill dan ideologi kebangsaan, komunikasi yang intensif, dan asimilasi dengan mereka. Hal ini tentu memerlukan strategi-strategi yang berkesinambungan, yang memang butuh waktu yang tidak singkat. Di samping itu, pemerintah juga perlu melakukan pembangunan-pembangunan besar, seperti; rumah sakit yang megah, kampus berkwalitas, fasilitas olahraga, dan jalan tol. Inilah yang dilakukan oleh Raja Maroko Muhammad VI, dan saya lihat ini juga yang sedang digalakkan oleh pemerintah Indonesia. Jadi, prinsip mengimplementasikan Toleransi, adalah; Kesabaran (mabda’u as-shabr) dan Memberikan perhatian dan uluran tangan berkesinambungan (mabda’u al-‘atha’ wa al-karam).
SedangkanProf. Dr KH al-Habib Idrus Al-Hamid, S.Ag, M.Si, Rektor IAIN Fattahul Muluk Papua menggarisbawahi nilai-nilai toleransi yang sebenarnya sudah menyatu dengan orang Papua. Namun, sayangnya, referensi ilmiah soal keyakinan dan kebudayaan orang Papua masih minim. Oleh karenanya, perlu adanya kajian-kajian ilmiah yang mendalam soal papua dan masyarakatnya secara komprehensip dan detail, sehingga memunculkan referensi-referensi ilmiah yang diakui (muhakkamah) dan mudah diakses.
“Dinamika sosial terkini, yang mengakibatkan saling bentur dan saling-tindih. Artinya, telah terjadi versus-versus-an, seperti; agama (yang dianggap sebagai identitas baru dan klaim keberadaban) vs budaya (yang dianggap beraroma pekat mistisisme, eksklusifitas dan tak berperadaban). Kemudian, adanya akrobat para penghamba ego kekuasaan politis yang memainkan politisasi Agama, juga membentur-benturkan identitas-identitas, sangat berpengaruh pada ‘kegoncangan’ toleransi. Ini harus segera diurai dan diberi solusi konkrit.” papar penggagas zona kerukunan umat beragama di Paoua tersebut.
Menurutnya, penanaman nilai toleransi dan kebangsaan harus disesuaikan dengan karakter dan kesenangan mereka, melalui komunikasi yang intensif dan asimilasi. Oleh karenanya, memandang problematika Papua tidak boleh seperti pola kaca mata kuda, lalu melakukan generalisasi.
Halini juga ditegaskan oleh Dr. H. Mohamad Shofin Sugito, akademisi Kampus. Dalam kunjungannya ke Papua Barat, Manokwari, distrik Ransiki, ia menyaksikan orang-orang Papua sangat welcome dan terbuka dengan para pendatang, meskipun berbeda agama, bahasa dan budayanya. Mereka menyambut tamu dengan penuh hormat dan memuliakan. Demikian juga, pengalaman di Maroko ketika studi Master dan Doktoral, juga mengkisahkan toleransi dan persaudaraan yang hangat, yang diberikan oleh orang-orang Maroko, al-maghariba kuramaa. Ini berarti, sebagaimana yang Prof Touzani tegaskan, sebenarnya genetik toleransi dan ingin kedamaian sudah menyatu dengan darah kita, akan tetapi ada proxy war yang berupa; fitnah-fitnah dan stigma-stigma, yang membuat keragu-raguan dan saling curiga, membuka luka-lama, lalu meletuslah konflik.
“Virus-virus semacam ini harus segera ditangkal, dengan kebersama-samaan dan kebersaling-salingan yang dimulai dari ‘berdamai dengan diri’ (at-tashaluh ma’a adz-dzaat).” sarannya.
Salah satu peserta asal Papua, Safar Furuada juga menceritakan prihal toleransi yang luar biasa di fak-fak dan kalimana. Masyarakat muslim ikut serta membangun Gereja, demikian juga masyarakat Kristiani juga membantu mendirikan madrasah. Bahkan, mereka justru tersinggung, apabila saat membangun fasilitas sosial seperti tempat ibadah dan sekolah, kalau tidak ajak-ajak.
“Berita-berita yang memperburuk citra papua di luar sana adalah kebohongan dengan rasa sok tau. Siapapun bisa datang ke tempat kami, untuk melihat sendiri kehidupan sosial dan budaya masyarakat Papua”, tegasnya.
Webinar ini menampilkan tiga pembicara utama. Yaitu; Pertama, Prof. Dr. Khalid At-Touzani, seorang cendikiawan dan pemikir muda Maroko, Direktur Al-Markaz al-Maghribiy li al-Istitsmar ats-Tsaqafi (masaq), Kedua, Prof. Dr. KH. Habib Idrus Al-Hamid, Guru Besar dan Rektor Institit Agama Islam Negeri (IAIN) Fattahul Muluk Papua. Ketiga, Dr. H. Mohamad Shofin Sugito, MA Dosen Sejarah dan Peradaban Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanudin Banten, yang juga alumni Master dan Doctoral dari Universitas Sidi Mohamad Ben Abdellah kota Fes- Maroko. Dan, acara ini dipandu oleh Dr. H. Alvian Iqbal Zahasfan, Mustasyar PCINU Maroko dan alumni Master dan Doctoral dari Institut Darul Hadist al-Hasaniyah kota Rabat- Maroko. Juga, diikuti oleh para dosen, pelajar dan masyarakat umum, serta dibersamai oleh Kedutaan Besar Maroko di Jakarta.

No responses yet