Indonesia (Papua) dan Maroko menjadi wilayah dimana keberagamaan dan keberagaman mengalami perjumpaan dengan etnisitas. Justru agama telah menjadi perekat kehidupan masyarakat. Maroko dan Indonesia memiliki kesamaan, mempunyai perilaku masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi umat beragama serta menonjolkan sikap keramahtamahan pada kaum non-muslim.  Maroko juga memiliki kerjasama dengan Indonesia sesuai spirit mempererat hubungan antar negara yang menginginkan adanya perdamaian di dunia. Papua dan Maroko memiliki kesamaan hidup penuh kedamaian dan toleransi serta memiliki tradisi dalam menyelesaikan konflik dengan kearifan lokal.

Dalam Webinar yang diselenggarakan INC TV terungkap bahwa tidak benar jika Papua hanya dipenuhi dengan konflik, kekerasan, dan keterbelakangan.  Seolah-olah kehidupan di Papua sangatlah tidak bersahabat dan menjadi ladang penindasan. Padahal, Papua adalah tempat yang sangat  damai  dan  harmonis.  Jikalau saja kita mengenal orang Papua dengan lebih dekat, maka akan didapatkan kehangatan sebuah persaudaraan yang tanpa pamrih dan apa adanya. Mereka memperlakukan orang lain sebagai keluarga sehingga menjaga harkat, martabat dan kehormatan diri sendiri sama dengan yang dilakukannya untuk orang lain.

“Kenyatan bahwa toleransi yang berkembang di Papua terjadi sampai detik ini menjadi alasan kenapa kami selenggarakan acara ini.”  jelas panita penyelenggara dari INC TV, M Taufan.

Acara yang dikemas dalam Webinar Internasional bertajuk Tolerance in Indonesia (Papua) and Morocca: Experience perspective”  ini dimaksudkan agar dunia internasional tidak melihat Indonesia khususnya Papua sebagai negara yang penuh kekerasan, mencekam dan penuh konflik. Namun, justru telah menumbuhkan semangat persatuan dan kerukunan di kalangan masyarakat, terutama generasi muda serta menanamkan  nilai  dan  arti  dari universalisme agama dalam nilai-nilai kemanusiaan.

Kegiatan Webinar International yang live di Channel Youtube  INC TV dan NU Channel pada 28/07 menghadirkan Prof. Dr. Khalid Touzani (Cendekiawan Moder Maroko, Penulis Buku Toleransi Antar Agama, Peraih Nobel Syekh Sidi al Mukhtar al Kunti For Global Culture, Direktur of Marocan Center for Cultre Investment, dan Angggota Liga Arab), Prof. Dr. H. Idrus Al Hamid, M.Si (Rektor dan Guru Besar IAIN Fattahul Muluk Papua, Dr. Muhammad Shofin Sugito  (Akademisi UIN Maulana Hasanudin Banten), dan Dr. Alvian Iqbal Zahasfan (Host)

Sebagai tokoh agamawan di Papua, Prof. Dr. H. Idrus Al Hamid, M.Si, mengatakan bahwa perjumpaan agama-agama di Papua selama ini telah melahirkan harmoni dan kebersamaan serta toleransi yang cukup baik.  Dengan memahami adanya masyarakat Papua yang memiliki topografi yang berbeda-beda, yaitu masyarakat pesisir, rawa, leren gunung dan pegunungan, penulis buku jalan panjang Perdamaian Papua ini optimis dengan kearifan lokal masing-masing, masyarakat Papua mampu membangun kehidupan yang penuh toleran.

“Keberadaan agama justru menjadi bagian yang tidak menjadi pembeda. Bahkan dalam beberapa hal, kegiatan keagamaan dijadikan sebagai kegiatan bersama walaupun berbeda-beda agama.” ujar salah satu penggagas zona integritas kerukunan umat beragama dan budaya Papua tersebut.

Meskipun terkadang terjadi gesekan antata masyarakat adat dan metropolis, antara pribumi dengan perantau, dan politisasi identitas, namun Idrus al Hamid telah merintis pencanangan zona integritas kerukunan umat beragama, membangun inter-religius dialog dan melakukan penguatan toleransi berbasis kearifan lokal.

“yang terpenting jangan menyakiti jika tidak ingin disakiti. Pahamilah bahwa manusia adalah sumber peradaban.” pesannya bagi seluruh elemen masyarakat di Papua.

Pengalaman ini juga diungkap narasumber dari Maroko, Prof. Dr. Khalid Touzani. Menurutnya, Indonesia mempunyai wilayah yakni  Papua yang ingin memisahkan diri dari Indonesia, begitu juga dengan Sahara Barat yang ingin memisahkan diri dari Maroko, sehingga antara Indonesia dan Maroko mempunyai kesamaan perhatian. Dalam upaya menarik hati rakyat Sahara Barat, Raja memerintahkan agar rakyat Sahara Barat diperlakukan dengan baik dengan toleransi yang tinggi. Mereka dibantu dan dihormati, sehingga suara-suara untuk memisahkan diri dari Maroko sangatlah sedikit. Namun demikian, ada upaya-upaya dari pihak luar untuk memprovokasi rakyat Sahara Barat agar terus menuntut pemisahan diri. Hal ini juga terjadi di Papua, dimana ada unsur-unsur luar yang ingin terus mendorong agar rakyat papua juga terus menuntut pemisahan diri.    

“Di Maroko juga ada penduduk asli tetapi mereka diperlakukan dengan toleransi yang baik, diperlakukan sama dengan kebudayaan yang terpelihara, sehingga tercipta kedamaian. Selanjutnya tidak ada pertentangan masalah agama karena memang toleransi di Maroko sangat kuat. Antara Indonesia dan Maroko ada kesamaan masalah, sehingga harus ada hubungan yang kuat antar sesama. Saling membantu sesama muslim dan tetap menjaga toleransi yang menjadi dasar dalam hubungan sosial yang majemuk.” terang Prof Kholid Touzani yang pernah meraih Penghargaan Sheikh Al-Mukhtar Al-Kinti untuk Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan, tentang toleransi dalam sastra Arab dan Afrika.

Hal senada juga diungkap Dr Muhammad Sofin, Berdasarkan studi lapangan yang berlangsung antara Mei hingga Juni 2019, penelitian lapangan menetapkan bahwa indeks toleransi beragama di Papua adalah 82 (delapan puluh dua), yang merupakan peringkat tertinggi dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Pemerintah juga ingin terus mengaktifkan program-program pendorong untuk memperkuat toleransi, kerjasama dan hidup berdampingan secara damai di Papua, khususnya mengkoordinasikan program-program terkait terhadap isu-isu pemuda dan perkembangannya ke arah yang lebih baik, seperti dialog, festival agama dan budaya.

Sebenarnya, jiwa NKRI masyarakat Papua sudah mandarah daging dalam sanubari, seperti yang dirasakan Safar Furuada aktivis Pendidikan dari Kaimana.

“Rasa kebangsaan, jiwa memiliki negara ini telah terpatri  sejak awal karena kami kami dari negara ini yang secara adat kami telah mengalami kebersamaan yang kuat. Karena itu dengan kedatangan saudara kami ke Papua justru menambah semangat kebangsan (wathaniyah) dan juga membantu semangat dakwah di tanah Papua dengan menjalin hubungan yang baik dengan umat agama lain.  Karena itu, adanya Otsus jilid II kami berharap menambah gairah, semangat membangun di Kawasan timur Indonesia, terutama pembangunan dalam bidang keagamaan. Kita berharap Papua menjadi barometer toleransi dan Indonesia menjadi negeri yang Makmur dan sejahtera.” Ujar tokoh agama yang berharap dibangun kampus perguruan tinggi di Kaimana.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *