Oleh : Febia Rahmawati (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto)

Salah satu hal yang bisa membuat seseorang lupa akan segalanya yaitu Cinta. Cinta membuat kita rela berkorban apapun yang kita miliki. Untuk wanita, menurutku lebih baik mencintai daripada dicintai. Jangan berharap seseorang yang belum tentu mencintai kita, tetapi terima orang yang mencintai kita dengan apa adanya.

Karena mencintai tanpa dicintai seperti olahraga dengan jangka waktu lama tetapi tidak membuat kurus. Karena itu belajarlah mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Itu merupakan yang aku rasakan kala itu.

Aku Ayu, siswa kelas XI. Dulu aku selalu menolak dan mengabaikan orang-orang yang menyatakan cintanya kepadaku. Tetapi sekarang justru aku yang selalu diabadikan oleh orang yang aku cintai.

Aku suka dengan teman sekelasku, namanya Jevi , dia merupakan sahabat dekatku sejak lama. Awal diriku suka dengannya berawal saat aku kenalan dan berteman cukup akrab lalu lama-lama dekat, sehingga sekarang diriku jatuh cinta. Kebetulan kita juga mengikuti satu organisasi yang sama yaitu Pramuka. Aku dan Jevi sama-sama senang dengan kegiatan Pramuka.

Oh iya, selain Jevi sahabat laki-laki, aku juga punya sahabat perempuan namanya Afni, dia temanku sejak SMP. Aku dan Afni sangat dekat saat SMP, jadi kita memutuskan untuk melanjutkan SMA di sekolah yang sama. Hehehe. Afni dan Jevi adalah sahabat dekatku saat ini.

Di suatu ketika, tiba-tiba Jevi datang menghampiri ku. Aku yang berada di depan kelas bersama teman-teman yang lain, merasa kaget dan terkejut saat dia mendekati ku. Dia datang dan berkata kepada ku…

“Ayu besok berangkat bareng yuk.” tanya Jevi

“Haaa… Apaa berangkat bareng.” jawab Ayu (kaget)

“Iya berangkat sekolah bareng. Gimana mau engga?”

“Boleh. Besok kan?” tanya Ayu

“Okee, besok aku jemput kamu di rumah ya?”

Keesokan harinya Jevi datang ke rumah Ayu dengan sepeda motornya yang bewarna hitam. Warna hitam adalah kesukaan Jevi. Dia turun dari motor dan segera mengetuk pintu rumah.

“Assalamualaikum, Ay Ayuuu…”

“Waalaikumussalam, yaaa. Eh Jevi sini masuk dulu atau mau langsung berangkat aja.” jawab Ayu

“Langsung berangkat aja yuk takut telat nih. Hehehe.” Jawab Jevi

“Oke deh. Yuk berangkat.”

Di setiap perjalanan aku memikirkan dan terus bertanya pada diri sendiri. Aku tidak menyangka kalau Jevi akan mengajak ku berangkat ke sekolah bersama. Aku sangat senang sekali. Dan sesampainya di sekolah sambil berjalan menuju kelas.

“Tumben nih kamu ngajak berangkat bareng.” tanya Ayu

“Iya pengin ngajak kamu aja. Kebetulan arah rumah ku searah dengan rumah kamu.” Jawab Jevi

“Ooohh gitu.” Jawab Ayu

Dalam hati ku (mimpi apa aku semalem bisa berangkat bareng sama orang yang aku suka). Jevi adalah salah satu cowok yang sangat diidolakan sama banyak cewek di sekolah. Karena Jevi orangnya baik, ganteng dan ramah sama setiap orang. Dia juga banyak memenangkan juara perlombaan atas nama sekolah.

Suatu waktu aku melihat Afni dan Jevi bercanda bersama dan mereka terlihat akrab seperti orang pacaran. Jujur, aku pun cemburu melihatnya tetapi aku masih menyembunyikan kecemburuan itu didepan Afni.

Tetapi lama-lama rasa yang terpendam ini ingin dikeluarkan, akhirnya aku memutuskan untuk cerita ke Afni tentang perasaanku ke Jevi.

“Af, aku pengin ngomong sesuatu nih, tapi jangan ngomong ke siapa-siapa ya.”

“Kamu mau ngomong apa Ay?” tanya Afni.

“Jujur aku suka dengan Jevi sejak lama, dan aku cemburu saat kamu dekat sama Jevi!” Jawabku.

“Kamu suka sama Jevi? Serius Ay?” Tanya Afni.

“Iya, tapi kamu jangan bilang ke Jevi ya.” Ucapku.

“Iya, maaf sebelumnya kalau aku udah bikin kamu cemburu.” Jawab Afni.

“Ya gapapa.” Jawabku.

Semakin lama aku semakin dekat dengan Jevi, tetapi aku perhatikan bahwa Jevi tidak akan pernah jatuh cinta denganku. Walau seperti itu, aku tetap berjuang sepenuh hati. Dan ternyata Afni juga suka dengan Jevi.

Aku mengetahui kalau Afni suka dengan Jevi ketika aku membaca buku diary Afni. Disana tertulis curhatan Afni tentang perasaannya ke Jevi.

Akupun merasa kecewa setelah membaca buku diary tersebut, karena sahabat baikku ternyata suka dengan cowok yang sama denganku. Tetapi aku berfikir, rasa suka itu berhak untuk siapapun.

Saat di taman sekolah, aku melihat Afni dan Jevi sedang mengobrol. Mereka terlihat lebih serius daripada biasanya, akupun penasaran dan menguping percakapan mereka dibalik pohon yang ada ditaman.

“Afni, aku suka sama kamu, kamu mau ngga jadi pacarku?” Tanya Jevi.

Afni kaget sekaligus bingung mendengar pertanyaan itu. Tetapi pada akhirnya Afni menerima tawaran itu dan mulai menjadi pacar Jevi tanpa memikirkan perasaanku, sahabatnya sendiri.

“Iya aku mau.” Jawab Afni.

Aku yang mendengarkan jawaban Afni langsung kaget dan keluar dari balik pohon, karena aku tak menyangka sahabatku akan tega melakukan hal itu.

“Af, kamu pacaran sama Jevi? Selamat ya kamu udah bikin aku sakit hati. Ternyata kamu menusuk aku dari belakang. Semoga kamu bahagia ya sama dia.”

Afni dan Jevi kaget karena aku keluar dari balik pohon secara tiba-tiba dan langsung berkata seperti itu.

“Maafin aku Ay, tapi jujur. Aku juga cinta sama Jevi.” Jawab Afni.

“Dasar penghianat.”, aku pergi meninggalkan Afni dan Jevi.

Aku pergi dengan perasaan campur aduk tidak karuan dan masih berpikir mengapa sahabatnya sendiri tega melakukan hal itu. Padahal Afni tahu kalau aku sudah lama suka sama Jevi.

Maka persahabatanku dengan mereka berdua hancur karena cinta. Disini aku memberi amanat bahwa utamakanlah persahabatmu daripada merebutkan seorang laki-laki. Karena orang yang selalu hadir disaat kamu senang dan susah itu adalah sahabat terdekat.

Identitas Penulis

Febia Rahmawati, lahir di Cilacap 21 Februari 2001.Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Berdomisili di desa Kunci RT 01 RW 03, Sidareja, Cilacap. HP. 085802419250. Email:febiarahmawati27@gmail.com. Ig: febiarhm_

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *