Oleh : Arif Setiyono

Pagi ini satu lagi anak yatim piatu kembali masuk panti. Dia adalah Damar, anak dari pasangan pengusaha properti yang baru saja meninggal seminggu lalu karena kecelakaan. Hari-harinya yang sebelumnya selalu terlihat ceria kini hilang entah kemana. Sudah satu minggu ini tidak sedikitpun muncul keceriaan dari raut muka ia.

“Dengar baik-baik, mulai sekarang inilah tempat tinggal barumu. Seorang sepertiku harus bekerja, tidak ada waktu untuk mengurus beban sepertimu!”

ucap seorang laki-laki dewasa dengan perawakan gemuk dan baju dinas layaknya pejabat sembari menunjuk ke arah panti di depan mereka, dia adalah Nahro paman dari Damar yang mendapat kepercayaan dari ayah Damar satu tahun lalu sebelum beliau meninggal dunia, paman Damar sengaja mengirim Damar ke panti dan memanipulasi keadaan seakan akan Damar hilang diculik demi Ia bisa mewarisi harta keluarga Damar.

Damar hanya diam, tidak sudikitpun menanggapi pembicaraan pamannya. Seakan bingung, sosok anak 15 tahun yang tidak tahu apa-apa, tiba tiba harus berpisah dengan kedua orang tuanya dan diserahkan ke panti asuhan.

“Woi pak Tua, saya titipkan anak ini padamu, jaga dia baik-baik” ucap Nahro kepada penjaga panti sembari menyulurkan berkas berkas identitas dari Damar.

“Baik, akan saya rawat dia dengan baik” saut penjaga panti.

Damar dituntun oleh penjaga panti menuju tempat tidur barunya. Dia ditempatkan satu kamar bersama Ratna dan Galih, sesama anak yatim piatu senior yang sudah masuk ke panti itu 5 tahun lamanya. Mereka berdua adalah anak yang baik, setiap ada anak baru yang masuk ke panti itu, mereka selalu menyambutnya dengan ramah dan mengakrabinya.

“Hai anak kecil, siapa namamu?” tanya Galih kepada Damar.

“Damar” ia hanya menjawab seadanya.

Sifatnya masih melekat pada dirinya, seorang anak orang kaya yang tiap harinya jarang bersosialisasi dan bermain dengan anak kecil seumurannya. Tiap harinya hanya ia habiskan untuk bermain Game Playstation dan sejenisnya.

“Nama yang bagus, seperti nama anak orang kaya” ucap Ratna.

“Ya, memang orang tuaku kaya” ucap Damar dengan nada sombong seorang anak kecil.

“Baiklah, sekarang istirahatlah dulu di sini menunggu pembagian makanan dari penjaga panti” sambung  Ratna mengakhiri percakapan mereka pada sore ini.

Bel berbunyi dua kali, menandakan waktu mereka makan telah tiba. Anak panti yang jumlahnya 6 orang berkumpul di meja makan bersiap menikmati hidangan seperti biasanya yaitu tahu dan nasi. Ada satu anak kecil yang selalu mengambil kecap di dapur dan menyembunyikannya di saku untuk menambahkannya ke hidangan makanan, ia adalah Fahri, dia anak yang nakal dari kamar sebelah Damar. Anak lain Bernama Kinanthi dan Kinasih mereka anak kembar, dan satu lainnya bernama Joko, dia adalah anak yang ditemukan penjaga panti satu bulan lalu di sekitar terminal.

“Dimana anak baru satu kamarmu?” tanya penjaga penti dengan menatap kepada Ratna dan Galih.

“Damar tidur pak” jawab Ratna

Penjaga panti langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air dengan gayung, air itu ia bawa ke kamar Damar dan langsung menyiramkannya ke muka Damar.

“Bangun bodoh, ini jam makan malam!” bentak penjaga panti dengan ekspresi marahnya.

Damar sontak terbangun dan merasa kaget dengan tindakan penjaga panti yang tidak pernah dialaminya selama ia tinggal bersama keluarganya di Rumahnya.

Penjaga panti menyeret tangan Damar agar bergegas menuju tempat makan dan langsung menyuruhnya untuk makan.

“Makanlah, dan kau tidak usah protes dengan lauk seadanya ini. Makan cepat!

“Ba..ik pa” jawab Damar lirih.

Damar langsung melahap makanan tersebut karena dia merasa lapar seharian karena perjalanan jauh dengan pamannya saat ke panti.

Setelah semua anak selesai makan, penjaga panti menyuruh Damar untuk memperkenalkan diri pada anak-anak lainya.

“Perkenalkan dirimu pada yang lain” ucap penjaga panti sambil menatap Damar.

Damar menurut, dan langsung memperkenalkan dirinya pada semuanya

“Perkenalkan nama saya Damar, salam kenal semuanya”

“Hai Damar, salam kenal” ucap anak-anak lain menyambutnya.

Percakapan malam itu hanya sebatas perkenalan Damar dengan anak-anak lain, karena penjaga panti menyuruh mereka untuk tidur.

*

Saat menuju tempat tidur Damar berbelok menuju dapur untuk mengambil air minum dan berniat membawanya ke kamar. Sesaat sebelum ia benar benar sampai ke dapur, ia melihat anak kecil sedang mengambil kecap dan ia mendapatinya memasukkan kecap itu ke saku celananya. Ya anak kecil itu adalah Fahri, anak kamar sebelah.

“Sedang apa kau disini?” tanya Damar yang secara tiba-tiba mengagetkan Fahri.

“Eh…aku hanya mengambil minum” jawab Fahri dengan nada gugup.

Damar pura-pura percaya dan hanya mengambil air minum dan langsung meninggalkan dapur untuk menuju ke kamarnya untuk tidur.

Pagi hari pukul 5, penjaga panti membangunkan semua anak seperti biasanya. Damar masih nampak kaget dan bingung hal apa yang akan dilakukan penjaga panti dengan membangunkan mereka pukul 5 pagi. “Hari ini kalian bekerja sesuai jadwal, Ratna dan Galih kalian mengamen di terminal, kinanti dan kinasih kalian mengamen di lampu merah, joko membantu orang-orang di pasar, Fahri menjaga Toilet terminal, dan kau anak baru, kau temani Fahri berjaga Toilet di Terminal”

Anak-anak lain langsung mengiyakan seperti biasa. Sedangkan Damar, ia masih nampak tidak terima, tetapi hanya bisa diam karena takut terhadap penjaga panti. Beberapa saat setelahnya mereka langsung berangkat bekerja sesuai jadwal masing-masing.

“Sialan, ternyata begini rasanya jadi anak panti!” Damar mengumpat di tengah-tengah perjalanannya dengan Fahri menuju Toilet terminal.

Fahri hanya tertawa mendengar umpatan Damar itu.

“Mengapa kau tertawa?”

“Tingkahmu sangat lucu, kau hanya meminta imbalan tanpa mau bekerja, hidup di panti tidaklah gratis, kita harus menurut pada penjaga panti sebagai ganti dari makanan kita sehari-hari”

Damar terdiam dan melanjutkan perjalanan mereka ke terminal.

*

Sesaat setelah sampai di terminal Damar mengumpat lagi,

“Penjaga panti sialan, apakah sebanding pekerjaan kami menjaga toilet bau busuk seperti ini dengan makanan Nasi dan tahu basi seperti itu”

“HAHAHA….itu sangat sebanding Damar, sudahlah jangan mengumpat terus”

“Sekali lagi kau tertawa, kulaporkan perbuatanmu tadi malam saat di dapur!”

“Tidak ada yang salah denganku tadi malam, aku hanya mengambil air minum”

“Lalu, apa yang kau masukkan ke dalam saku celanamu tadi malam?”

“Ouh..kau melihatnya?”

“Ya, aku melihatnya kau memasukkan kecap dan beberapa makanan ke dalam saku celanamu, itu sangat aneh dan konyol”

“Baiklah, aku mengaku, aku biasa melakukan ini setiap saat setelah persediaan kecapku habis, aku biasa menambahkan kecap ke makanan untuk menambah rasa dari tahu orek basi dari penjaga panti itu”

“Lalu, mengapa kau mengambilnya secara diam-diam dan tidak meminta kepadanya secara baik-baik?”

“Aku tahu kalo aku memintanya dia akan marahiku, aku juga mencontoh perbuatan ini darinya, ia selalu mengambil bantuan sosial yang seharusnya untuk kami, penjaga panti mengambilnya dengan rakus, jadi tolong jangan laporkan perbuatanku itu pada penjaga panti”

*

Hari-hari berlalu, Damar dan teman temannya kini tumbuh semakin dewasa, pergaulan merekapun di jalanan semakin menjadi. Tak terkecuali dengan Damar yang sudah mulai nakal, dia suka minum-minuman keras, berjudi. Uang dari pekerjaannya itu ia sembunyikan tanpa sepengetahuan penjaga panti untuk bermain judi, ia juga sering diam-diam mengambil uang dan banyak makanan yang disimpan oleh penjaga panti untuk bersenang senang. Hingga suatu ketika muncul kecurigaraan dari penjaga panti karena hilangnya banyak uang dari tempat penyimpanannya.

*

Hari ini, Damar kalah berjudi, ia berniat untuk kembali mengambil Uang penjaga panti. Saat membuka lemari, ia tanpa sengaja menemukan dokumen-dokumen profil dari anak-anak panti di tempat itu, ia mencari data miliknya dan mengambilnya.

Sesaat setelah mengambil data itu, penjaga panti tiba tiba muncul,

“Woi bngst! rupanya kau yang sering mencuri uangku” bentak penjaga panti saat memergoki Damar sedang menutup lemari itu. Penjaga panti langsung memukuli Damar dengan Rotan. Damar sempat menahan Rotan dan mengelak,

“Mencuri?bukannya kau lah yang mencuri uang kami yang diberikan oleh para donatur?bukan hanya mencuri, kau sangat serakah!

Damar kembali dipukuli hingga lemas dan pingsan. Setelah pingsan ia diseret penjaga panti menuju kamarnya. Dua jam kemudian ia bangun, tetapi badannya tidak leluasa bergerak karena sakit yang didapatinya dari pecutan rotan penjaga panti.

*

Malam selang beberapa hari, ia berpamitan kepada Fahri sahabat dekatnya,

“Fahri, aku pamit dari rumah singgah ini, jaga dirimu baik baik”

“Kemana kau akan pergi?apakah kau punya tempat tinggal baru”

“Aku pun tidak tahu akan pergi kemana, aku hanya berpikir lebih memilih mati melawan daripada mati diam diinjak” jawab Damar bersamaan dengan dia mengambil tas ransel berisi baju, dan kebutuhannya.

Ia pergi dengan menyembunyikan niatnya untuk mencari rumah keluarganya.

…….

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *