Categories:

Oleh: Lulu Awanila1, Prof Dr Asep Usman Ismail2

Sholat adalah suatu kegiatan bertawajjuh, taqarrub, dzikrullah dan munajat kepada Sang Khaliq Rabbil Izzati. Sholat adalah suatu bentuk ibadah dan media kita untuk mengabdi dan dekat padaNya. Shalat juga termasuk implantasi terhadap hati untuk senantiasa berserah diri padaNya. Innashalatii, wanusukii, wamahyaya, wamamatii lillahi Rabbil ‘Aalamiin. “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah semata.” Keadaan itulah yang sering disebutkan dalam Al Qur’an dengan istilah Mukhlasin, yaitu mereka orangorang yang ikhlas dalam menyerahkan seluruhnya untuk Tuhannya. Apabila kita dapat merealisasikan rasa berserah diri yang kuat hanya semata-mata padaNya, maka pada saat shalat kita akan mencapai maqam khusyu’. Pada saat shalat secara perlahan jiwa meninggalkan keterikatannya dengan badan, sehingga seluruh syaraf indra tidak dapat menghantarkan impuls getaran dari panca indra. Jadi hamba yang seperti ini tidak akan bisa melihat apapun kecuali Tuhannya, tidak dapat mendengar apapun itu kecuali rintihan rasa pasrahnya pada Allah. Tetapi tidak mudah dan sangatlah sulit untuk mencapai maqam itu. Di dalam Al Qur’an juga dijelaskan bahwa sholat dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Jelas kiranya apabila implementasi dari pada sholat itu sendiri sudah diterapkan dalam kehidupan seorang hamba, tentunya setiap gerak-gerik hamba selalu mendapatkan ridlo Tuhannya. Sangat mustahil jika kemaksiatan mendekatinya, karena bekas dari pada sholat itu menempel pada hatinya, dan tak mungkin kiranya nafsu-nafsu dapat menggelincirkannya. Sehingga yang ada dalam hatinya adalah pancaran hidayah dan taufiqNya. Yang ada dalam benak dan cita-citanya hanyalah membuat Tuhannya ridlo. Dan yang ada dalam hidupnya adalah mengabdikan diri pada Tuhannya. Ada beberapa bentuk kegiatan bathin yang kita lakukan ketika sholat. Yang pertama Tawajjuh. Tawajjuh adalah bertatap muka secara langsung pada Allah SWT secara hakiki. Merasa bahwa kita berhadapan secara langsung denganNya ketika sholat. Sabda Beliau Rasulullah SAW, “Sembahlah Allah, seakan-akan engkau melihatNya. Jikalau engkau tidak dapat melihatNya, sesungguhnya Allah telah melihatmu.” Shalat merupakan ajang pertemuan hamba dengan Allah.

Seperti yang sering kita baca dalam do’a iftitahInniwajjahtu wajhiya lilladzi fatharassamaawaati wal ardh haniifan musliman wamaana minal musyrikin. “Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada wajah yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku termasuk kepada orang yang menyekutukanNya.”( QS. Al An’am,6:79) Ayat di atas merupakan pernyataan setiap kita shalat, yang menegaskan pada jiwa kita untuk menyadari bahwa kita sedang berhadapan dengan wujud Allah yang Maha Suci. Jika hal ini terjadi pada diri kita tidak mungkin kiranya kita melakukan perbuatan yang dilarangNya.

Yang kedua taqarrub. Taqarrub adalah mendekati diri kepada Allah SWT sedekatdekatnya. Jadi shalat juga merupakan ajang seorang hamba untuk mendekatkan diri pada Tuhannya. Dalam hadits Qudsi Allah Ta’ala menerangkan “…..Apabila hamba-hamba Ku mendekati Ku satu depa maka, maka Aku mendekatinya satu hasta, apabila engkau datang kepadaKu dengan berjalan, Aku datang kepadamu dengan berlari.” Juga dijelaskan dalam surat Qaf ayat 16, “Dan Kami (Allah ) lebih dekat padanya dari pada urat kudukya sendiri.”

Dalam surat Al-Baqarah ayat 186 juga jelas termaktub, “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya, katakanlah sesungguhnya Aku sangat dekat.” Secara logika jika seorang hamba sudah dekat sedekat-dekatnya kepada Allah, maka maksiat dan segala sesuatu yang dilarang Allah Ta’ala pasti tidak akan ia dekati. Yang ketiga dzikrullah. Dzikrullah adalah mengingat Allah dalam setiap hembusan nafas dan setiap kedipan matanya. “Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” ( QS. Thahaa ayat 14) Sudah jelas kiranya bahwa Allah memerintahkan kita shalat untuk mengingatNya. Apabila bekas dari pada shalat itu sendiri telah membekas pada hati kita, maka tasbih yang kita jadikan alat untuk mengingat dan menyebut Asma AgungNya adalah nafas dan kedipan mata kita. Apabila di dalam hati seorang hamba hanya terlukis Asma AgungNya, secara otomatis ia akan selalu merasa terawasi oleh AllahTa’ala. Jadi sangat mustahil bahwa hamba yang seperti itu akan mendekati kejidan munkar. Yang keempat shalat sebagai wujud munajat seorang hamba kepada Allah Ta’ala. “Berdoalahkepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allahtidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” ( QS. Al A’raaf ayat 55) Maksudnya: melampaui batas tentang yang diminta dan cara meminta. Di dalam sholat yang kita lakukan secara hakiki adalah wujud permohonan kita kepada Allah. Semua bacaan do’a dalam setiapgerakan shalat adalah do’a. Apabila kita bisa menghayati setiap bacaan itu, hati dan jiwa kita akan terfokus untuk bersimpuh memohon kepada Allah TuhanSeru sekalian Alam. Rabbiighfirlii, warhamnii, wajburnii warfa’nii, warzuqnii, wahdinii,wa’afinii, wa’fu’annii. “ Yaa Tuhan ampunilah aku, rahamatilah aku,tutupilah semua kekuranganku, angkatlah derajatku, berikanlah rizqi yang barokah padaku, berilah petunjuk padaku, maafkanlah semua kesalahanku.” Do’a merupakan indikasi bahwa manusia hanyalah makhluk yang lemah, makhluk yang tidak mampu berbuat apa-apa tanpa pertolongan dari Allah SWT.

Dari keempat kegiatan bathin yang kita lakukan ketika sholat tersebut akan dapat menjadi alat untuk kita berlindung kepadaNya dari syaithon dan nafsu yang senantiasa menggelincirkan kita. Rasulullah bersabda dalam sebuah haditsnya, “Shalat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin.” Yaitu naiknya jiwa ( mi’raj ) meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam jasmani manusia menuju hadirat A llah Ta’ala. Sudah jelas kiranya iman, islam dan ihsan kita. Jika shalat jika shalat adalah implementasi dari kita benar dan mencapai maqam khusyu’ maka setiap gerak bahwgerik kita akan a terhindar dari kemaksiatan. Implementasi im an yang dapat kita rasakan shalat yang kita kerjakan hanyalah kita persembahkan padaNya ( Lillah ),untukNya dan karenaNya. Celakalah mereka yang shalat karena ingin dipuji oleh orang lain (riya’).

Disamping itu harus kita sadari dalam hati bahwa hanya DIAlah yang member kemampuan karena titahNyalah kita bisa melakukan shalat, kita untuk shalat, dan DIA jugalah yang menggerakkan dan mengkhusyu’kan hati kita ketika shalat. Segala Puji hanya bagiNya Tuhan seru sekalian Alam. Tetapi hal yang sangat tragis dan tidak bisadipungkiri bah wa melaksanakan shalat dengan baik, benar dan mencapai maqamkhusyu’ sangatlah sulit. Kita sudah berusaha memusatkan pikiran, hati dan jiwa kita untuk fokus padaNya, tetapi tetap saja syaithon dan nafsu yang ada dalamdiri kita ini selalu membubarkan konsent rasi kita. Sehingga jadilah kita bahwa shalat hanyalah tak lebih dari gerakan senam. seperti sekarang ini Astaghfirullahal Adziim……. dikarenakan nur fuad yang kita miliki belum bisa Hal ini sampai pada pangkalnya, yaitu Allah Sehingga sangat mustahil j ika kita mengharap kan Nurullah untuk melindungi SWT. jiwa kita dari godaan kehidupan.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *