Categories:

Oleh : Nabilla Cindy Putriska (Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka)

Manusia selalu dihadapi oleh masalah selama masa hidupnya. Masalah tersebut sering kali membuat manusia merasa putus asa, bingung, dan tertekan. Namun, Peterson dan Seligman (2004) melihat bahwa di tengah ketidakberdayaannya, manusia selalu memiliki kesempatan untuk melihat hidup secara lebih positif. Individu yang mampu berpikir positif merupakan salah satu dari individu yang memiliki rasa syukur. Syukur yang dalam bahasa Inggris disebut dengan gratitude didefinisikan sebagai sebuah keyakinan selalu merasa cukup atas apa yang dimilikinya (Emmons dan McCullough, 2003). Syukur menurut Islam adalah respon individu berupa keyakinan bahwa dirinya selalu merasa terpenuhi atau tercukupi oleh kelebihan atau kebaikan yang diterima dari Allah SWT (Al-Munajid, 2006). Bersyukur dapat dimunculkan dengan melalui proses berpikir dan membiasakan perilaku tertentu.
Kebahagian di dalam hidup adalah suatu hal yang menjadi harapan dalam kehidupan banyak orang, bahkan sepertinya semua orang mendambakan kehidupan yang berbahagia (Diener, 2000). Kebahagian menurut arti yang diterjemahkan dari bahasa Arab, “al-sa’adah” yang berati bahagia atau mujur. Makna bahagia itu sendiri tidak sama dengan senang tetapi tidak memiliki beban didalam pikirian sehingga seseorang memiliki perasaan tenang dan damai. Sedangkan kebahagian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) keadaan atau perasaan senang dan perasaan tentram yang di mana dalam kondisi bebas dari segala hal yang menyusahkan hidup kita. Namun untuk mendapatkan kebahagian bukanlah suatu hal yang mudah, banyak individu yang berupaya untuk menemukan jalan untuk bahagia.
Kebahagian menjadi topik psikologi positif yang paling banyak dibicarakan karena kebahagian memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Kebahagian sendiri dapat membantu kesehatan mental menjadi lebih optimal dan stress berkurang (Goldman, 2016; Martin, dkk, 2019). Akan tetapi kesulitan menjadi penghalang individu untuk merasa bahagia namun dengan bersyukur terhadap keadaan kita saat ini membuat kita mampu menghadapi kesulitan tersebut. Salah satu aktivitas yang dapat meningkatkan kebahagiaan adalah bersyukur (Emmons &Shelton, 2002).
Dengan beberapa pengertian di atas, untuk meningkatkan rasa kebahagiaan yang menjadi harapan banyak orang adalah memiliki rasa syukur. Syukur kepada apa yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Untuk memiliki rasa syukur itu sendiri melalui cara berpikir positif. Dengan berpikir positif manusia akan menikmati sebuah berkah dalam kehidupan dan mampu mendapatkan kemungkinan terbesar dari kepuasan. Dengan bersyukur individu memiliki kebahagiaan yang lebih tinggi karena individu yang memiliki rasa syukur dapat melihat suatu hambatan dengan sikap positif. Beberapa ahli menjelaskan bahwa orang yang terbiasa bersyukur dampaknya pada kepuasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak bersyukur (Lee, 2020).

Refrensi :
Al Munajid, M.S. 2006. Silsilah Amalan Hati. Bandung: Irsyad Baitus Salam
Diener, E. 2000. Subjejective well-being: The Science of happiness and a proposal for a nation index. American Psychology, 55(1),

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *