Categories:

oleh : Seizia Firhatunnisa Abdina

Lgbt atau lesbian, gay , biseksual ,dan transgender/transeksual adalah jargon yang di pakai untuk Gerakan emansipasi dikalangan non-hetero seksual,hal ini menunjukan gabungan dari kalangan minoritas dalam hal seksualitas.
Ada istilah lainnya dari masa revolusi seksual pada tahun 1960-an , tidak ada kosakata non-peyoratif untuk menyebut kaum yang bukan “heteroseksual” . Orientasi seksual merujuk pada ketertarikan secara seksual, romantis, ataupun emosional pada individu lain yang memiliki jenis kelamin atau identitas gender tertentu.
Sampai saat ini, penyebab seseorang menjadi bagian LGBT ini masih dipenuhi pro dan kontra , Banyak yang menduga hal ini terjadi karena pola asuh orang tua dalam mengasuh anak atau pergaulan diluar lingkungan yang tidak sehat. Contohnya, jika seorang anak diperlakukan tidak baik dari lawan jenisnya baik dari keluarga ataupun orang – orang dilingkup sosialnya. Hal ini menyebabkan anak itu berpikir bahwa dia tidak aman bersama lawan jenisnya dan berpikir untuk menjalin hubungan dengan sesame.
Namun dari sisi biologis, Allan Schwartz, LCSW, Ph.D, dari lulusan National Psychological Assosiation for Psychoanalysist, Amerika Serikat mengungkapkan kalau faktor genetik menjadii penyebab terjadinya LGBT. Di mana kromosom X yang diturunkan ibu ke anaknya membawa keragaman gen yang membuat si anak menjadi gay/lesbian . Hal ini dibuktikan dengan 50-60% responden yang berpartisipasi dalam kajian faktor genetik tersebut.
Di dalam psikologi islam pembahasan hati terbagi menjadi tiga yaitu hati yang mati, hati yang sakit, dan hati yang sehat. Hati yang mati dimiliki manusia ketika manusia merasa senang melakukan tindakan maksiat, sementara hati yang sakit adalah ketika manusia merasa ragu terhadap sesuatu, sementara hati yang sehat dimiliki manusia yang beriman yang yakin kepada Allah dan melakukan kebaikan. Kecintaan terhadap dunia yang berlebihan merupakan sumber dari kegelisahan dan kesedihan yang dapat berujung pada penyakit hati. Hal tersebut dikarenakan kebahagiaan manusia di dunia cenderung diukur dari materi.
Qorrotul’uyun berkata “Ketika seseorang semakin mendekatkan diri kepada Allah, maka akan berpengaruh terhadap akhlaknya yang semakin baik, karena sesungguhnya yang dapat mengubah hati hanyalah Allah SWT ,”dan “Jiwa manusia diciptakan Allah dengan dua kecendrungan yaitu baik dan buruk. Malaikat bertugas untuk mendorong serta menjaga keimanan manusia, sehingga manusia memilih untuk berteman dengan malaikat atau setan,”.
penyembuhan perilaku LGBT secara individu dirasa kurang efektif karena mereka menganggap sudah melakukan pembenaran terhadap apa yang di yakini. “Metode terapi penyembuhan LGBT dengan pendekatan berbasis kelompok akan lebih efektif karena masalah yang terjadi di individu terkadang juga dipengaruhi lingkungannya. Saat individu merasa ada orang lain yang juga memiliki masalah yang sama maka motivasi untuk dapat berubah cenderung lebih besar,” ungkap Iswan.
Dalam sudut pandang psikologi harus dilihat sebagai upaya manusia untuk membuka rahasia sunnatulloh yang bekerja pada diri manusia (ayat-ayat nafsani), dalam artian menemukan berbagai asas, unsur, proses, fungsi dan hukum-hukum mengenai kejiwaan manusia . Ibnu Qayyim Aljauziyah menyatakan bahwa Allah menggantungkan kebahagiaan hamba dengan kemampuan hamba menjaga kemaluannya. Maka tidak ada kebahagiaan bagi orang yang tidak menjaga kemaluannya (AlJauziyah).
Perbuatan homoseksual telah bertentangan dengan fitrah yang diciptakan Allah kepada manusia dan mereka telah mengobrak-abrik tatanan. Allah menyebutkan hal tersebut termasuk perbuatan yang berlebih-lebihan dan melampaui batas. Dan allah juga tidak suka dengan hambanya yang mengubah dirinya seperti (laki-laki menjadi perempuan bahkan perempuan menjadi laki-laki ).
Dalam metode islami, adapun Langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengobati perilaku lgbt ini, dengan :

  1. berdzikir , diantaranya adalah istiqfar .istiqfar merupakan amalan yang luar biasa yang sangat dicontohkan Rasulullah saw.
  2. Istiqfar dapat digunakan sebagai proses membersihkan diri atau penyembuhan jiwa sehingga hal tersebut dapat membawa kedamaian batin dan menghasilkan fungsi dari keadaan yang sulit di tangani .

Referensi :
Krause, H.K., & Dailey, T.M. (Ed). (2009). Handbook of Parenting: Style, Stresses and Strategies. Families Issues in the 21st Century Series. ISBN: 978-1-60741-8.
American Psychiatric Association. (1987). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (3rd ed., Revised).
Boudhiba, A. 1975. La Sexualite en Islam. Paris: Presses Universitaires de Franc.
Baron, R. A., & Byrne, D. (1997). Social Psychology. London: Allyn and Bacon.
Patterson, J. M. (2002). Integrating family resilience and family stress Theory. Journal of Marriage and Family, 64(2), 349.
Ceranic, T. L.,& Reynolds, S. J. (2007). The effects of moral judgment and moral identity on moral behavior: An empirical examination of the moral individual. Journal of Applied Psychology, 92, 1610-1624.
King, P.E.,& Furrow, J. L. (2004). Religion as a resource for positive youth development: Religion, social capital, and moral outcomes. Developmental Psychology, 40, 703-713.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *