Categories:

Oleh: Luki muhammad alfrido

Meneladani akhirnya menjadi puncak dari sikap mengidolakan dan menggandrungi, bukanlah fenomena baru di kalangan masyarakat kita, terutama di kalangan remaja. Kita sering menyaksikan variasi gaya rambut, aksesoris telinga, dan mode fashion yang beragam, semuanya dengan antusiasme untuk meniru dan mencapai kesamaan dengan tokoh idolanya.

Contoh kasusnya keika ada pria maupun Wanita muslim yang naik ke atas panggung atau berjumpa lalu dikecup oleh sang idola, bukan kepalang bahagianya bahkan sampai terbawa suasana emosional sampai ia menangis Bahagia bisa bertemu langsung dengan sang idola.

Indonesia terkenal di seluruh dunia sebagai masyarakat ketimuran yang menjunjung tinggi adab dan sopan santun dalam berbicara dan berbusana. Namun, seiring berjalannya waktu, nilai-nilai tersebut mengalami penurunan. Hal ini terlihat dengan banyaknya remaja yang mulai mengadopsi budaya barat dalam berbagai aspek, seperti dari dunia film, olahraga, musik,  dan sebagainya. Dampaknya sangat terasa, mengarah pada gaya hidup bebas, praktik seks bebas, konsumsi alkohol, dan penurunan moralitas.

Pandangan Hadis tentang fenomena ini

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: “الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ” (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda: “Seseorang akan bersama orang yang dia cintai.” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Anas bin Malik, beliau menceritakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”

Orang tersebut menjawab

مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain di Shahih Bukhari, Anas mengatakan,

فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”

Anas pun mengatakan,

فَأَنَا أُحِبُّ عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ النَّبِىَّ – صلى الله أَعْمَالِهِم

“Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan; Itulah keutamaan orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang shalih, pelaku kebaikan yang masih hidup atau pun yang telah mati. Namun, kecintaan ini dilakukan dengan melakukan perintah Allah dan Rasul-Nya, menjauhi setiap larangan dan beradab sesuai yang diajarkan oleh syari’at Islam.

Lihatlah perbedaan antara orang yang mengidolakan aktris, penyanyi, olahragawan dan lain sebagainya, dengan yang mengidolakan Nabi Muhammad SAW, tentunya sama-sama meneladani dan mengikuti, namun perbedaannya adalah pada akhir kehidupan seseorang.

Dalam riwayat Thobroni dalam Mu’jamnya, dari ‘Aisyah secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam),

لَا يُحِبّ أَحَد قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْم الْقِيَامَة

Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum melainkan dia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat nanti.”

Siapa yang ingin nanti pada hari kiamat di kumpulkan dengan orang-orang kafir atau pelaku maksiat ?

Tentu solusinya adalah dengan membiasakan diri sendiri ataupun mengajarkan kepada adik-adik kita maupun anak-anak kita nanti untuk cinta kepada Nabi, kepada keluarga Nabi, senang membaca Al-Qur’an, dan masih banyak lagi cara-cara yang bisa dilakukan.

Seperti halnya yang dikatakan Rasulullah SAW sebagai berikut:

أًدِّبُوا أَوْلَادَكُمْ عَلَى ثَلَاِث خِصَالٍ : حُبَّ نَبِيِّكُمْ ، وَحُبِّ أَهْلِ بَيْتِهِ ، وَقِرَاءَةِ القُرْآَنِ ، فَإِنَّ حَمَلَةَ القُرْآَنِ فِي ظِلِّ اللهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلًّهُ مَعَ أَنْبِيَائِهِ وَ أًصْفِيَائِهِ

“Didiklah anak-anak kalian tiga hal; cinta kepada nabi, cinta kepada keluarga nabi, dan membaca Al-Qur’an. Karena sesungguhnya para pembawa Al-Qur’an akan berada di bawah naungan Allah bersama para nabi pada hari tiada naungan lain selain naungan Allah bersama para Nabi dan Pilihan-Nya”.

Maka dari itu biasakan diri sedini mungkin tentang kehidupan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallan, para sahabat dan orang-orang shalih, agar terekam dalam pikiran tentang kehidupan mereka yang bisa diteladani dan ditiru. Jika tidak dilakukan sejak dini, maka ketika dewasa anak-anak dan remaja akan mencari sosok idola yang mereka akan jadikan panutan.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *