Oleh: Auliyaur Rosyidah (UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Prodi S1 Ilmu Hadis semester 7)

Terukir dalam setiap langkah manusia berbagai amalan yang senantiasa dilihat Allah swt. dan dicatat oleh malaikat. Dalam setiap catatan itu, amalan baik akan dijanjikan surga dan amalan buruk akan dijanjikan neraka. Siapapun tak akan bisa menghitung amalnya di dunia, pun demikian tidak ada yang tahu akan mendapatkan surga atau neraka di akhirat kelak. Yang bisa kita tahu hanyalah saat kita terus beramal baik, maka pasti surga-Nya akan menyilakan kita.

Namun, berapapun banyaknya amal baik yang kita lakukan, tentu tidak luput kita juga melakukan kesalahan, dan kekeliruan. Kadangpula kita merasa lelah dengan tuntutan beramal salih sehingga melalaikan diri darinya. Adapula seseorang yang dia memiliki nafsu dan kemarahan dalam dirinya yang tak terbendung, sehingga dia melakukan dosa-dosa besar.

Pernahkah Anda merasa diri anda tidak berguna? Anda telah mengupayakan sesuatu namun selalu berakhir gagal dan kecewa. Melanjutkan hari-hari dengan kosong, tanpa ada semangat. Tanpa ada sesuatu daripada diri Anda yang dapat membanggakan diri anda sendiri maupun membanggakan orang lain. Anda merasa seperti daun-daun kering yang tidak berguna dan berguguran menjadi berserakan. Perasaan seperti ini amat menggusarkan.

Tetapi ketahuilah. Ada sebuah perasaan yang lebih buruk dari itu. Yakni perasaan yang muncul dihati seorang pendosa yang sadar akan dosa-dosanya. Kita tahu, seseorang melakukan dosa bisa jadi karena dua hal saja. antara dia sengaja ataupun tidak sengaja. Seseorang yang melakukan dosa karena sengaja lalu dia menyadarinya disaat dosanya telah menggunung, dia akan berpikir bahwa dirinya amat hitam, jorok, hina, berlumpur, dan menjijikkan. Saat menyadarinya, dia mungkin akan berpikir “ah, sekalian kotor saja. toh Tuhan tidak sudi menerima taubat dan ibadahku.” Atau mungkin dia akan berpikir “Ya Tuhan, bagaimana diriku ini? bisakah engkau menerimaku jika aku bertaubat?”

Seseorang yang memiliki banyak dosa, ibarat sedang berada di persimpangan jalan. Jika dia ke kiri, dia akan meneruskan perbuatan dosa karena merasa terlanjur kotor, atau karena memang menuruti hawa nafsunya. Jika dia ke kanan, dia akan menghentikan perbuatan dosanya dan berubah memperbanyak amal salih. Jika dia ke kiri, dia akan benar-benar menjumpai neraka sebagai tempat tinggal abadinya di akhirat. Dan jika dia ke kanan, maka dia akan benar-benar menjumpai surga sebagai tempat tinggal abadinya di akhirat.

Tidak mudah bagi seorang pendosa besar untuk bertaubat. Sebagian dari mereka kehilangan harapan atas ampunan Allah swt. Mereka hendak berubah namun keadaan menyulitkannya, dan sedikit demi sedikit putus asa atas Rahmat Allah swt. merasa sangat buruk sehingga tidak pantas mendapatkan ampunan dan kasih sayang dari Tuhan yang Maha Kuasa.

Namun, ketahuilah bahwa Allah swt. sangat pemaaf. Dia maha pengampun. Kasih sayangnya amat luas, dan tidak akan pernah bisa kita bayangkan bagaimana besarnya kasih sayang Allah swt. itu. Jika anda adalah seseorang yang merasa putus asa dari kasih sayang dan ampunannya, coba renungilah firman Allah swt. dalam surah Az-Zumar berikut ini:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Artinya: “Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Hal ini juga dikabarkan oleh Rasulullah saw. dalam Riwayat hadis qudsi:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ بَهْرَامَ الدَّارِمِيُّ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ الدِّمَشْقِيَّ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَى عَنْ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ

 يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

Artinya: “Telah menceritakan kepada kamu Abdullah bin Abdurrahman bin Bahram Ad-Darimi, telah menceritakan kepada kami Marwan alias Ya’la bin Muhammad Ad-Dimisyqi, telah menceritakan kepada kamu Said bin Abdul Aziz, dari Rabi’ah bin Yazid, dari Abu Idris Al-Khaulani, dari Abu Dzar, dari Nabi saw. dalam apa-apa yang diriwayatkan beliau dari Allah Tabarak Wa Ta’ala, bahwa Dia berfirman: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian senantiasa melakukan kesalahan (dosa) di malam hari dan siang hari. Dan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya, Maka mintalah ampun kepada-Ku, maka Aku akan memberi ampun kepada kalian” (H.R Muslim 4674)

Dalam Riwayat lainnya, Rasululllah saw. bersabda:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِسْحَقَ الْجَوْهَرِيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ فَائِدٍ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُبَيْدٍ قَال سَمِعْتُ بَكْرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيَّ يَقُولُ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

Artinya: “Telah menceritakan kepada kamu Abdullah bin Ishaq Al-Jauhari Al-Basri, telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, telah menceritakan kepada kami Katsir bin Faid, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Ubaidah, dia berkata “aku telah mendengar Bakar bin Abdullah Al-Muzanni, dia berkata, “telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik, dia berkata, “ aku mendengar Rasulullah saw. bersabda. “Allah Tabarak wa Ta’ala berfirman: “Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” (H.R Tirmidzi 3463)

Dengan demikian, jangan pernah lagi seseorang yang pendosa merasa takut tidak diampuni oleh Allah swt. Kuatkanlah tekad untuk berubah menjadi pribadi yang solih. Hentikan perbuatan dosa itu secara bertahap dengan penuh kesungguhan. Berkumpullah dengan orang-orang solih, agar mereka dapat membimbing dan menjadi motivasi untuk meraih taubatan nasuha.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *