Oleh: Ghaza Nur Dzaki (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Fakultas Psikologi)
Keluarga adalah salah satu peranan penting dalam mendidik, mengatur, dan mengawasi anak dalam pergaulannya. Di samping itu, keluarga merupakan faktor utama yang berperan dalam hal mendukung dan membantuprosesanak, agar anak dapat berkembang dan tumbuh menjadi seorang yang tangguh, mandiri, dan senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT di kehidupannya kelak.
Menurut Martin Luther (dalam Istina, 2015), keluarga adalah agen yang paling penting dalam menentukan pendidikan anak. Jika orang tua tidak bisa memberikan contoh dan teladan yang baik kepada anaknya, maka sikap anak tidak akan jauh beda dari orang tuanya. Dengan demikian orang tua harus mengarahkan dan mendidik anak-anaknya ke arah pergaulan yang baik jika orang tua tidak bisa mengarahkan dan mendidik anak-anaknya ke arah pergaulan yang baik maka anak itu akan terjerumus ke dalam pergaulan yang salah dan akan mengancam masa depan dari anak tersebut.
Pergaulan merupakan kelanjutan dari proses hubungan sosial yang terjalin antara individu dalam lingkungan sosialnya. Kuat lemahnya suatu interaksi sosial mempengaruhi erat tidaknya pergaulan yang terjalin. Seorang anak yang selalu bertemu dan berinteraksi dengan orang lain dalam jangka waktu relatif lama akan membentuk pergaulan yang lebih. Berbeda dengan orang yang hanya sesekali bertemu atau hanya melakukan interaksi sosial secara tidak langsung (Johnson, 2010:158) dalam (Masykur, 2016).
Menurut teori sosiologi, ada berbagai bentuk pergaulan, ada yang sehat ada pula yang dikategorikan pergaulan yang tidak sehat (Baker, et.al., 2005:11) dalam (Masykur, 2016). Pergaulan sehat adalah pergaulan yang membawa pengaruh positif bagi perkembangan kepribadian seseorang. Sebaliknya pergaulan tidak sehat mengarah kepada pola perilaku yang merugikan bagi perkembangan dirinya sendiri maupun dampaknya bagi orang lain. Pergaulan yang sehat adalah pergaulan yang mengarah kepada pembentukan kepribadian yang sesuai dengan nilai dan norma sosial, kesusilaan dan kesopanan yang berlaku (Baker, et.al., 2005:12) dalam (Masykur, 2016).
Dalam pandangan Jonathan H. Turner (1988:73-85) dalam (Masykur, 2016) pergaulan memiliki sejumlah manfaat, yaitu: (1) lebih mengenal nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku sehingga mampu membedakan mana yang pantas dan mana yang tidak dalam melakukan sesuatu; (2) lebih mengenal kepribadian masing-masing orang sekaligus menyadari bahwa manusia memiliki keunikan yang masing-masing perlu dihargai; (3) mampu menyesuaikan diri dalam berinteraksi dengan banyak orang sehingga mampu meningkatkan rasa percaya diri; dan (4) mampu membentuk kepribadian yang baik yang bisa diterima di berbagai lapisan sehingga bisa tumbuh dan berkembang menjadi sosok individu yang pantas diteladani. Sedangkan, dalam pandangan Lynn R. Kahle (1984:9-22) dalam (Masykur, 2016), pergaulan yang salah juga memiliki dampak yang tidak baik bagi pendidikan, antara lain: (1) hilangnya semangat belajar dan cenderung malas serta menyukai hal-hal yang melanggar norma sosial; (2) suramnya masa depan akibat terjerumus dalam dunia kelam, misal: kecanduan narkoba, terlibat dalam tindak kriminal dan sebagainya; (3) dijauhi masyarakat sekitar akibat dari pola perilaku yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku; dan (4) tumbuh menjadi sosok individu dengan kepribadian yang menyimpang.
Berikut beberapa tips peran keluarga dalam mendidik anak di era modern agar tidak tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang salah:
- Komunikasi
Komunikasi adalah bagian utama di setiap hubungan antar sesama anggota keluarga. Dengan adanya komunikasi keluarga bisa mengarahkan anak-anaknya agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang salah.
- Mencontohkan Keteladanan
Orang tua berperan sebagai Role Model bagi anak-anaknya, mulai dari cara orang tua dalam berbicara, bergaul, dan berperilaku sangat berpengaruh terhadap anak. Dari sinilah orang tua harus bisa mencontohkan kepada anak-anaknya terutama dalam hal berperilaku, maka dari itu orang tua harus menanamkan nilai-nilai agama dan moral kepada anak-anaknya. Agar suatu ketika mereka berperilaku di masyarakat sesuai dengan ajaran agama dan moral yang telah diajarkan oleh orang tuanya.
- Mendorong Kreativitas Anak
Disetiap anak masing-masing mempunyai kelebihan dan ciri khas yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Orang tua berperan sebagai motivator dan support system untuk mendorong dan menggali kreativitas anaknya. Orang tua harus menyediakan ruang kreativitas kepada anak-anaknya, seperti bermain komputer, menulis, membaca buku, bermain bulu tangkis, bermain video game dan lainnya. Biarkan anak itu berkembang dan menemukan bakatnya tetapi orang tua juga harus bisa mengarahkannya agar hal yang dia sukai tersebut menjadi bermanfaat bagi kehidupannya kelak.
- Menjauhkan Emosi Negatif
Emosi negatif yaitu seperti marah, kecewa, dan menyalahkan anak, mungkin hal seperti ini sering terjadi pada setiap keluarga. Namun, jika hal yang seperti ini dilakukan terlalu berlebihan kepada anak, bisa saja anak mengalami trauma atau terganggu psikologisnya karena orang tua yang tidak bisa mengendalikan emosinya dan cenderung terlalu menyalahkan anaknya. Oleh karena itu kebijaksanaan dan regulasi emosi ini sangat dibutuhkan orang tua dalam mendidik anak-anaknya agar anak-anak ini bisa mengerti dan paham bahwa orang tua itu sayang terhadap anak-anaknya.
- Bergaul Dengan Orang-orang yang Benar
Sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, melansir dari Tafsir Web:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّ ٰدِقِينَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS. At-Taubah [9]:119)

No responses yet