Di susun oleh : M Mafaza Salam Dan Umar Wirahadi (Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof Dr.Hamka)
Menurut Sumara, remaja merupakan aset masa depan suatu bangsa. Oleh karena itu, bangsa Indonesia membutuhkan peran remaja yang mampu mengembangkan potensi dirinya atau tugas perkembangannya yaitu menyangkut aspek emosi, intelektual, spiritual, fisik maupun sosialnya. Terkait dengan aspek perkembangan remaja, saat ini ditemukan permasalahan emosional remaja berupa gejala-gejala tekanan perasaan, frustrasi, atau konflik internalmaupun konflik eksternal pada diri individu.Remaja merupakan kelompok yang sedang memasuki masa transisi yang sulit. Baik konflik internal maupun eksternal dialami oleh remaja pada masa perkembangannya. Salah satunya permasalahan emosi dan pengendalian diri seperti fenomena insecure. Insecure adalah perasaan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh individu ketika merasa khawatir dan kurang percaya diri. Sehingga seseorang yang mengalaminya merasa tidak aman, dan dia akan merasa takut dalam kondisi apapun dankapanpun. Perasaan tersebut daparterjadi ketikaseseorang merasa bersalah, malu, merasa kekurangan, atau tidak mampumengendalikan sesuatu. Akibatnya ialah seseorang bisa menjadi takut berinteraksi dengan orang lain.Remaja sering merasa tidak percaya diri yang berlebihan karena tingginya harapan yang dimiliki. Perasaan tidak percaya diri ini timbul pada proses pertumbuhan remaja sehingga dapat meningkatkan perasaan insecure/insecurity. Rasa insecure yang berlebihan pada remaja terhadap dirinya dapat memberikan pengaruh negatif karena dan lain sebagainya.
Menurut Greenberg, setiap orang pasti akan merasakan dapat menyebabkan adanya gangguan pada mental remaja.1Masa remaja cenderung merasakan depresi, kurang percaya. diri terhadap ambisinya. Jika berlebihan dan dibiarkan, khawatir remaja tersebut berujung pada mental illness dan akhirnya berdampak kefatalan serius.Berdasarkan studi literatur yang ditemukan oleh Mardiana2, banyak kasus fenomena insecure pada remaja di masa pandemi covid-19 ini di antaranya seperti gangguan psikososial seperti rasa cemas, depresi, trauma perasaan Insecure. Perasaan insecure yang tidak berlebih termasuk baik untuk individu seperti membantu perkembangan diri seseorang, bahwa kita mampu mencapai sesuatu yang lebih tinggi dari apa yang kita bayangkan. Namun, yang menjadi permasalahan apabila perasaan justru mengganggu kesehariannya dalam jangka panjang. Hal tersebut akan berdampak buruk bagi kesehatan mulai dari fisik bahkan mental (depresi). Mengenai perasaan insecure, menurut KBBI, insecure mempunyai makna perasaan tidak aman, dan gelisah. Artinya, perasaan tidak percaya diri (inferiority) dengan diri sendiri dan cenderung minder, bisa juga diartikan sebagai rasa takut dan cemas (anxiety) tentang sesuatu yang dipicu oleh rasa tidak puas dengan realitas keadaan diri dan tidak yakin akan kapasitas diri sendiri.Kebutuhan akan rasa aman (secure), kebutuhan yang mendorong manusia mengharapkan perlidungan. Namun, hilangnya perasaan aman tersebut dapat menyebabkan seseorang timbul rasa curiga, menyimpang,membela diri, bahkan mengganggu. Menurut Melanie Greenberg terdapat 3 alasan umum seseorang merasa insecure, yaitu: riwayat kegagalan atau penolakan, kurangnya kepercayaan diri karena kecemasan sosial, dan dorongan rasa perfeksionisme. Bisa juga dikatakan bahwa insecure seseorang adalah hilangnya rasa bersyukur atas apa yang dimiliki.Pada literatur ditemukan penelitian yang membahas tentang kaitan antara religiusitas dengan kepercayaan diri. Religiusitas dalam konteks ini berarti agama yang mempunyai aturan dan kewajiban yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh penganutnya, dan terdapat lima dimensi dalam religiusitas, yaitu keyakinan, praktik agama, pengalaman, pengetahuan agama, dan pengalaman. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara religiusitas dengan kepercayaan diri pada remaja. Artinya, semakin tinggi tingkat religiusitas, maka semakin tinggi pula tingkat kepercayaan diri, dan begitu sebaliknya.
Psychological well-beingatau diartikan sebagai kesejahteraan psikologis adalah keadaan di mana individu mencapai kondisi psikologis yang berhubungan dengankepuasan hidup. Fitrianikemudian menjelaskan enam dimensi psychological well-being, yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi (kemandirian), penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pengembangan pribadi. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara religiusitas dengan psychological well-being.
Melalui kajian berbagai literatur, ditemukan adanya hubungan antara religiusitas dengan rasa percaya diri seseorang.
Tingginya rasa percaya diri seseorang menunjukkan bahwa ia mempunyai tingkat kecemasan yang rendah.
Sebab kecemasan merupakan perasaan tidak menyenangkan yang dirasakan seseorang ketika merasa khawatir dan kurang percaya diri.
Berdasarkan tinjauan literatur yang ada, artikel ini memberikan hipotesis bahwa terdapat hubungan antara pemahaman akidah Islam dengan kecemasan pada remaja.
Belum ada penelitian yang secara khusus membahas hubungan antara dimensi keimanan/akidah agama dengan perasaan cemas, khususnya di kalangan generasi muda.
Oleh karena itu, tujuan artikel ini adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman Islam di kalangan remaja, mengetahui tingkat kecemasan di kalangan remaja, dan mengetahui hubungan pemahaman Islam dengan kecemasan di kalangan remaja.
Perasaan InsecurePerasaan insecure pada umunya terjadi berhubungan dengan diri individu (Inner circle), antara lain:
1.Rendah diri (Inferiority Feeling)Inferioritas merupakan perasaan rendah diri yang dialami individu, serta merasa tidak aman (insecure), tidak stabil, tidak tegas, merasa sama sekali tidak berarti, dan tidak mampu memenuhi berbagai tuntutan hidup. Adler mengemukakan bahwa Inferiority feeling adalah rasa diri kurang atau rasa rendah diri yang muncul dari perasaan kurang berharga atau kurang mampu dalam penghidupan apa saja. Lauster mendeskripsikan karakteristik seseorang yangmemiliki inferiority feeling, yaitu diantaranya:a.Seseorang merasa bahwa tindakan yang dilakukan tidak cukup kuat. Individu tersebut cenderung merasa tidak aman (Insecure) dan tidak bebas bertindak, cenderung membuang waktu dan ragu-ragu dalam pengambilan keputusan, memiliki perasaan rendah diri dan pengecut, kurang bertanggung jawab dan cenderung menyalahkan orang lain sebagai penyebab masalahnya, serta pesimis dalam menghadapi rintangan.b.Seseorang merasa tidak diterima oleh orang lain atau kelompoknya. Individu ini cenderung menghindari situasi komunikasi karena merasa takut disalahkan atau direndahkan, merasa malu jika tampil di hadapan orang.c.Seseorang tidak percaya terhadap dirinya dan mudah gugup, merasa cemas ketikamengemukakan gagasannya dan selalu membandingkan dirinya dengan orang lain.
2.TakutTakut merupakanperasaan cemas dan gelisah. Rasa takut muncul dari adanya ancaman, sehingga seseorang akan menghindari ancaman tersebut dan sebagainya. Merasa takut dan Insecure saat harus memulai komunikasi atau berinteraksi dengan orang lain, menjadi pusat perhatian atau berada dalam situasi-situasi yang mengundang unsur penilaian atau evaluasi dari orang lain yang mungkin banyak kita jumpai di dalam kehidupan sehari-hari. Kecemasan seperti itu muncul mungkin karena takut tidak dapat menyesuaikan diri, diabaikan, ditertawakan, takut tidak mendapatkan respons dengan baik, diremehkan, takut dinilai bodoh, dsb. Pada dasarnya, rasa takut memiliki dua sumber utama: pertama, penglihatan adanya ancaman yang nyata, dan yang kedua, hilangnya tanda-tanda keselamatan, karena kebutuhan individu akan rasa aman (secure) dari kondisi-kondisi eksternal, sepertikematian.Dister mengatakan bahwa harus dibedakan antara ketakutan yang ada objeknya, seperti: takut pada musuh, takut pada hewan, takut pada orang dewasa, dan seterusnya di satu pihak; dan ketakutan yang tidak ada objeknya, takut begitu saja, cemas hati: orang memang takut, tetapi tidak tahu kenapa ia takut atau apa saja yang ia takuti. Ketakutan tanpa objek itu dapat bersifat patologis (neorosis atau psikosis), namun sama sekali tidak harus bersifat demikian. Ketakutan tanpa objek itu bukan selalu gejala penyakit mental, tetapi dapat juga bersifat tanda kemanusiaan.
3.Cemas (Anxiety)Psikologi mendefinisikan cemas (anxiety) sebagai perasaan campuran dari rasa takut dan kesedihanterhadap masa depantanpa sebab khususnyauntuk ketakutan tersebut serta bersifat individual. Sarason dan Davison mengatakanbahwa kecemasan merupakan bagian dari tiap pribadi manusia terutama ketika iadihadapkan pada situasi yang tidak jelas dan tidak menentu.Syamsu Yusuf mengemukakan anxiety (cemas) merupakan rasa tidak aman (Insecure), tidak berfikir secara matang, sertakurang mampu dalam menghadapi tuntutan realitas (lingkungan), kesulitan dantekanan kehidupan sehari-hari. Kartini Kartonomengungkapkanbahwa cemas merupakanbentuk tidak berani diliputi kerisauan terhadap hal-hal yang tidak jelas. Kecemasan sendiri menurut kajian psikologi Islam, merujuk di dalam Al-Qur’an dijelaskan sebagai emosi takut yang dialami semua individu serta merupakan respons alami individu atas peristiwa, munculemosi takut itu membuat perasaan yang tidak nyaman (Insecure), sehingga bisa berdampakterhadap perilaku individu tersebut.Freud membedakan antara cemas dan kecemasan, menurutnya cemas adalah suatu keadaan perasaan,di mana individu merasa lemah sehingga tidak berani dan mampu untuk bersikap dan bertindak secara rasional sesuai dengan seharusnya. (Jihan Insyirah Qatrunnada, Salma Firdaus, Sofika Dwi Karnila, Usup Romli146)
Referensi
Aslikdeana, Genoveva. Perancangan Video Campaign “This Is Me” (Sebuah Eksperimen Sosial Mengenai Insecurity).Bachelor Thesis thesis, Universitas Multimedia Nusantara, 2021
Sinar Rejo Kecamatan Kalirejo Kabupaten Lampung Tengah)(Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung), 2019
Mardiana,N., Yosep, I., & Widianti, E.Fenomena Insecure Pada Remaja Di Era Pandemic Covid-19: Studi Literature. Jurnal Ilmu Kesehatan UMC, 10(2)(2021): 21-29.
IQ(Ilmu Al-qur’an): Jurnal PendidikanIslam| Volume 5No.02 2022Dawson

No responses yet