Categories:

Oleh: Nazwa Bunayya dan Salimah Nurul

Pada masa usia dini seorang anak akan lebih membutuhkan banyak kasih sayang dan  perhatian dari kedua orangtuanya, dimana figur seorang ayah dan ibu akan mempengaruhi pola  berpikir dari anak tersebut. Pada masa usia dini atau masa golden age tumbuh kembang otak  anak sangat pesat dan menyerap banyak informasi tanpa disaring terlebih dahulu. Menurut Jane  (1991) parenting atau pola asuh ialah suatu proses interaksi berkelanjutan antara wali murid  dengan anak-anak mereka yang meliputi aktivitas-aktivitas seperti memberi makan, memberi  petunjuk, dan melindungi kepada anak-anak ketika mereka bertumbuh dan berkembang sedangkan  menurut Adhim (2006) parenting atau pola asuh ialah suatu sikap wali murid terhadap anaknya,  yang memengaruhi bagaimana orang tua memengaruhi anak, mendidik, dan mengasuh anak,  menghadapi perilaku-perilaku anak maupun kenakalan anak. 

Setiap orang tua pasti memiliki cara dan gaya mendidik anaknya masing-masing, baik cara itu  didapatkan secara otodidak, melihat pengalaman orang lain, melalui bacaan dari buku-buku  parenting, atau cara-cara lainnya. Metode pengajaran yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. adalah  metode yang bisa menjadi panutan kita sebagai orang tua. Berikut adalah lima metode yang  digunakan Rasulullah dan patut kita lakukan:  

1. Keteladanan 

Rasulullah Saw. memerintahkan orang tua untuk bersikap dan berperilaku jujur sebagai  contoh yang baik bagi anak. Anak belajar dari lingkungan terdekat, terutama orang tua  dengan menyerap informasi melalui perkataan maupun tindakan. Kecenderungan manusia  untuk belajar melalui peniruan menjadikan keteladanan sangat penting, terutama bagi anak  yang mudah meniru perilaku orang dengan ikatan emosional dengannya seperti yang telah  diungkapkan oleh Albert Bandura yang menekankan bahwa manusia belajar tidak hanya  dengan classical dan operant conditioning, tetapi juga dengan mengamati perilaku orang  lain. 

2. Pembiasaan  

Rasulullah Saw bersabda, “Biasakanlah anak-anak dengan perbuatan baik, karena  kebaikan akan membiasakannya.” (al-Tarbiyah al-Nabawiyah li al-Thifl). Hadis ini 

menekankan pentingnya pembiasaan sejak dini untuk membentuk karakter anak. Oleh  karena itu, orang tua harus menjadikan perbuatan baik sebagai kebiasaan sehari-hari.  Pembiasaan sejak lahir menjadi dasar penting dalam pendidikan anak. Salah seorang tokoh  psikologi yang menggunakan teori pembiasaan adalah Edward lee Thoorndike yang  terkenal dengan teori connectionism (koneksionisme) yaitu belajar terjadi akibat adanya  asosiasi antara stimulus dengan respon, stimulus akan memberi kesan pada panca indra,  sedangkan respon akan mendorong seseorang untuk bertindak. 

3. Pujian dan Hukuman 

Rasulullah Saw. menekankan pentingnya pujian dan sanjungan untuk memotivasi anak  memperbaiki perilaku, sementara hukuman dalam pola asuh beliau bersifat mendidik,  bukan balas dendam. Hukuman diberikan untuk menyadarkan anak akan keseriusan  kesalahan dan pentingnya ketaatan dengan tetap menunjukkan kasih sayang. 

Dalam psikologi, konsep ini dikenal sebagai reward dan punishment, bagian dari teori  penguatan atau operant conditioning oleh Skinner, yang menekankan pentingnya  penguatan dalam pembentukan perilaku. 

Hukuman pada anak harus memenuhi syarat, yaitu tidak memukul sebelum usia 10 tahun,  pukulan maksimal tiga kali, dan memberi kesempatan anak untuk memperbaiki kesalahan  tanpa merusak harga diri. Hukuman dalam prophetic parenting bertujuan mendidik, dengan  pendekatan bertahap dan penuh kehati-hatian. 

4. Perhatian 

Secara psikologis, kasih sayang dan perhatian adalah kebutuhan penting bagi anak-anak,  remaja, hingga orang dewasa. Kasih sayang memiliki peran vital dalam pendidikan anak.  Sejalan dengan konteks hadis tersebut, Carl Rogers seorang tokoh psikologi humanistik,  menyatakan bahwa pendidikan individu lebih dipengaruhi oleh suasana emosional  dibandingkan hasil belajar semata. Oleh karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap  kebutuhan emosional anak dalam proses pengasuhan, menciptakan suasana yang  menyenangkan dan penuh kasih sayang. 

5. Cerita atau kisah (Al Qishash) 

Metode ini telah diarahkan oleh Al-Qur’an. Dimana banyak sekali kisah-kisah tentang para  nabi dan umat terdahulu yang dikisahkan Allah Swt. dalam Al-Qur’an sebagai suatu  pelajaran. Nabi Saw. juga sering menyebutkan kisah-kisah orang-orang dahulu kepada para 

sahabat ketika memberikan pelajaran. Menceritakan kisah dianggap efektif dalam  memberikan pendidikan kepada anak. Pertama, kisah atau cerita pada umumnya lebih  berkesan daripada nasehat, sehingga pada umumnya cerita terekam jauh lebih kuat dalam  memori manusia. Kedua, melalui kisah atau cerita anak diajarkan mengambil hikmah.  Penggunaan metode bercerita akan membuat anak lebih nyaman daripada diceramahi  dengan nasehat. Dalam menggunakan metode bercerita hendaknya menyesuaikan dengan  level kognitif anak. 

Menerapkan metode parenting ala Rasulullah memiliki dampak positif yang signifikan bagi  psikologi anak. Dengan meneladani nilai-nilai seperti kasih sayang, keadilan, penghargaan  terhadap potensi anak, dan komunikasi yang baik, orang tua tidak hanya membentuk karakter anak  yang berakhlak mulia, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri  dan emosional stabil. Metode ini relevan untuk diterapkan di era modern, memberikan solusi bagi  tantangan dalam pengasuhan. Dengan konsistensi dan keteladanan, metode ini dapat menjadi  fondasi kuat untuk mencetak generasi yang lebih baik, baik dari segi moral maupun spiritual.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *