Islam Masuk Sulawesi

Hampir tidak ada bukti sejarah yang menunjukkan masuknya Islam selain pintu Jawa dan Sumatra. Dari kedua pintu ini kemudian Islam menyebar ke beberapa daerah di Nusantara.
Meskipun sudah terjadi kontak dengan para pedagang Arab dan Cina, Islam masuk di Sulawesi setalah terjadi proses Islamisasi di Jawa dan Sumatra.

Para tokoh-tokoh Islam dari Jawa dan Sumatra inilah yang kemudiana mengembangkan Islam di Sulawesi. Disebutkan Islam di Sulsel juga dibawa sayyid Jamaluddin Akbar Al Husaini yang datang dari Aceh lewat Jawa (Pajajaran). Sayyid Jamaluddin datang atas undangan raja yang masih beragama Budha, Prabu Wijaya yang memerintah Pajajaran pada tahun 1293-1309. Sayyid Jamaluddin Akbar Al Husaini melanjutkan perjalanan ke Sulsel bersama rombongannya 15 orang.

Mereka masuk ke daerah Bugis dan menetap di Ibu Kota Tosorawajo dan meninggal di sana sekitar tahun 1320 M. Inilah suatu bukti bahwa jauh sebelum Islam diterima secara resmi sebagai agama kerajaan di Sulsel pemahaman Islam sudah ada di masyarakat lewat interaksi sosial dan hubungan dagang antar individu maupun berkelompok.

Menurut Mattulada (1998) kedatangan Islam secara terang-terangan di Sulawesi Selatan dibawa oleh tiga da’i yang berasal dari Minangkabau yang terkenal dengan Datu’ Tellue pada abad ke 16. Meraka adalah: Abdul Qadir Datuk Tunggal dengan julukan Datuk ri Bandang,  Sulung Sulaeman sebagai Datuk Patimang, dan Khatib Bungsu sebagai Datuk ri Tiro.

Ketiga Ulama di atas menggarap lahan yang berbeda. Datuk ri Bandang menggarap kerajaan kembar Gowa-Tallo, Datuk Patimang menjelajah ke kerajaan Luwu sedang yang terakhir, Khatib Bungsu, masuk berdakwah pada masyarakat di daerah Tiro yang kini termasuk daerah Bulukumba dan kemudian hari beliau diberi gelar sebagai Datuk ri Tiro, dalam rangka pengabadian nama tempat beliau awal-awal berdakwah.

Baca juga : PINTU MASUK ISLAM KE NUSANTARA (1) : Sumatera & Jawa

Islam Masuk Maluku Utara

Mulai pertengahan abad ke-15, Islam diadopsi secara total oleh kerajaan di Ternate dan penerapan syariat Islam diberlakukan. Sultan Zainal Abidin meninggalkan gelar Kolano dan menggantinya dengan gelar Sultan. Para ulama menjadi figur penting dalam kerajaan.

Kolano Marhum (1465-1486), penguasa Ternate ke-15 adalah raja pertama yang diketahui memeluk Islam bersama seluruh kerabat dan pejabat istana. Pengganti Kolano Marhum adalah puteranya, Zainal Abidin (1486-1500).

Beberapa langkah yang diambil Sultan Zainal Abidin adalah meninggalkan gelar Kolano dan menggantinya dengan Sultan, Islam diakui sebagai agama resmi kerajaan, syariat Islam diberlakukan, membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam dengan melibatkan para ulama.

Langkah-langkahnya ini kemudian diikuti kerajaan lain di Maluku secara total, hampir tanpa perubahan. Ia juga mendirikan madrasah yang pertama di Ternate. Sultan Zainal Abidin pernah memperdalam ajaran Islam dengan berguru pada Sunan Giri di pulau Jawa, disana beliau dikenal sebagai “Sultan Bualawa” (Sultan Cengkih).

Bersambung.. 

 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *