Massignon ini orang yang sangat berjasa bagi pemikiran Islam, khususnya dalam bidang tasawuf. Beliau sangat tekun meneliti dan mencari makhtuthat (manuskrip) Al-Hallaj. Tanpa jasa besar Massignon mungkin kita tidak akan pernah tahu Al-Hallaj sebenarnya.
Untuk mengetahui alur pemikiran Al-Hallaj kita harus membaca karya utama Al-Hallaj yaitu KItab Al-Thawasin, berisi kumpulan narasi pemikirannya. Sebagian besar karya-karya Al-Hallaj (pemikiran) dalam bentuk puisi (syi’r) yg tentunya perlu bekal pengetahuan yg cukup dalam membacanya.
Membaca tulisan-tulisan Al-Hallaj mengajarkan kepada kita bahwa Ketika banyak orang mengejar dan memuaskan diri dengan simbol-simbol dan baju-baju eksoteris yang mengecoh, kaum sufi mencari Essensi yang esoteris dan ingin bersembunyi di tanah tak dikenal.
Ketika banyak orang manggut-manggut di depan kekuasaan atau hasrat puja-puji rakyat, kaum sufi tak menjunjung tinggi-besar apapun kecuali Sang Essensi. Tak pelak, seluruh pikiran dan gerak mereka seperti itu mengancam sekaligus meruntuhkan kewibawaan dua otoritas maha perkasa : otoritas politik (struktral) dan otoritas keagamaan (kultural).
Imam Jalaludin As-Suyuti, salah satu pembela Ibnu Arabi yang gigih, mengatakan :
“Ma Kana Kabirun fi ‘Ashr Illa Kana Lahu ‘Aduwn min al Safalah”
(Orang besar dalam sejarah selalu punya musuh orang-orang bodoh).
وقلوب وددكم تشتاقكم والى لذيذ لقائكم ترتاح
Hati dan jiwa pencintamu merinduimu. Kelezatan bertemu engkau. O, betapa damai
Tanggal 27 Maret 922, eksekusi mati dilaksanakan di hadapan ribuan pasang mata merah yang terus meradang dan tak henti berteriak histeris. Yel-yel Allah Akbar, Allah Akbar menggelegar. Sejumlah ulama Fiqh, Hadits dan Kalam menjadi saksi. Faqih literalis ekstrim sekaligus orang yang paling bertanggungjawab atas fatwa mati dan pengadilan Al-Hallaj: Muhammad bin Daud (w. 297 H), pendiri mazhab fiqh Zhahiri, berdiri paling depan.
Sejumlah sufi besar juga hadir, meski memperlihatkan sikap dan suasana batin yang berbeda, menyaksikan peristiwa paling dramatis ini. Mereka, untuk menyebut beberapa saja, adalah Abu al Qasim Al Junaed, Abu Bakar al Syibli (w. 334), Ibrahim bin Fatik. Yang terakhir ini adalah sahabat setia yang selalu menemani Al-Hallaj di penjara.
Tak jelas bentuk hukuman mati untuk Al-Hallaj itu, apakah di tiang gantungan, dipenggal atau disalib di pelepah kayu keras. Mungkin tak penting betul untuk dijawab. Tetapi beberapa menit menjelang kematiannya, meski tubuhnya dililit rantai besi, Al-Hallaj dengan riang, seperti akan bertemu kekasih, menengadahkan wajahnya ke langit biru yang bersih, seakan siap menyambut kedatangannya.
Dia menyampaikan kata-kata monumental yang indah beberapa detik sebelum nafasnya pergi.
“Oh Tuhan, lihatlah, hamba-hamba-Mu telah berkumpul. Mereka menginginkan kematianku demi membela-Mu dan untuk lebih dekat dengan-Mu. O. Tuhan, ampuni dan kasihi mereka.”
“Andai saja Engkau menyingkapkan kelambu wajah-Mu kepada mereka sebagaimana Engkau singkapkan kepadaku, niscaya mereka tak akan melakukan ini kepadaku.”
“Andai saja Engkau turunkan kelambu wajah-Mu dariku, sebagaimana Engkau menurunkannya dari mereka, niscaya aku tak akan diuji seperti ini. Hanya Engkaulah Pemilik segala Puji atas apa yang Engkau lakukan. Hanya engkaulah pemilik segala puji atas apa yang Engkau kehendaki”.
Setelah itu dia bergumam lirih:
اقتلونى يا ثقاتى إن فى قتلى حياتى
ومماتى فى حياتى وحياتى فى مماتى
إن عندى محو ذاتى من أجل المكرمات
وبقائى فى صفاتى من قبيح السيئات
فاقتلونى واحرقونى بعظام الفانيات
Bunuhlah aku, O, Kasihku
Kematianku adalah hidupku
Kematianku ada dalam hidupku
Hidupku ada dalam kematianku.
Ketiadaanku adalah kehormatan terbesar
Hidupku seperti ini tak lagi berharga
Bunuhlah aku, bakarlah aku
Bersama tulang-tlang yang rapuh
(Diwan, Qasidah 10)
Suasana senyap. Al-Hallaj diam. Abu al Harits al Sayyaf, sang algojo, melangkah gagah dengan wajah amat angkuh, mendekati Al-Hallaj. Ia menampar pipinya dan memukul hidungnya begitu keras hingga darah mengaliri jubahnya. Al-Hallaj, kata para saksi, sungkem kepada Tuhan:
”Ilahi, Ashbahtu fi manzilah al Raghaib”
(Tuhanku kini aku telah berada di Rumah Idaman).
Lebih jelasnya telusuri langsung dan download di kitab satu, Dua, Tiga, Empat.

No responses yet