“Jika engkau punya teman yg selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karena mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali” (Imam Syafi’i)

Menjalin persahabatan adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan. Karena kita akan kesulitan hidup tanpa pertolongan orang lain. Terlebih jika persahabatan tersebut melibatkan oleh dua ulama yang begitu besar jasanya dalam mensyiarkan agama Islam di Indonesia. Persahabatan yang pastinya akan membawa keberkahan dan kemaslahatan bagi umat Islam.

Semasa hidupnya, Almaghfurlahu KH. M. Basori Alwi adalah kawan akrab dari Almaghfurlahu KH. Maimun Zubair (Mbah Moen). Usia kedua ulama sepuh yang hidup sampai usia 90 tahun lebih ini tidak terpaut jauh. Kyai Basori lahir di Singosari, Malang pada 15 April 1927, sementara Mbah Moen dilahirkan di Sarang, Rembang pada 28 Oktober 1928. (Versi lain menyebutkan 7 Pebruari 1929).

Menurut kalender hijriyah, Mbah Moen dan Kyai Basori telah berusia tiga tahun lebih tua dari penanggalan Masehi. Hal ini dikarenakan setiap 30 tahun masehi, usia seseorang akan bertambah satu tahun pada kalender hijriyahnya. Maka menurut kalender hijriyah, mengutip perhitungan M. Najib Bukhari, bahwa Mbah Moen lahir sekitar 27 Sya’ban 1347 H. Karena Mbah Moen pernah berkata bahwa beliau lahir Kamis Legi bulan Sya’ban tahun 1347 H. Sementara Kyai Bashori sebagaimana tertulis di batu nisannya, beliau lahir pada 12 Syawal 1345 H.

Keakraban keduanya juga terjalin keduanya satu sanad keilmuan, Mbah Moen di masa mudanya pernah belajar langsung kepada Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani Al-Makki (1910-1971) di Makkah al-Mukarromah, sementara Kyai Bashori belajar kepada putra Sayyid Alawi yakni Sayyid Muhammad bin Alawi (1944-2004) yang pernah bermukim di Kota Malang.

Hal ini juga berlanjut pada putranya kedua ulama ini. Putra Mbah Moen, KH. Muhammad Najih Maimoen dan KH. Luthfi Basori adalah sama-sama belajar langsung kepada Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani Ribath Rusaifah, Makkah al-Mukarramah. Sebagaimana ayahnya, Gus Najih dan Gus Luthfi juga dikenal gigih dalam memperjuangkan Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia.

“Saya ngaji di Abuya (Sayyid Muhammad) di Makkah selama 8 tahun, mulai tahun 1983-1991. Kalo abah mulai tahun 80-an sering ikut kemanapun Sayyid Muhammad berdakwah di Indonesia. Dengan Mbah Moen, Abah juga akrab karena sama-sama wali santri dari Ribath (Pesantren) Abuya bersama KH. Alawi Muhammad, Sampang” kata Gus Luthfi Basori yang akrab disapa Ammy Luthfi ini.

Ustadz Nanang Fahrur Rozi, santri Kyai Bashori pernah berkisah bahwa dulu ketika Mbah Moen  berceramah, maka Kyai Basori-lah yang akan  menggemakan ayat suci Al-Qur’an dengan suara merdunya. Dua sahabat ini saling merindukan satu sama lainnya. Keduanya juga sangat mendalam keilmuannya, Mbah Moen dikenal sebagai pakar sejarah Islam sementara Kyai Bashori adalah Pakar Ilmu Al-Qur’an dan Bahasa Arab.

Hal senada juga disampaikan oleh Gus Abdullah Murtadlo, cucu KH. Basori Alwi. Suatu ketika membersamai Kyai Basori takziyah ke Almaghfurlahu KH. Abdullah Faqih, Pengasuh Pondok Pesantren Langitan Tuban (lahir 2 Mei 1932 dan wafat 29 Februari 2012) ini, kakeknya tersebut pernah berkisah. Bahwa dulu dikenal ada trio singa podium, yakni Mbah Moen, Kyai Faqih, dan Kyai Bashori. Jika Mbah Moen atau Kyai Faqih yang ceramah, maka Kyai Bashori akan memulai acara dengan mengumandangkan kalam Illahi.

Pertemuan antara Kyai Basori dan Kyai Abdullah Faqih terjalin sejak lama. Ustadz Qusyairi bin Sihabuddin, alumni PIQ tahun 80-an yang saat ini mengabdi di Johor Malaysia mengisahkan bahwa suatu ketika Kyai Faqih kedatangan tamu Tri Sutrisno. Saat itu Wakil Presiden 1993-1998 itu meminta Kyai Faqih untuk berkenan menjadi Imam di Masjid Al-Akbar Surabaya yang dibangun sejak tahun 1995. 

Namun Kyai Faqih tidak langsung menjawab dan meminta waktu untuk istikharah. Beberapa hari kemudian jawaban tersebut muncul. Dalam istikharahnya, Kyai Faqih melihat sosok Kyai Bashori yang pantas menjadi Imam di Masjid Al-Akbar. Maka bersegeralah Kyai Faqih menghubungi Tri Sutrisno agar menemui Kyai Basori untuk meminta beliau menjadi Imam di salah satu masjid terbesar di Indonesia ini.

Jika ditelusuri lebih jauh, ternyata antara Kyai Faqih, Kyai Bashori dan Mbah Moen ternyata juga satu mata rantai keilmuan, yakni bertemu kepada Sayyid Alawi bin Abbas. Bahkan putra sulung Kyai Faqih, KH. Ubaidillah Faqih, ternyata adalah kakak tingkat Ammy Lutfi di Ribath Abuya di Makkah. Menurut Gus Buyung (sapaan akrab Gus Abdullah Murtadlo), kakeknya sempat berjumpa langsung dengan Sayyid Alawi yang saat itu menjadi salah satu Guru Besar di Masjidil Haram. 

“Kakek, setiap kali menunaikan ibadah haji, juga selalu mendatangi ke majelis Sayyid Muhammad di Makkah al-Mukarramah” ungkap Gus Buyung.

Dalam Biografi KHM. Basori Alwi, Sang Guru Qur’an disebutkan bahwa Kyai Basori lebih banyak bermulazamah (mengaji) kepada Sayyid Muhammad bin Alawi, baik ketika di Malang maupun ketika di Mekah. Setiap kali beliau datang di majelis ta’lim Sayyid Muhammad, beliau sering diminta untuk membaca Al-Qur’an dihadapan para hadirin. Tak cukup itu, Kyai Basori juga sering diminta untuk menjadi mutarjim (penerjemah) jika suatu waktu jamaah yang hadir banyak dari Indonesia.

Pertemuan Kyai Basori dengan Sayyid Muhammad terjadi karena Kyai Basori sering menghadiri Majelis Habib Alwi bin Salim Al-Idrus di Jalan Tanjung (sekarang Jl. Ir. Rais) Kota Malang. Ketika di Malang itulah, Sayyid Muhammad sering bersilaturahmi dengan Habib Alwi, sehingga kelak dikenalkan dengan Kyai Bashori.

Dari situlah kedekatan tersebut terus terjalin, hampir setiap pagi, Kyai Bashori dengan mengajak beberapa santrinya mengaji kepada Sayyid Muhammad di kawasan Langsep, Kota Malang. Begitu antusias Kyai Bashori ikut mengaji kepada al-Muhaddist Sayyid Muhammad, meski secara usia beliau lebih tua dari Sayyid Muhammad. Dari kedekatan yang intens itulah, Sayyid Muhammad yang melihat kondisi Kyai Basori yang sedang menderita sakit diabetes itu kemudian Sayyid Muhammad memberikan ijazah Ayat Syifa’ atau ayat-ayat kesembuhan.

Kisah wasiat Sayyid Muhammad dan ijazah Ayat Syifa’ bisa disimak di catatan kami sebelumnya. https://m.facebook.com/story/graphql_permalink/?graphql_id=UzpfSTEwMDAwMDcwOTMxMTQzMjozMTMxNjgyMzQzNTMyMDQ1

Kedua ulama ini, juga dikenal sebagai penulis produktif. Madarij ad-Durus al-Arabiyah 4 jilid adalah masterpiece karya Kyai Basori yang sejak lama telah lama menjadi pegangan dalam Pembelajaran Bahasa Arab di madrasah di Indonesia. Mabadi’ Ilm At-Tajwid (Pokok-Pokok Ilmu Tajwid) dilengkapi Kamus “Miftahul Huda” (Panduan Waqaf dan Ibtida’) juga telah menjadi panduan pembelajaran Al-Qur’an di tanah air, khususnya pada Metode Baca Al-Qur’an BILQOLAM ciptaan Kyai Bashori.

Dikutip dari laman piqsingosari.com, karya-karya Kyai Basori lainnya yang telah diterbitkan diantaranya: Dalil-Dalil Hukum Islam (Terjemahan Matan Ghayah Wat Taqrib, 2 Jilid), Al-Ghoroib Fii Ar-Rasm Al-Utsmany (Seputar bacaan dan tulisan asing dalam Mushaf Rasm Utsmany), Ahadiits Fi Fadhailil Qur’an Wa Qurra’ihi (Hadis-hadis tentang keutamaan Al-Qur’an dan para pembacanya), Terjemahan Syari’atullah Al-Khalidah (Karangan Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki), Pedoman Tauhid (Terjemahan Aqidatul Awwam), adalah sebagian dari karya suami Almaghgfurlaha Nyai Hj. Qomariyah binti Abdul Hamid.

Tak hanya itu, ia juga menulis buku dan kitab yang diberi nama, Pengantar Waraqaat Imam Al-Haramain, Membahas Kekuasaan (Terjemahan Al-Nasaih al-Diniyah Wa Al-Washaya Al-Imaniyah), Al-Miqat Al-Jawwi Li Hajji Indonesia (Miqat Udara bagi Haji Indonesia), Manasik Haji, Pedoman Singkat Imam dan Khotib Jum’at.

Selain itu, KH Bashori Alwi juga menulis buku atau kitab berjudul: Kumpulan khutbah Jum’at, At-Tadlhiyah, Petunjuk singkat tentang qurban, At-Tartil Waa Al-Lahn, risalah tentang Tepat dan Salah Baca dalam Al-Qur’an, Bina Ucap (Mahraj dan Sifat Huruf), Bina Ucap (Hamzah Washol dan Hamzal Qotho’), Dzikir Ba’da Shalat Jum’at, Zakat dan Penggunaannya, Hukum Talqin dan Tahlil, Tarawih dan Dasar Hukumnya, dan beberapa kitab dan risalah lainnya yang cukup popular di kalangan pesantren dan warga NU.

Kiai Basori beserta para santrinya melahirkan rekaman melalui kaset, MP3, VCD dan DVD yang memuat panduan pembelajaran Al-Qur’an, praktek metode pengajaran, teori-teori ilmu tajwid dan sebagainya. Semua produk itu di buat di studio milik pesantren. Sebagian rekaman dan pengajian tersebut juga banyak tersebar di dunia maya seperti Youtube, Facebook, Instragam  dan lain-lain.

Sementara itu, diantara karya KH. Maimoen Zubair yang telah tercetak dan tersebar luas diantaranya adalah al-Ulama’ al-Mujaddidun (Ulama-Ulama Pembaharu), Tarajim Masyayikh al-Ma’had ad-Diniyyah bi Saranj al-Qudama’ (Biografi Ulama Pengasuh Pesantren di Sarang Terdahulu), Maslak at-Tanassuk al-Makky fi al-Ittishalat bi as-Sayyid Muhammad bin Alawy al-Makky (Pedoman Beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Makki), Tsunami fi Biladina Indonesia Ahuwa ‘Adzab am Mushibah? (Tsunami di negeri kita Indonesia, Apakah Adzab ataukah musibah?), Nushus al-Akhyar fi Shaumi wal Ifthar (Dalil Pilihan dalam berpuasa dan berbuka).

Kumpulan ceramah Mbah Moen juga telah terdokumentasikan dalam Buku Oase Jiwa: Rangkuman Pengajian KH Maimoen/Maimun Zubair di Pesantren Al-Anwar Santri karya Muhammad Wahyudi. Pria yang bernama pena kanthong umur banyak mengunggah tentang petuah dan kisah Mbah Moen selama menjadi khadamnya (pembantunya). 

Belum lagi Kang Amirul Ulum, santri Mbah Moen yang telah bersiap menerbitkan 10 buku khusus tentang riwayat hidup dan perjuangan dakwah mahagurunya tersebut. KH. Maimoen Zubair Sang Kiai Teladan dan KH. Maimoen Zubair Nur Muhammad SAW adalah sebagian dari yang menguraikan biografi dan kiprah Mbah Moen semasa hidupnya. Netizen pun juga banyak yang menyebar ceramah dan kalam hikmah ulama kharismatik tersebut di berbagai laman media sosial.

Dan mahakarya terbesar dari beliau berdua adalah Pondok Pesantren. Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang yang menurut Gus H. Idror Maimoen, putra bungsu Mbah Moen ini, didirikan pada 1968 saat ayahandanya berusia 40 tahun. Sebelumnya Mbah Moen merintisnya dengan pengajian di musholla yang didirikannya di tepian Pantai Sarang. Sementara itu Kyai Basori mulai mendirikan Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) pada tanggal 1978, setelah lama berkiprah sebagai qori’, dewan hakim MTQ, dan pengajar di berbagai tempat. Baik Pesantren Al-Anwar maupun PIQ telah bertransformasi menjadi kawah candradimuka ribuan kader-kader dai ilallah di persada nusantara.

Dan kini, keduanya telah berpulang ke Rahmatullah. Kyai Maimoen wafat 6 Agustus 2019 (usia 92 tahun) bertepatan 5 Dzulhijjah 1440 H di Makkah Al-Mukarromah dan dikebumikan di Pemakaman Ma’la, Makkah. Beberapa bulan kemudian Kyai Basori menyusul sahabatnya, berpulang ke Rahmatullah pada 25 Maret 2020 bertepatan 28 Rajab 1441 H di kediamannya, Pesantren Ilmu Al-Qur’an dan dimakamkan di areal Yayasan Pendidikan Ilmu Al-Qur’an (YPIQ) Desa Tamanharjo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Semoga keduanya ditempatkan oleh Allah SWT di Roudhotan min Riyadhil Jinan (Taman dari Tamannya Surga). Semoga seiring dengan kepergian beliau berdua kita dapat meneladani jejak langkah hidupnya dan melanjutkan perjuangan dakwah keduanya ulama alim allamah ini. Dan harapan kita semua dapat diakui sebagai santrinya para ulama, seperti Kyai Bashori yang pernah berdoa di sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.

“Kabeh muridku mugo-mugo dadi ahli suargo kabeh” (Semua muridku semoga seluruhnya menjadi ahli Surga).

Teringat pula, wasiat Mbah Moen kepada penulis saat sowan ke kediamannya di areal Pondok Pesantren Al-Anwar, Karangmangu, Sarang, Rembang pada 18 Juli 2019, dimana saat itu beliau berkata demikian

“Sok kabeh bakal mlebu islam, lek wes ngono Gusti Allah bakal nyabut ilmune kelawan nyabut nyowo ulama’e (Kelak semua akan masuk islam, maka jika itu terjadi Allah akan 

mencabut ilmunya dengan mencabut nyawa ulama’nya). Hal ini selaras dengan hadist Rasulullah SAW, yakni:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ (رواه البخارى)

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menggangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan (HR. Bukhari).

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *