Sabar itu buah iman kepada qodho’ dan qodar Gusti Allah. Yakin bahwa gak cuma kebaikan, masalah dan musibah itu juga termasuk qodho’ dan qodar Gusti Allah.

Shohibur Rotibil Haddad, Ndoro Habib Abdullah Alawi Al Hadad, mengajak kita untuk ridho dengan qodho’ dan qodar lewat dzikir Rotibul Haddad ke-12 yang berbunyi :

بسم الله والحمد لله، والخير و الشر بمشيئة الله

“Dengan asma Gusti Allah dan segala puji bagi Gusti Allah, kebaikan serta keburukan adalah kehendak Gusti Allah”

Ini adalah doa dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW yg diijazahkan kepada Sayyidina Abu Huroiroh RA ketika akan melakukan perjalanan.

Bahwa bagaimanapun kita berdoa dan beramal, kita tetap seorang hamba yang tergantung takdir. Menerima takdir dan pasrah pada ketentuan adalah salah satu syarat orang itu disebut hamba yang baik. Sedangkan Gusti Allah tidak punya kewajiban untuk mengabulkan permohonan hamba-Nya. Di sinilah keimanan seorang hamba diuji. Apakah kita mengeluh pada takdir atau takut lalu berharap pada Gusti Allah? Bila lolos, derajat kewalian boleh jadi bisa didapat.

Nah, mungkin kita perlu belajar pada anak kecil dalam masalah kewalian ini. Anak kecil di mata orang dewasa terkadang dianggap remeh, nuakal, umbelen, bau ompol dan gak berguna. Namun ternyata anak kecil bisa mengajarkan kepada kita ilmu tentang kewalian. Ada dawuh dari Mbah Imam Suyuthy :

خمس خصال في الاطفال لو كانت في الكبار مع ربهم لكانوا أولياء: لا يهتمون بالرزق، ولا يشكون من خالقهم إذا مرضوا ، ويأكلون الطعام مجتمعين ، واذا خافوا جرت عيونهم بالدموع ، واذا تخاصموا تسارعوا إلى الصلح

“Ada lima perkara pada diri anak kecil bila dimiliki orang dewasa dalam bersikap kepada Gusti Allah, niscaya mereka adalah para waliyullah:”

  1. Tidak bingung dengan rejeki
  2. Tidak mengeluh kepada Penciptanya ketika sedang sakit
  3. Suka makan bersama-sama (bancaan, mayoran, mbathu)
  4. Jika dia merasa takut maka menetes air matanya
  5. Jika bertengkar bergegas mencari cara untuk berdamai.

Nah, itu sifat umumnya kanak-kanak yg pernah kita lalui. Kalau sifat itu diterapkan ketika berhubungan dengan Gusti Allah, sifat-sifat para wali bisa melekat pada kita.

Kalau kita perhatikan ciri waliyullah yang dibeberkan Mbah Imam Suyuthy di atas, yang terlintas di benak adalah sosok Mbah Yai Hamid Pasuruan yang pernah diceritakan oleh guru kami tentang sifat-sifat beliau.

Guru kami, Almaghfurlah KH Kholilurrohman, yang pernah menjadi khodim di ndalem Mbah Yai Hamid Pasuruan, bercerita bahwa Mbah Hamid Pasuruan itu punya tabiat seperti anak kecil. Mudah menangis, mudah tersenyum dan peka perasaannya. Gaya bicara Mbah Hamid pun lebih terkesan santai, polos dan seakan segala masalah itu gampang tapi dibalik itu terkandung kedalaman ilmu, kecerdasan dan makrifat batinnya Mbah Hamid.

Mbah Hamid di awal-awal beliau mukim di Pasuruan, banyak yang memusuhi beliau. Mulai dari ndalem beliau yang selalu dilempari batu hingga dikirimi barang-barang aneh lewat santet. Tapi semua tidak membuat Mbah Hamid kehilangan wajah ceria dan ademnya. Tidak pernah terlihat Mbah Hamid mengeluh dan sambat atas itu semua. Semua keadaan itu dibuat senang, sabar dan tenang karena keyakinannya yang sangat mendalam. Hal itulah yang akhirnya malah bikin masyarakat jatuh cinta pada Mbah Hamid.

Mungkin maqolah Mbah Imam Suyuthy ini bisa jadi renungan, mbah, agar kita bisa lebih sabar dan tenang dalam menghadapi masalah. Sabar dan tenang dalam arti kita semakin bisa memaknai masalah atau musibah yg datang dan semakin sadar bahwa status kita hanyalah hamba Gusti Allah. Dan ciri hamba adalah ridho dan senang dengan kehendak Sang Juragan. Apapun itu, baik atau buruk.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *