Di Poleng, Nganjuk ada sebuah pondok antik nan klasik. Anda masuk situ,  akan berasa seperti di zaman perjuangan.Terdapat rumah sederhana berdiri tahun 1771 yang sudah ditempati lima generasi (pertama Kiai Fathurrohman,  kedua Kiai Musthofa, ketiga Kiai Nur Muhyiddin, keempat Kiai Sholeh, dan  kelima Kiai Zainuddin). Di sebelahnya ada pondok kecil terbuat dari gedek dan batu-bata plus ada makam sepuh yang punya aura misitis. 

Di situlah KH. Zainuddin bertempat. Pria kelahiran1940-an yang sederhana ini saat saya temui sambil menghisap tembakau berkisah banyak hal tentang pengalaman masa lalunya.

Beliau yang juga menjaga tradisi dalam  membuat jamu tradisonal ini mempunyai beberapa putra yang antik. Ada yang sering didadatangi politisi dan aparat, ada juga putranya yang sudah tahunan tidak keluar rumah.

Kiai Zen atau biasa kami panggil Pakdhe Zen ini rumahnya tempat berkholwat sekaligus bersembunyi KH. Wahid Hasyim. 

Saat korona ini, Kiai Zen bilang ngajinya tidak ditutup sehingga banyak pedagang kecil yang mengais hidup dari jualan es dan pentol menyerbu untuk menjajakan kepada para anak kecil yang ngaji.

Kiai Zen yang mondok  di Tambakberas tahun 1952-1959 lalu melanjutkan ke Sarang ini berkisah pula tentang KH. Wahab Chasbullah dan KH. Hamid Chasbullah.

Beliau ketika di Tambakberas bertempat di pondok panggung tepat di depan Ndalem Mbah Kiai Wahab. Tugasnya adalah menyetrika baju Mbah Kiai Wahab.

Tentang Mbah Kiai Hamid Chasbullah, Kiai Zen mengisahkan bahwa Mbah Hamid menulis satu buku tentang Tasrifan, sayang bukunya sudah hilang.

Kiai Zen juga bercerita ada santri bernama Abdul Ghoni dari Rangkah Surabaya yang meminta ijazah kepada Mbah Kiai Hamid, justru disuruh agar menghapalkan dan mewiridkan Jurumiyah. Kata Kiai Zen, sepulang dari pondok, Kiai Abdul Ghoni mengajar santri.

Ada kisah tentang kutu tinggi. Suatu kali, Kiai Zen mengaji di amben dan di situ banyak kutu tinggi. Saat ada yang mau dijites (dibunuh), justru Mbah Kiai Hamid melarangnya. Saya teringat pengalaman di saat ini banyak kutu tinggi di tempat tidur. Saya relakan badan digigit, tapi gantinya tiap dua hari saya ambil tinggi dan saya berikan ke ikan hias yang ada di kolam.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *