Menelusuri Nasab Ibunda Pendiri Pesantren Sidogiri dan Sidoremso
Beberapa minggu silam, saya berkesempatan berjumpa dengan beberapa anggota Keluarga Kesultanan Banten. Kesultanan Banten sendiri didirkan oleh Syarif Hidayatullah yang dikenal dengan Sunan Gunung Jati.
Berawal sekitar tahun 1526, ketika kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke kawasan pesisir barat Pulau Jawa, dengan menaklukkan beberapa kawasan pelabuhan kemudian menjadikannya sebagai pangkalan militer serta kawasan perdagangan sebagai antisipasi terealisasinya perjanjian antara kerajaan Sunda dan Portugis.
Syarif Hidayatullah kemudian kembali ke kesultanan Cirebon untuk menerima tanggung jawab sebagai penguasa kesultanan Cirebon pada 1479. Selanjutnya tahta kesultanan diserahkan kepada Pangeran Sabakingkin, putra Sunan Gunung Jati dari istrinya, Nyai Kawangunten, putri Sang Surosowan, Penguasa Banten saat itu. (Wikipedia).
Berangkat pagi hari dari Pondok Pesantren KH. Imaduddin Usman, Pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum, Cempaka, Kresek, Tangerang, kami bergerak menuju Gedung Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat. Tujuan kami adalah melacak sejarah Aria Wangsakara, Imam Kesultanan Banten dan Pejuang Kesultanan Banten.
Selepas dari agenda dari Jakarta, kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Tangerang untuk pertemuan lanjutan dengan Ibu Eni Suhaeni, adik Kandung Dr. Wahidin Halim, Gubernur Banten yang juga masih trah Aria Wangsakara bersama Prof. Dr. (HC) KH. Ma’ruf Amin, Wakil Presiden Republik Indonesia. Di sela-sela pertemuan, saya sempat menanyakan tentang klarifikasi tentang nasab Syarifah Khadijah, Ibunda Sayyid Sulaiman, Pendiri Pondok Pesantren Sidogiri dan Sayyid Arif Segoropuro.
Dalam kesempatan itu saya menanyakan langsung ke Tubagus Mughiroh Nur Fadhil, Ketua Babad Kesultanan Banten tentang nasab catatan yang menunjukkan bahwa masih Syarifah Khodijah masih trah Kesultanan Banten? Karena dalam referensi yang pernah kami baca dan berziarah ke makam tiga tokoh tersebut disebutkan bahwa Syarifah Khodijah adalah putri dari Maulana Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)?
Motif kami menelusuri nasab ini adalah karena sanad keilmuan. Saya pernah belajar di Pondok Pesantren Al-Yasini, Pasuruan yang mana KH. Abdul Mujib Imron, SH, MH, sang pengasuh adalah alumni Pondok Pesantren Sidogiri. Begitu juga dengan guru-guru saya banyak yang pernah belajar di salah satu pesantren di Jawa ini. Saya pun hampir setiap pekan ke pesantren yang berlokasi sekitar tiga kilometer dari pesantren kami. Terkadang jalan kaki, mancal, naik mobil bahkan seringkali harus minta tolong pengendara motor yang sedang melintas di Jalan Sidogiri-Ngabar ini.
Menurut Tubagus Mughi Nur Fadhil dan KH. Imamuddin Usman merujuk pada Babad Kesultanan Banten terkuak fakta bahwa memang Syarifah Khodijah itu keturunan langsung Sunan Gunung Jati. Namun bukan dari jalur Sultan Maulana Hasanuddin Banten tetapi dari jalur Pangeran Pasarean, Sultan Cirebon pengganti Sunan Gunung Jati (w.1568).
Berikut nasab selengkapnya, Syarifah Khodijah binti Panembahan Girilaya (Jogjakarta) bin Pangeran Sendang Gayem bin Panembahan Ratu bin Pangeran Dipati Cirebon alias Pangeran Sendang Kemuning bin Pangeran Pasarean, Cirebon bin Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
Pangeran Pasarean sendiri bernama asli Pangeran Muhammad Arifin putra Sunan Gunung Jati dari ibu Nyi Mae Tapa Sari atau Putri Ki Ageng Tepasan dari Majapahit. Sedangkan Maulana Hasanuddin adalah putra Sunan Gunung Jati dari Nyai Kawangunten.
Berdasar data naskah manuskrip yang tua yakni tahun 1720 M dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Maulana Hasanudin lahir tahun 1478 M yang memerintah Kesultanan Banten, sedangkan adiknya Pangeran Pasarean lahir tahun 1495 M.
Setelah dewasa, beliau sering menggantikan ayahnya dalam menjalankan tugas pemerintahan sehari-hari bila Sunan Gunung Jati berdakwah di daerah-daerah. Sehingga, beliau mendapat gelar Adipati Pangeran Pasarean.
“Salah satu tugas khususnya adalah membuat dan menjaga tapal batas Kasultanan Cirebon dengan Kerajaan Galuh,” jelas Hasan saat ditemui dejabar.id di Situs Keramat Panembahan Pangeran Pasarean, Gegunung, Sumber, Kabupaten Cirebon, Minggu (30/9/2018).
Syarifah Khodijah dikenal dengan Mbah Ratu Ibu juga disebut Mbah Ratu Ayu Bangil. Dikisahkan bahwa suatu ketika beliau mendadak dirundung rasa kangen yang begitu dalam kepada kedua putranya yang tengah belajar agama di pondok pesantren milik Mbah Soleh Semendi di daerah Winongan, Pasuruan yang tak lain adalah masih terhitung familinya.
Maka berangkatlah beliau mengunjungi kedua putranya, Sayid Arifuddin (Arif Segoropuro) dan Sayid Sulaiman Mojoagung yang belajar di pesantren di Winongan. Sayyid Sulaiman. Namun sepulang menjenguk kedua putranya tersebut, Mbah Ratu Ibu mendadak sakit saat di daerah Bangil dan akhirnya meninggal. Setelah meninggal Syarifah Khadijah dimakamkan di pemakaman di daerah yang sekarang disebut dengan Wetan Alun karena memang letaknya di Wetan (Bahasa Jawa yang artinya Timur) dari alun-alun Bangil tepatnya berada di Jalan Untung Suropati, Kersikan, Bangil, Pasuruan.
Dikutip dari Sidogiri.net, Sayyid Sulaiman sendiri membabat dan mendirikan pondok pesantren di Sidogiri dengan dibantu oleh Kiai Aminullah. Kiai Aminullah adalah santri sekaligus menantu Sayyid Sulaiman yang berasal dari Pulau Bawean.
Konon pembabatan Sidogiri dilakukan selama 40 hari. Saat itu Sidogiri masih berupa hutan belantara yang tak terjamah manusia dan dihuni oleh banyak makhluk halus. Sidogiri dipilih untuk dibabat dan dijadikan pondok pesantren karena diyakini tanahnya baik dan berkah.
Terdapat dua versi tentang tahun berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri yaitu 1718 atau 1745. Dalam suatu catatan yang ditulis Panca Warga tahun 1963 disebutkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri didirikan tahun 1718. Catatan itu ditandatangani oleh Almaghfurlahum KH Noerhasan Nawawie, KH Cholil Nawawie, dan KA Sa’doellah Nawawie pada 29 Oktober 1963.
Dalam surat lain tahun 1971 yang ditandatangani oleh KA Sa’doellah Nawawie, tertulis bahwa tahun tersebut (1971) merupakan hari ulang tahun Pondok Pesantren Sidogiri yang ke-226. Dari sini disimpulkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri berdiri pada tahun 1745. Dalam kenyataannya, versi terakhir inilah yang dijadikan patokan hari ulang tahun atau ikhtibar Pondok Pesantren Sidogiri setiap akhir tahun pelajaran.
Tentang kekhilafan nasab Syarifah Khodijah langsung ke Maulana Hasanuddin adalah dikarenakan kesalahan penulis sejarah yang mengkaitkan bahwa Sayyid Abdurrahman Basyaiban itu orang yang sama dengan Sayyid Abdurrahman, menantu Sultan Maulana Hasanuddin. Padahal keduanya orang yang berbeda dan kurunnya terpaut cukup jauh.
Kejanggalan juga ini bisa dilihat dari Maulana Hasanuddin atau Pangeran Sabakingkin dan berkuasa di Banten dalam rentang waktu 1552 – 1570. Beliau lahir di Cirebon pada tahun 1478 dan wafat 1570. Sedangkan Pondok Pesantren Sidogiri baru berdiri 1718 atau 1745.
Maka dipandang dari rentang waktu saja sudah terpaut cukup jauh, yakni hampir satu abad jaraknya dengan wafatnya Maulana Hasanuddin dengan berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri yang didirikan oleh Sayyid Sulaiman putra dari Sayyid Abdurrahman Basyaiban dan Syarifah Khodijah ini.
Maka nasab Syarifah Khodijah yang benar menurut catatan Babad Kesultanan Banten adalah Syarifah Khodijah generasi kedelapan dari Sunan Gunung Jati. Nasab Sunan Gunung Jati ke atas juga bersumber sampai kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Dan berikut nasab selengkapnya:
Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) bin Syarif Abdullah + Nyi Hajjah Syarifah Mudaim binti Raja Pajajaran Sunda (Nyi Mas Rara Santang) bin Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Akbar Al-Husein bin Al-Amir Ahmad Syekh Jalaludin bin Amir Abdullah Khan bin Abdul Malik Adzmatkhan (India) Alwi ‘Ammul faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa Al-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein As-Sibthi bin Sayyidah Fatimah Al-Zahra’ RA (suami Ali bin Abi Thalib) binti Rasulullah SAW.
Selain Sayyid Sulaiman dan Sayyid Arif, keturunan Syarifah Khodijah lainnya adalah Sayyid Ali Akbar yang berdakwah di Sidoresmo (sekarang menjadi salah satu kelurahan di Kota Surabaya). Beliau berputra sayyid badruddin, Sayyid Ghozali, Sayyid Ibrahim , Sayyid Abdullah, Sayyid Iskandar dan Sayyid ali Ashghor (masih dalam kandungan).
Dikutip dari catatan Muhammad Khoir Basyaiban, Sayyid Ali Ashghor kelak setelah dewasa, belajar ilmu agama langsung ke-ibunya dan saudara-saudaranya secara bergilir. antara Sayyid Badruddin, Sayyid Ghozali , Sayyid Ibrahim dan Sayyid Iskandar saling bergantian waktu untuk mendidik adiknya itu . karena para kakak-kakaknya adalah target pencarian belanda maka cara mengajarnya pun secara sembunyi-sembunyi. Akhirnya berkat pendidikan dari ibunda dan saudara-saudara beliau jadilah Sayyid Ali Ashghor seorang yg ‘alim , pemberani, zuhud dan wara’ .
Singkat kisah beliau menikah dengan putri sahabat dan family dekat ayahnya, Sayyid Hasan sanusi atau Mbah Selaga Pasuruan yang bernama ‘Dewi Muthi’ah’ atau Nyai Muthi . itu karena sudah menjadi keinginan orangtua mereka dulu untuk berbesan. Tercatat dari hasil perkawinan beliau dengan nyai muthi mempunyai beberapa putra dan putri . antara lain : Robi’ah – Tamim – Sahal – Mujahid – ‘Amiroh – Ruqoyyah – Nadhifah – ‘Azimah – Sholihati.
Kelak dari keturunan Sayyid Ali Akbar akan banyak melahirkan ulama-ulama di Sidoresmo, Wonokromo, Surabaya. Sidoresmo sendiri berasal dari Sing Nderes Kabehe Limo (Yang Ngaji Semuanya Lima), karena masa awal berdirinya pesantren, saat itu jumlah muridnya ada lima orang. Namun dari jumlah yang tak seberapa kelak akan menjamur menjadi beberapa pesantren di di sekitar Sidoresmo
Baik Pesantren Sidogiri maupun Pesantren Sidoremo, kelak akan melahirkan banyak ulama-ulama. Mereka akan merintis banyak pesantren, madrasah yang menjadi kawah candradimuka kader-kader penyebar Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang sebelumnya telah disebarluaskan oleh Wali Songo termasuk datuk mereka Sunan Gunung Jati. Dari sini simpul jejaring keilmuan mereka akan menyebar di hampir seluruh pelosok Jawa dan Nusantara.
Wallahu a’lam

No responses yet