Istilah ini sudah saya dengar sejak pertama kali makan bangku kuliah, akhir tahun 90-an. Fundamentalisme bermakna kurang lebih sebagai sikap kaku dan tertutup dalam memahami teks-teks suci agama. Sikap ini dinilai tak cocok bagi kehidupan modern, bahkan salah satu penyebab kekerasan keagamaan.
Sekarang istilah ini memang kurang banyak terdengar. Kalah “tenar” dengan ekstremisme yang tengah naik daun. Mungkin juga lantaran fundamentalisme mengalami peyorasi, pemburukan makna, yang tidak jarang terjadi dalam dunia kata dan bahasa. Seperti kata “bunting” yang terdengar buruk ketimbang “hamil”.
Di Indonesia, sebagian kalangan mengkritik penggunaan konsep fundamentalisme untuk membidik fenomena keislaman. Istilah yang merujuk pada pengalaman “Kristen” tidak tepat diletakkan dengan pengalaman komunitas Islam. Kritik lainnya muncul karena anggapan bahwa konsep ini kurang jelas dan hanya melahirkan stigma.
Kelihatannya sebagian mereka merujuk pandangan John Louis Esposito, pengamat Islam dari Amerika Serikat yang lebih simpatik terhadap Islam. Saat menjadi mahasiswa di era 90-an itu, saya membaca buku Espositoyang sudah diterjemahkan dan diterbitkan Mizan berjudul Ancaman Islam: Mitos atau Realitas sejak 1994. Buku itu dicetak berulang-ulang.
“Saya menganggap ‘fundamentalisme’ terlalu dibebani oleh praduga Kristen dan Stereotip Barat dan juga menyiratkan ancaman monolitik yang tidak pernah ada,” kata mantan Presiden Middle East Study Association (MESA) itu. Sebagai gantinya, Esposito menyuguhkan istilah lain: kebangkitan Islam (Islamic revivalism) atau aktivisme Islam (Islamic revivalism). Buku terjemahan itu saya simpan hingga sekarang. Sialnya ketika saya periksa kembali, buku itu rupanya milik senior saya yang lupa saya kembalikan.
—
Dari peta perdebatan ini sepertinya fundamentalisme seseorang yang tengah berdiri di depan pintu atau di halaman rumah. Sedang di dalam rumah, seseorang duduk menunggu orang di luar mengetuk pintu dan masuk menemuinya. Orang dalam rumah itu bernama radikalisme. Sedang proses seseorang dari halaman rumah, menuju pintu, lalu membuka, dan masuk ke dalam, tak lain disebut sebagai radikalisasi.
Kalimulya, 16 Juli 2020
Alamsyah M Dja’far
Sumber foto: www.sorenmosdal.com

No responses yet