Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura mencatat, bahwa para ulama berjasa besar dalam membangun peradaban. Teristimewa, setelah kerajaan yang semula menganut Hindu ini beralih menjadi kesultanan besar yang berlandaskan Islam. Kesultanan Kutai memberikan kedudukan terhormat bagi ulama ini setidaknya terlihat dari posisi mereka sebagai penasihat sultan.
Salah satu mufti Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang dikenal oleh masyarakat Kutai sebagai Habib Muhammad bin Hasan bin Thaha BinYahya Tenggarong. Beliau adalahTokoh berdarah Arab keturunan dari Hadramaut, Yaman, beliau ini menjabat sebagai mufti atas permintaan Sultan Aji Sultan Alimuddin (1899-1910M) raja Kutai Kertanegara ke-18 meski Habib Yahya bukan warga asli Kutai, beliau sebenarnya berasal dari Penang, Malaysia.
Perkenalan tokoh yang lahir pada 1844 M ini dengan Sultan Aji berawal dari pengembaraannya di sejumlah wilayah Nusantara, terutama di wilayah Timur. Pada 1877M, beliau singgah di Tenggarong (kini masuk wilayah Kalimantan Timur) dan akhirnya menetap serta berdakwah di daerah tersebut. Kiprah beliau yang semakin intensif dikenal luas oleh masyarakat setempat membuat beliau dikenal dengan panggilan Tenggarong di ujung namanya yakni Habib Tenggarong.
Kabar tentang kehadiran seorang ulama muda yang berilmu, bersahaja, dan berwibawa terdengar oleh Sultan Aji. Sang sultan meminta Habib Yahya yang saat itu berumur 33 tahun untuk mengobati Aji Aisyah Gelar Aji Raden Resminingpuri, putri sang sultan. Atas izin Allah SWT sang putri kemudian sembuh. Sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Habib Tenggarong, begitu akrab disapa, Sultan Aji menikahkan putrinya tersebut dengan tokoh ulama tersohor itu.
Sultan Aji memberi jabatan kepercayaan kepada wulaity, sebutan untuk keturunan Hadhramaut Yaman Selatan tersebut, berupa kedudukan sebagai penghulu dan mufti kesultanan. Selama menjabat sebagai mufti, beliau bergelar Raden Syarif Pangeran Noto Igomo.
Jabatan yang diemban Habib Tenggarong, bukanlah posisi yang sembarangan. Beliau memiliki wewenang penuh untuk mengurus segala persoalan kesultanan yang berkaitan dengan keagamaan. Tidak hanya di lingkunan istana, tetapi juga bertugas sebagai guru bagi masyarakat Kesultanan Kutai.
Tak heran bila di luar kesibukan beliau sebagai mufti resmi kesultanan, beliau tetap meluangkan waktu untuk mendidik masyarakat. Beliau aktif mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat Kutai, dari ilmu syariat sampai ilmu hakikat (tasawuf). Semasa hidupnya beliau curahkan segenap kemampuan untuk kemaslahatan umat dan masyarakat di Kerajaan Kutai dan sekitarnya.
Bersama para ulama lain seperti Syekh Ali Junaidi Al-Banjari (Syekh Ali Junaidi bin Qadi Muhammad bin Mufti Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari) dan Syekh Abu Thalhah Al-Banjari (Abu Thalhah bin Mufti H. Muhammad As’ad bin Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari), Habib Tenggarong mendorong akselerasi dakwah Islam di Kalimantan. Salah satu rekan berdakwah yang menyokong “jihad”-nya tersebut adalah Habib Alwi bin Abdullah al-Habsyi yang tinggal di Barabai Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Keduanya adalah sahabat dekat selama berada di Hadramaut dan dipertemukan kembali oleh Allah di tanah Kalimantan.
Hubungan sesama sahabat dan ulama ini terjalin sangat baik dan keduanya dikenal bahu membahu menyebarkan agama Islam di Kalimantan. Ini misalnya terlihat dari kerja sama antarkeduanya dalam membangun perekonomian masyarakat. Pada saat Habib Alwi membangun Pasar Batu di Hulu Sungai, Habib Tenggarong mengirimkan bantuan berupa semen dan batu.
Pada tanggal 26 Rabiul Awal tahun 1366 Hijriyah atau bertepatan dengan 17 Februari 1947 M, Habib Muhammad bin Yahya gelar Raden Syarif Pangeran Noto Igomo wafat. Jenazahnya dimakamkan di komplek Makam kelambu kuning, Melayu, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Peristirahatan terakhirnya tersebut berdekatan dengan makam istri dan mertuanya, Sultan Aji Muhammad Alimuddin. Saat ini, Kompleks pemakaman Sultan Aji Muhammad Alimuddin dan Pangeran Noto Igomo telah dijadikan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.
Haul atau peringatan hari wafatnya selalu diperingati setiap tahunnya di Tenggarong. Haul Pangeran Noto Igomo sering disekaliguskan bersama dengan haul Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sultan Kutai ke-18.
Disusun dari berbagai sumber, baik yang tertulis maupun yang tradisi lisan dan kisah-kisah yang bisa dipertanggungjawabkan.

No responses yet