Kita tahu, bahwa Allah memiliki banyak sifat di dalam al-Quran. Salah satu sifat Allah yang sangat mulia adalah kasih sayang-Nya kepada setiap makhluk-Nya. Cinta-Nya kepada hamba-hamba-Nya itu tidak terbatas dan lintas zaman.

Lalu, bagaimana dengan cinta seorang hamba kepada Tuhannya?

Dalam hal ini, al-Būtī menjelaskan bahwa mencintai Allah merupakan kewajiban yang melekat kepada setiap hamba-hamba-Nya. Mengapa demikian? Karena nikmat Allah yang diberikan kepada umat manusia, teramat banyak dan tak terhitung jumlahnya (QS. al-Nahl: 18).

Oleh karena itu, menurut al-Būtī, bahwa cinta kepada Allah adalah tujuan, bukan sarana. Karena hubungan manusia dengan Tuhannya meniscayakan adanya cinta kepada-Nya. Meskipun, ia harus menerima siksa-Nya dan amal ibadahnya tidak diterima sekalipun. Sebab, makna penghambaan diri meniscayakan adanya hal demikian.

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa sejatinya cinta bukan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, cinta adalah tujuan yang harus diraih oleh setiap hamba dalam berinterksi dengan Tuhannya. Perasaan cinta yang besar kepada Allah adalah tujuan, terlepas dari dampak yang ditimbulkan dari cinta itu sendiri, berupa penghambaan kepada Allah secara seutuhnya.

Dalam konteks ini, al-Būtī ingin menyakinkan bahwa buah cinta manusia kepada Allah adalah kasih sayang kepada orang yang dekat dengan-Nya.

Terkadang, perasaan cinta itu juga menuntut timbulnya rasa benci karena-Nya. Karena benci karena-Nya itu tidak diarahkan kepada pribadi seorang hamba, namun pada kemaksiatan atau kekufuran yang dilakukannya. Jadi, membenci pada kemaksiatan yang dilakukan seorang hamba menunjukkan cinta kepada-Nya.

Bertolak dari sini, sebagai seorang muslim tidak boleh membenci pelaku maksiat (al-‘āshī). Akan tetapi, bencilah pada perbuatan maksiatnya. Sebab, benci kepada perbuatan maksiat adalah bukti cinta kepada Allah.

Demikian halnya, tidak membenci pelaku maksiat (al-‘āshī) merupakan bukti cinta kepada Allah. Bahkan, sikap tidak membenci pelaku maksiat merupakan cerminan dari sifat kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Pada konteks inilah, jika ada juru dakwah yang membenci dan menjauhi pelaku maksiat, berarti secara tidak sadar ia membenci dan “menjaga jarak” dari objek dakwahnya. Karena misi utama dakwah adalah mengajak pelaku maksiat (al-‘āshī) dari jauh dengan Tuhannya menjadi dekat, dari gemar maksiat menuju taat.

Pertanyaannya, bagaimana cara untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Allah ini?

Tips dari al-Būtī adalah: (1) memperbanyak berzikir kepada-Nya dan selalu merasa diawasi oleh-Nya; (2) menjaga diri secara maksimal untuk menjauhi makanan haram; (3) duduk bersama orang-orang saleh.

Semoga, kita bisa mengamalkan tips di atas, sehingga cinta kita makin tebal kepada-Nya. Wallāhu a’lam[]

Kamis bakda subuh, 23 Juli 2020

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *