Jangan pernah percaya politisi— kata Nikita Khurchev.  Politisi berjanji akan buatkan jembatan di mana tak ada sungai —lanjutnya dalam sebuah pidato penuh herois di politbiro Rusia kala itu. 

Erdogan juga politisi, dia tak sesederhana yang antum bayangkan atau tidak sesimpel yang antum pikirkan. Padanya terdapat banyak kepentingan, presure juga rencana politik baik domestik atau global. 

Aya Shophia juga bukan sembarang katedral yang diubah menjadi masjid atau museum— tapi ia adalah simbol yang bisa memainkan perasaan dan hati umat beragama, pendek kata, Aya Shophia bisa bikin siapapaun memendam rasa. Menyimpan tradisi kelam dan tangis karena kalah, atau riang menyambut kemenangan. 

Aya Shophia adalah kartu truf, semacam ‘gico wolak walik’. Jangan lupa, Turki adalah negara sekuler yang sukses merubuhkan khilafah Islam Ottoman, pengikut Mustapha Kemal juga  masih militan dan dominan. Erdogan butuh suara militan Islam termasuk suku Kurdistan yang kerap membangkang. Maka Aya Shophia menjadi perekat. Politik domestik Erdogan aman terkendali dan jaminan terpilih kembali pada periode berikuthya. 

*^^^*

Seteru antara Turki dan Saudi belum juga surut, kompetisi berebut menjadi pemimpin dunia Islam juga masih berlangsung. Dunia Arab krisis pemimpin tak ada yang bisa disebut dan tak punya prestasi hanya sibuk berbenah karena takut perubahan yang bisa datang sewaktu-waktu. Raja Salman sudah tua dan udzur, tak cukup tenaga dan visi menjadi pemimpin negara-negara arab yang dikenal dinamis dan konflik berdurasi tinggi. 

Kondisi negara-negara Islam di Afrika — babak belur dihajar konflik antar kabilah usai dihancurkan Amerika karena alasan terorisme— Libya, Mesir, Aljazair sudahlah habis bahkan nama presidennya pun jarang disebut. Begitu pula dengan negara Islam teluk — Monarchy ini tak perduli dengan tetangga sekitar. Karena sebagian besar Amir nya adalah piaraan Amerika dan sekutunya. Hidup mewah, sirkuit dan pacuan. 

Erdogan tahu itu — dan cerdas memanfaatkan. Aya Shophia dimainkan. Menjadi isu besar dunia Islam. Reputasi raja Salman makin tenggelam, reputasi Erdogan naik tajam. Tak perlu mahkota untuk menjadi pemimpin dunia Islam sebab Erdogan telah merebut banyak hati umat sebagai simbol ghirah dan kebangkitan Islam.

*^^^*

Politik domestik dan global dalam satu genggaman — Erdogan cukup jeli berhitung. Mungkin ia tak sekuat pendahulunya Mustapha Kemal, tapi ia justru gunakan Muhammad al Fatih untuk mendongkrak reputasinya. Dan janji politisi memang sangat manis : ia akan bangunkan kita masdjid di atas air yang kubahnya terbuat dari angin —-

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *