قال رجل لعمر بن عبد العزيز :

احذر ان تكون ممن يخالط الصالحين ولا ينتفع بهم او يلوم المذنبين ولا يجتنب الذنوب او ممن يلعن الشيطان في العلانية ويطيعه في السر

Telah berkata Khalifah Umar bin Abdul Aziz RA kepada seseorang:

“Hati-hatilah menjadi orang yang bercampur dengan orang sholihin namun tidak bisa mengambil dari orang-orang soleh atau menjadi orang yang mencela para pendosa sedangkan dia tidak menjauhi dosa-dosa atau termasuk orang yang melaknat syaithan tatkala dihadapan manusia akan tetapi menaati syaithan tatkala sendirian”

*Pembukaan Majelis Ta’lim Abdurrahmiyyah bersama Gus Abdullah Murtadho, Cucu KH. Bashori Alwi Murtadlo (Pendiri  Pesantren Ilmu Al-Qur’an Singosari) , Gus H. Aminuddin Kholis bin KH. Abdullah Kamal Mufidz (Pendiri Madrasah dan TPQ Darul Mujawwidin Singosari) dan Alumni Pesantren Ilmu Al-Qur’an (APIQ) Kepanjen di Toko Marhaban Kepanjen Kabupaten Malang*

Kepada Almaghfurlahu KH. Abdullah Mufidz, kami mulai saat masa kanak-kanak belajar membaca Al-Qur’an di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Darul Mujawwidin dengan menggunakan metode Qiroati sebelum kemudian mulai belajar menghafalkan Al-Qur’an di bawah asuhan Almaghfurlahu KH. Maftuh Sa’id, Pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwariyyah, Sudimoro, Bululawang, Malang. Selanjutnya alfaqir juga sempat talaqqi ke Almaghfurlahu KH. Bashori Alwi Murtadlo di Pesantren Ilmu Al-Qur’an, Singosari pada bulan Pesantren Ramadhan 2014 silam.

Meski tak lama belajar kepada beliau berdua, namun kami merasakan keberkahan luar biasa saat mereguk samudera ilmu bersama keduanya. Kedua guru mulia ini adalah Ahlul Qur’an yang sama-sama pernah beristifadah kepada al-Muqri’ Al-mahgfurlahu KH. Arwani Amin Kudus, Pendiri Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus dan Pengarang Faidhul Barokat fi Sab’i al-Qiro’at.

KH. Abdullah Kamal Mufidz yang asli Kudus ini lama bermulazamah kepada KH. Arwani Amin selain mengaji kepada pamannya sendiri KH. Hisyam Hayat (Pendiri Pondok Pesantren Roudhotul Mardliyah, Kudus). Sementara  KH. Basori Alwi yang dikenal sebagai Qori Internasional ini dikisahkan pernah bertalaqqi surat Al-Fatihah kepada KH. Arwani dan mendapatkan syahadah dari murid kesayangan KH. Munawwir (Pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Jogjakarta).

Ada kisah menarik saat kami berpartisipasi dalam Musabaqah Hifdz Al-Qur’an wal Hadist (MHQH) Pangeran Sultan Bin Abdul Aziz Alu Su’ud Rahimahullah Tingkat Nasional Tahun 2017. Dimana saat alfaqir ikut dalam MHQ Cabang 20 Juz mewakili Pondok Pesantren Raudlatus Sholihin, Wetan Pasar Besar Kota Malang. Saat itu kami berangkat atas perintah dari guru kami, KH. Chusaini sekaligus termotivasi pada sosok KH. Basori Alwi yang lahir pada 15 April 1927 dan wafat 24 Maret 2020 pada usia 93 tahun (96 tahun hijriyah) ini merupakan salah satu perintis MTQ Internasional pada perhelatan Konferensi Islam Asia Afrika tahun 1965.

Pada tahun itu acara diselenggarakan atas kerjasama Kedutaan Besar Saudi Arabia di Indonesia dengan Kementerian Agama Republik Indonesia itu, diselenggarakan di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta Timur. Ratusan peserta dari penjuru tanah air bergabung untuk berkompetensi dalam syiar Al-Qur’an. Mereka berangkat dari berbagai pesantren, kampus, maupun instansi lintas ormas lintas aliran. Saat itu yang diujikan hanya cabang Hafalan Al-Qur’an dan Hafalan Hadist.

Singkat cerita pada giliran kami maju, maka dengan mengucap bismillah naiklah kami ke atas panggung dan juri pun mengajukan pertanyaan. Namun saat pertanyaan telah terlontarkan lidah kami tak kesulitan dan melanjutkan bacaan para juri. Ajaibnya bel pun sering berdering alias goblok ndadak. Hafalan di otak seakan-akan hilang seketika. Begitu juga pada pertanyaan selanjutnya semua sulit sekali kami jawab.

Maka di tengah kondisi yang menegangkan itu, teringatlah saya bahwa kejadian ini karena kami kurang muroja’ah hafalan. Padahal sebelumnya alfaqir optimis minimal tujuh puluh persen dari jumlah juz Insya Allah sudah di luar kepala. Namun apa daya, lidah terasa kelu membisu untuk sekedar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dewan juri.

Maka teringatlah kami, bahwa sebenarnya alfaqir adalah anak murid KH. Arwani Amin. Dimana beliau pernah berwasiat agar santri-santrinya tidak ikut serta MTQ atau MHQ untuk menjaga kemurnian niat menghafal Al-Qur’an. Wasiat itu ditulis oleh beliau pada 11 Jumadil Ula 1401 tertulis bahwa beliau tidak mengakui santri dunia akhirat jika sampai tidak menjalankan wasiatnya tersebut. Guru itu GU, kudu diGugu dhawuhe (harus diikut perkataaanya) dan  RU, kudu ditiRU tindake (harus ditiru tingkah lakunya). 

Wasiat diatas disampaikan KH. Arwani Amin kepada santri-santrinya tersebut merujuk pada makna dari ayat  berikut:

… وَلَا تَشۡتَرُواْ بِـَٔايَٰتِي ثَمَنٗا قَلِيلٗا وَإِيَّٰيَ فَٱتَّقُونِ

“… Janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah, dan bertakwalah hanya kepada-Ku.

(QS. Al-Baqarah: 41)

Maka teringat pesannya sampai sekarang kami berusaha untuk tidak mengulanginya, dan kejadian ini yang membuat kami sering ke Kudus untuk berziarah ke makam KH. Arwani Amin yang berlokasi tak jauh dari makam dari Sunan Kudus. Kesempatan itu juga kami juga gunakan untuk silaturahmi dengan kedua putranya (KH. Ulin Nuha Arwani dan KH. Ulil Albab Arwani), murid sekaligus besannya KH. Sya’roni Ahmadi. Lewat wasilah silaturahmi kami juga dapat sowan kepada murid-murid langsung KH. Arwani dari berbagai daerah seperti KH. Noor Hadi, Tabanan Bali, KH. Amin Muqri Banjarmasin, KH. Asnawi Kebumen, KH. Najib Abdul Qodir Jogjakarta, dan sesama anak muridnya di berbagai daerah di Indonesia.

Terlebih saat melakukan penelitian Sanad Qiro’at Nusantara, maka semakin intens kami datang ke Kudus untuk meneliti sanad KH. Arwani dan jejaring sanad keilmuannya dari guru-gurunya sampai murid-muridnya yang terbentang di berbagai penjuru tanah air. Setidaknya KH. Arwani memiliki dua Al-Qur’an yang tercantum dalam sanad KH. Mansur Maskan (anak angkat KH. Arwani) yakni Syaikh Abu Su’ud bin Yusuf, Ulama Mesir yang mengajar di Madrasah Mamba’ul Ulum, Surakarta asuhan KH. Idris Jamsaren. Selanjutnya setelah nyantri di Tebuireng beliau mulai menghafalkan Al-Qur’an dan memperdalam Qiro’ah Sab’ah kepada al-Muqri’ KH. Munawwir Krapyak dari tahun 1930, khatam 1936 dan boyong tahun 1942.

Dan pada malam ini kami bisa duduk bersama dalam satu majelis ilmu bersama putra dan cucu guru mulia alfaqir. Mengaji bersama beliau berdua seakan bernostalgia mengaji kepada sosok KH. Abdullah Kamal yang telah lebih dari sepuluh tahun berpulang ke Rahmatullah dan KH. Basori Alwi yang telah istiqomah mengajar di majelis yang dirintis Almaghfurlahu Abah Abdurrohim sejak tahun 1968. Kedua guru mulia ini sungguh begitu besar jasa dan doanya bagi perjalanan hidup kami hingga detik ini. 

لولا المربي ما عرفت ربى

“Tanpamu guruku, maka takkan kukenal siapa tuhanku”

Semoga segala amal jariyah beliau berdua dan segenap Masyayikh yang telah mengajar dan mendidik kita senantiasa diterima disisi Allah SWT. Diterangi kuburnya, dipayungi saat hari mahsyar, dibebaskan hisabnya. Dan semoga kelak kita kembali dipertemukan bersama guru-guru kita semua di surga-Nya kelak dengan berkah Al-Qur’an al-Karim.

Kepanjen, 9 Agustus 2020

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *