(Menikmati Sensasi Tarawih Terlama 10 Jam)

  Tarawih merupakan amaliyah khusus yang hanya ada di bulan ramadan yang dilaksanakan setelah sholat isya’. Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jama’ dari تَرْوِيْحَةٌ yang berarti “waktu sesaat untuk istirahat”, disebut demikian karena dalam pelaksanaanya tarawih dilakukan dengan seringnya istirahat setelah salam walau hanya salam. Tarawih di masa Rasulullah sebenarnya hanya dilakukan 3 kali secara berjamaah setelah itu beliau sendiri bertarawih di rumah, hal ini karena kekhawatiran beliau bahwa tarawih menjadi suatu kewajiban. Tarawih secara berjamaah kemudian digalakkan kembali pada masa khalifah Umar bin Khattab setelah melihat kaum muslimin bertarawih sendiri-sendiri di tempat sama yang mana kemudian beliau meminta agar dijadikan satu jama’ah, darisinilah muncul kalimat yang begitu masyhur “Ni’matul bid’ah hadzihi” (Inilah sebaik-baiknya bid’ah).

 Dalam pelaksanaan umat islam, melaksanakan sholat Tarawih dengan berbagai model. Ada yang 8 rokaat, ada yang 20 rokaat bahkan ada 36 rokaat menurut pendapat Ibnu Taimiyyah. Tak jarang kaum muslimin menjadikan momentum tarawih ini untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Secara umum tarawih khataman dibacakan selama sebulan penuh yakni juz per-malam, hal ini bisa didapati di berbagai daerah, khususnya di pesantren-pesantren berbasis tahfidz Al-Qur’an atau masjid-masjid besar seperti yang terlaksana di beberapa Masjid Malang Raya seperti di Masjid Baiturrahman Kepanjen, Masjid Sabilillah Kota Malang, Masjid Hizbulloh Singosari. Namun tak jarang juga masjid atau pesantren yang bertarawih dengan bacaan 1 ¼ Juz, 1 ½ Juz, 2 Juz, 3 Juz namun jumlahnya tak begitu banyak.

Di Pondok Pesantren Al-Fattah, Magetan, Tarawih dilaksanakan dengan begitu unik karena dalam sholat ini dibacakan tiga puluh juz dalam satu malam. Hal ini mungkin tak banyak terpikir dalam benak banyak orang karena tak terbayang akan capeknya sholat sambil membacakan 114 surat semalam suntuk. Tetapi hal itu benar-benar terjadi di Pesantren yang berlokasi di Desa Temboro, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan. Dimana tarawih yang diselenggarakan di Masjid Al-Fattah, Markas Trankil ini memang dibacakan Al-Qur’an 30 Juz semalam suntuk dengan durasi antara 8 – 10 jam.

 Tarawih Khatam Al-Qur’an 30 Juz di pesantren yang menjadi pusat dakwah Jama’ah Tabligh Indonesia sudah berlangsung sejak tahun 2008. Awalnya, tarawih di masjid yang memiliki tamping hingga puluhan ribu jamaah dilaksanakan dengan membaca beberapa juz yang dilaksanakan oleh para santri. Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok menyesuaikan berapa juz yang dibaca. Ada yang membaca 1 Juz, 5 Juz, 10 Juz atau beberapa surat di juz  30 dalam sholat tarawihnya. Namun terdapat salah satu jama’ah bernama Bapak Muhammad Fath yang sempat berpikir, bagaimana jika dilaksanakan tarawih dengan mengkhatamkan Al-Qur’an semalam. Maka setelah menghubungi pengurus pesantren, maka terlaksanalah usulan brilian tersebut, hal ini juga berlandaskan pada spirit untuk menghidupkan Qiyamul Lail yang dapat dimulai dari tenggelamnya matahari sampai terbitnya fajar.

 Tarawih Khatam Al-Qur’an 30 Juz dimulai dari selepas sholat Maghrib sampai menjelang adzan subuh. Namun waktu ini bersifat fleksibel menyesuaikan cepat lambatnya bacaan imam. Setelah sholat maghrib berjama’ah, 20-40 orang membentuk kelompok sendiri untuk kemudian sholat awwabin 6 rokaat. Untuk mengisi waktu sampai tibanya adzan isya’ maka dalam sholat yang dilaksanakan setelah sholat ba’diyah maghrib ini, bacaan Al-Qur’an sudah mulai dibacakan dari surat Al-Baqarah sampai akhir surat atau akhir juz 3. Ketika waktu isya telah tiba, dilanjutkan dengan sholat isya berjamaah dan sholat ba’diyah isya’. Kemudian barulah, dimulailah sholat tarawih yang akhir-akhir ini sempat menjadi viral di media sosial sebagai tarawih dengan durasi terlama se-Indonesia saat ini. Namun untuk rekor jumlah juz tarawih terbanyak sejauh pengamatan penulis di Indonesia, masih dipegang oleh Almaghfurlahu Abuya Dimyati, Pendiri Pondok Pesantren, Cidahu, Pandeglang, banten yang mampu membacakan sendirian Al-Qur’an dalam sholat tarawihnya sebanyak 45 Juz atau satu setengah khataman.

 Tarawih Khatam Al-Qur’an 30 Juz ini memakai jumlah rokaat sebanyak dua puluh. Hal itu karena pertimbangan istirahat jamaah, dan merujuk pada pendapat Khalifah Umar bin Khattab saat mengajak kaum muslimin untuk bertarawih berjamaah dengan 20 rokaat. Setiap rokaat dibacakan ayat Al-Qur’an dengan rata-rata satu setengah juz. namun bacaan ini bersifat fleksibel sesuai dengan kehendak sang imam yang terkadang mencarikan akhir surat sebelum kemudian ruku’. Jadi dalam satu salam atau 2 rokaat telah dibacakan tak kurang 3 juz dengan durasi antara 15-20 menit per juznya. Kecepatan bacaan imam bersifat hadr yakni cepat namun masih memperhatikan tajwid dan masih bisa disimak oleh makmum. Sebagai perbandingan tarawih di majelis 30 juz dengan jamaah di tempat lain yang dibacakan 1 juz secara tartil dalam satu tarawih sampai 1:5 (dua rokaat tarawih 30 juz Hadr sama dengan 10 rokaat tarawih 1 Juz Tartil).

 Imam Tarawih dipilih dari para huffadz dari santri maupun pengajar di pesantren yang didirikan pada tahun 1950 oleh KH. Ahmad Shiddiq. Imam Tarawih bisa membacakan secara bil ghoib atau tanpa memegang mushaf atau bin-nadhor yakni dengan membawa mushaf. Begitu juga dengan ma’mum, ada yang pergang mushaf ada yang tidak. Imam Tarawih dalam satu malam berkisar 3-5 orang, namun khusus kemarin malam (5/8) tarawih 30 juz ini begitu special dibacakan oleh Ustadz Abdurrohman seorang diri dengan hafalan. Beliau memang terkenal akan mutqin atau lancar hafalannya yang diselesaikannya dalam jangka waktu satu setengah tahun saja di pesantren yang saat ini diasuh oleh KH. Umar Fathullah dan KH. Ubaidillah ini. Sungguh takjub akan kekuatan hafidz ini yang mampu membacakan hafalannya dengan begitu lancar dengan sedikit sekali kesalahan. Meski pelaksanaan tarawih harus molor sampai disambung dengan sholat qobiyah subuh, namun ma’mum begitu khidmah mengikuti sampai selesai.

 Bagi ma’mum yang sudah mengikuti dari awal ramadlan, tarawih 30 juz ini sudah lumayan kuat meski sesekali harus merentangkan tangan, disusul duduk karena capeknya berdiri. Tetapi bagi ma’mum yang baru ikut, pegal, capek bahkan kram akan terasa karena harus berdiri selama tak kurang satu jam per sholat. Namun karena tarawih, sholat sunnah maka kita diperbolehkan untuk duduk atau bahkan kalau perlu tidur miring. Tak jarang makmum justru tertidur saat sholat dalam kondisi duduk. Sebagian makmum yang telah hafal surat yang dibaca imam terlihat komat-kamit mengikuti bacaan, sedangkan makmum lain memegang mushaf, dan sebagian lainnya hanya mendengar bacaan umum meski sesekali menggerakkan anggota badan. 

 Setiap 4 rokaat atau 2 salam, tarawih diistirahatkan untuk kemudian disambung dengan penyampaian motivasi oleh Ustadz Muhammad Fath tentang anjuran untuk mengamalkan islam secara kaffah (sempurna) dengan tetap menumbuhkan pada cinta tanah air. Di sesi break lain, jamaah juga bisa menikmati makanan ringan atau minuman yang disediakan oleh pengurus pesantren dan tak jarang jamaah juga ikut berbagi. Sekitar 5 menit barulah tarawih dilanjutkan dengan berganti imam yang lain. Setelah sholat tarawih berakhir maka dilanjutkan dengan Sholat Witir 3 rokaat. Kemudian jamaah dapat menikmati sajian sahur gratis yang telah disiapkan oleh pengurus pesantren.

Menikmati fenomena tarawih Khatam Al-Qur’an 30 Juz, mengingatkan kita pada masa Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang hampir di setiap malamnya mengkhatamkan Al-Qur’an. Bahkan seringkali kaki Rasululah SAW harus bengkak, hal ini mungkin karena terlalu lama berdiri di atas pasir. Sungguh beruntung kita masih bisa sholat di atas hamparan karpet. Namun semangat jama’ah tarawih khataman ini patut diacungi jempol dan mungkin bisa juga diterapkan di tempat lain, meski harus secara perlahan-lahan. Dengan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sholat, tak terhitung berapa pahala yang dapat diraih terlebih di bulan diturunkannya Kalam Allah Al-Qadim ini. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menghiasi malam-malam terakhir bulan penuh kemuliaan ini dengan memperbanyak bertaqarrub kepada-Nya seraya berharap agar meraih keberkahan Lailatul Qodar yang mulai dari 1000 bulan ini.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *