Sebagai umat Islam, kita diperintahkan untuk mempelajari dan menghayati kisah umat terdahulu, termasuk hikayat tentang para sahabat rasul. Berikut ini, adalah kisah sang legendaris Islam, Khalid bin Walid yg dapat dijadikan suri tauladan bagi generasi muslim yg akan datang, agar tidak “kepaten obor” terhadap peran orang2 besar yg pernah berjasa dalam perkembangan Islam.

Abu Sulaiman Khalid Bin Walid atau Abu Sulaiman Khalid ibn al-Walid ibn al-Mughirah al-Makhzumi radliyallahu anhu, atau juga dikenal dgn Syaifullah al-Maslul (Pedang Allah yg terhunus), beliau adalah Sahabat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Beliau lahir pada tahun l 585 M di Mekkah.

Perang Mu’tah menandai kemenangan pertamanya memimpin umat Islam dalam peperangan. Pada pertempuran pertama ini, sembilan dari sepuluh bilah pedang yg disiapkannya patah. Begitulah keagresifan dan sepak terjang Khalid bin Walid Radhiyallahu Anhu dalam melawan musuh2nya.

Nama Khalid bin al-Walid, begitu masyhur dalam ruang sejarah dan peradaban umat ini. Mendengar namanya, seseorang akan selalu terbayang akan kepahlawanan dan jihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Sosoknya sangat dirindukan. Dan figurnya selalu ingin ditiru dan diharapkan. Ia dijuluki SAIFULLAH, pedang Allah. Ayahnya adalah al-Walid bin al-Mughirah, salah seorang tokoh Quraisy di zamannya. Ibunya adalah Lubabah binti al-Harits Radhiyallahu Anha, saudara dari Ummul Mukminin Sayyidah Maimunah binti al-Harits Radhiyallahu Anha.

Istri beliau adalah Asma bint Anas ibn Mudrik Radhiyallahu Anha (wafat 642 M) dan Umm Tamim bint al-Minhal atau Laila binti al-Minhal Radhiyallahu Anha (janda Malik ibn Nuwayra), memiliki 3 orang Anak, yaitu :

1. Abdurrahman bin Khalid (616–666 M) pernah menjadi gubernur di Homs Suriah era khalifah Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, memerintah 644–656 M dan era Mu’awiyah I, memerintah 661 M )

2. Sulaiman bin Khalid, syahid dalam pertemuan di Mesir

3. Al-Muhajir bin Khalid.

Masuk Islam

Kisah Khalid bin Walid Radhiyallahu Anhu memeluk Islam, baru terjadi setelah peristiwa pembebasan Makkah (Fathu Makkah). Kisah ini ada dalam buku ‘Sejarah Muhammad’ karya penulis Mesir legendaris, Muhammad Husain Haekal rahimahullah (20 Agustus 1888 –  8 Desember 1956 M di Mesir), yg diterbitkan dalam bahasa Arab pada tahun 1935 M.

Sejarah telah membenarkan perkiraannya. Begitu ia berangkat kembali ke Medinah, Khalid bin Walid (Jenderal Kavaleri kebanggaan Quraisy) dan pahlawan perang Uhud itu, telah berdiri di tengah2 sidang masyarakatnya sendiri sambil berkata:

“Sekarang nyata sudah bagi setiap orang yg berpikiran sehat, bahwa Muhammad bukan tukang sihir, juga bukan seorang penyair. Apa yg dikatakannya adalah firman Tuhan semesta alam ini. Setiap orang yg punya hati nurani berkewajiban menjadi pengikutnya.”

‘Ikrimah bin Abi Jahl Radhiyallahu Anhu (598 M, Mekkah – 636 M, Yordania), merasa ngeri sekali mendengar kata2nya itu. “Khalid,” kata ‘Ikrima kemudian, “engkau telah bertukar agama.”

Selanjutnya terjadi percakapan antara mereka sbg berikut: Khalid Aku tidak bertukar agama, tetapi aku mengikuti agama Islam. ‘Ikrima Tak ada orang akan berkata begitu di kalangan Quraisy selain engkau.

Khalid : Mengapa?

Ikrimah : Ya, sebab Muhammad sudah menjatuhkan derajat ayahmu ketika ia dilukai. Pamanmu dan sepupumu sudah dibunuhnya di Badr. Demi Allah, aku tidak akan masuk Islam dan tidak akan mengeluarkan kata2 seperti kau itu, Khalid. Engkau tidak melihat Quraisy yg sudah berusaha hendak membunuhnya?

Khalid: Itu hanya semangat dan fanatisma jahiliah. Tetapi sekarang, setelah kebenaran itu bagiku sudah jelas, demi Allah aku mengikut agama Islam.

Setelah itu Khalid lalu mengutus pasukan berkudanya kepada Nabi menyatakan dirinya masuk Islam dan mengakuinya. Khalid menganut Islam ini beritanya kemudian sampai juga kepada Abu Sufyan bin Harb Radhiyallahu Anhu (560 M, Mekkah – 652 M, Madinah). Khalid di panggil.

“Benarkah apa yg kudengar tentang engkau?” tanya Abu Sufyan.

Setelah dijawab oleh Khalid, bahwa memang benar, Abu Sufyan marah2 seraya katanya: “Demi Lata dan ‘Uzza. Kalau aku sudah mengetahui apa yg kaukatakan benar, niscaya engkaulah yang akan kuhadapi, sebelum aku menghadapi Muhammad.”

“Dan memang itulah yg benar, apa pun yg akan terjadi.”

Terbawa oleh kemarahannya, ketika itu juga Abu Sufyan maju hendak menyerangnya. Tetapi ‘Ikrima yg pada waktu itu turut hadir segera bertindak mengalanginya seraya berkata:

“Abu Sufyan, sabarlah. Seperti engkau, aku juga kuatir, kelak akan mengatakan sesuatu seperti kata2 Khalid itu dan ikut ke dalam agamanya. Kamu akan membunuh Khalid karena pandangannya itu, padahal seluruh Quraisy sependapat dgn dia. Sungguh aku kuatir, jangan2 sebelum bertemu tahun depan seluruh penduduk Mekah sudah menjadi pengikutnya.”

Sekarang Khalid sudah pergi meninggalkan Makkah ke Madinah. Ia menggabungkan diri ke dalam barisan Muslimin.

Sesudah Khalid, ikut pula ‘Amr bin’l-‘Ash (Amr bin Ash bin Wa’il bin Hisyam) Radhiyallahu Anhu (14 Februari 585 M, Mekkah – 6 Januari 664 M, Fustat, Mesir) dan ‘Utsman bin Thalhah Radhiyallahu Anhu (598 – 651 M) sang penjaga Ka’bah, yg bergelar Sadin Mekah, masuk Islam. Dengan masuknya mereka kedalam agama Islam, maka banyak pula penduduk Mekah yg turut menjadi pengikut agama ini. Dengan demikian, kedudukan Islam makin menjadi kuat, dan terbukanya pintu Mekah buat Muhammad sudah tidak diragukan lagi.

Pertempuran

Khalid bin al-Walid radliyallahu anhu memeluk Islam pada tahun 8 H, saat perjanjian Hudaibiyah tengah berjalan. Ia turut serta dalam Perang Mu’tah. Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam memuji Khalid dalam perang tsb dgn sabdanya:

“أخذ الراية زيد فأصيب، ثم أخذها جعفر فأصيب، ثم أخذها عبد الله بن رواحة فأصيب، ثم أخذها سيفٌ من سيوف الله، ففتح الله على يديه”. ومن يومئذٍ سُمِّي “سيف الله”،.

“Bendera perang dibawa oleh Zaid lalu berperang hingga syahid. Kemudian bendera diambil oleh Ja’far dan berperang hingga syahid. Setelah itu, bendera perang dibawa oleh pedang di antara pedang2nya Allah (saifullah –yakni Khalid bin Walid-) hingga Allah memenangkan kaum muslimin.”

Khalid mengisahkan dahsyatnya Perang Mu’tah dgn mengatakan, “Sembilan pedang di tanganku telah pata. Tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman.” (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Kitab al-Maghazi, Bab Ghazwatu Mu’tah min Ardhi Syam: 4017). Sejak saat itu Khalid dikenal dengan sebutan saifullah. 

Khalid juga turut serta dalam berbagai peperangan, yaitu : 

Pertempuran Uhud (625 M)

Pertempuran Mu’tah (629 M)

Pembebasan Mekkah (629/630 M)

Pertempuran Hunain (630 M)

Perang Riddah (632 – 633 M)

Pertempuran Buzakha (632 M)

Pertempuran Yamamah (633 M)

Penaklukan Islam di Suriah (634 – 638 M)

Pertempuran Marj Rahit (634 M)

Pertempuran Busrah (634 M)

Pertempuran Ajnadayn (634)

Pertempuran Fahl (634 M)

Pengepungan Damaskus (634–635 M)

Pertempuran Yarmuk (636 M)

Pengepungan Homs (636/37 M)

Pertempuran Hazir (637/638 M)

Dan pertempuran lainnya.

Sikap ikhlas atas pemecatan

Belajar tentang sikap ikhlas dari sosok sahabat Khalid Bin Walid Radhiyallahu Anhu, saat dia mendapat surat pemecatan dari Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu, sbg panglima perang kaum muslimin.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu (27 Oktober 573 M, Mekkah – 23 Agustus 634 M, Madinah), Khalid bin Walid diamanahkan untuk memperluas wilayah Islam dan membuat kalang kabut pasukan Romawi dan Persia. Pada tahun 636, pasukan Arab yg dipimpin Khalid bin Walid,  berhasil menguasai wilayah Suriah dan Palestina, dalam Pertempuran Yarmuk, menandai dimulainya penyebaran Islam yg super cepat di luar Arab. Dan pada masa pemerintahan Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu (584 M, Mekkah – 3 November 644 M Madinah) Khalid diberhentikan tugasnya dari medan perang dan diberi tugas untuk menjadi duta besar. Hal ini dilakukan oleh Umar, agar Khalid tidak terlalu didewakan oleh kaum Muslimin pada masa itu.

Pemecatan Khalid bin Walid, menimbulkan kegelisahan baginya, bukan karena pemecatannya, namun karena kesalahan apa yg ada pada dirinya sehingga khalifah memecatnya menjadi panglima. Pemecatan Khalid bin Walid, ternyata bukan karena kesalahannya, namun karena kekhwatiran Umar bin Khattab atas sahabatnya yg sangat tenar dan dielu2kan umat Islam karena kehebatan dan keberhasilan Khalid sbg panglima perang yg sukses dalam setiap peperangan.

Pujian kaum Muslimin atas Khalid, dikawatirkan Umar akan memunculkan sifat sombong dari dalam diri khalid, sehingga atas dasar inilah khalid bin Walid dipecat Khalifah Umar.

Selain itu disampaikannya, jawaban Umar tsb membuat Khalid memeluknya dan mengucapkan terima kasih atas nasehatnya, sehingga Khalid bin Walid merasa lega dan ikhlas melepaskan jabatanya sbg panglima perang, karena memang hidup hanya untuk mencari ridha Allah bukan yg lainya.

Khalid bin Walid mengatakan ini pada Abu Ubaidah Amir bin Abdullah bin al-Jarrah radliyallahu anhu (583 M, Mekkah – 639 M, Yordania), setelah dibebastugaskan dari jabatannya oleh Umar bin Khatab : “Demi Allah, jika Kamu menunjuk seorang anak kecil untuk memimpinku, aku akan menaatinya. Bagaimana mungkin aku tidak menaatimu ketika derajat ke-Islamanmu jauh lebih daripada aku dan Kamu telah dijuluki sbg “yg Dipercaya oleh Nabi”? Aku tidak akan pernah mencapai status itu. Aku umumkan di sini dan sekarang bahwa aku telah mendedikasikan diriku menuju jalan Allah yg Maha Tinggi.”

Kita berharap, para pejabat bisa meniru sikap keikhlasan Khalid bin Walid yg menerima pemecatan disaat puncak keberhasilannya sbg panglima perang umat Islam, yg tak pernah kalah.

Wafatnya Pedang Allah

Saat kematian hendak menjemputnya, ia berkata, “Aku telah turut serta dalam 100 perang atau kurang lebih demikian. Tidak ada satu jengkal pun di tubuhku, kecuali terdapat bekas luka pukulan pedang, hujaman tombak, atau tusukan anak panah. Namun lihatlah aku sekarang, akan wafat di atas tempat tidurku. Maka janganlah mata ini terpejam (wafat) sebagaimana terpejamnya mata orang2 penakut. Tidak ada suatu amalan yg paling aku harapkan daripada laa ilaaha illallaah, dan aku terus menjaga kalimat tsb (tidak berbuat syirik).” 

Perkataan menjelang wafatnya, Termaktub dalam kitab Khulashah Tadzhib Tahdzibul Kamal halaman 103, oleh Syaikh Shafiyyuddin Ahmad bin bin Muhammad bin Abdullah Al-Anshari Al-Khazraji As-Sa’idi rahimahullah, wafat 1518 M. Dan buku Inilah Faktanya (kitab Huqbah minat Tarikh)

karya Utsman bin Muhamad bin Hamad bin Abdullah bin Shalih bin Muhammad Al-Khamis An-Nashiri At-Tamimi atau Syaikh Utsman bin Muhammad al-Khamis rahimahullah, ulama dan dai dari Kuwait, seorang ulama besar sunni yg memilih manhaj ahlus sunnah wal jama’ah.

Dia juga pernah menyatakan, “Malam saat aku dihadiahi seorang pengantin atau malam ketika aku mendengar kabar gembira dgn lahirnya seorang anakku, semua tidak lebih aku sukai dibanding tatkala berada di tengah pasukan Muhajirin pada malam yg dingin sedingin es, demi menunggu saat2 untuk menyerang musuh esok paginya,” sebagaimana dinukilkan dari kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah, karya Imam Ibnu Katsir rahimahullah)

Sebenarnya, Ia begitu memimpikan syahid ketika berada di medan perang, tetapi Khalid bin Walid Radhiyallahu Anhu terserang penyakit untuk waktu yg cukup lama di usia senjanya. Beliau merasa ajalnya akan tiba, dan itu amat merisaukan dirinya.

Salah seorang sahabatnya, Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah Al-Anshari Radhiyallahu Anhu (wafat 678 M di Madinah), yg mengunjunginya memberikan penghiburan, seperti yg diabadikan oleh DR Syaikh Manshur Abdul Hakim dalam buku Khalid bin Al-Walid Saifullah Al-Maslul sbb berikut :

“Wahai Khalid, kamu harus tahu bahwa pada saat Rasulullah memberimu julukan dhn sebutan ‘pedang Allah’, sesungguhnya itu menjadi ketetapan bagimu untuk tidak meninggal di medan perang. Seandainya engkau meninggal di tangan orang kafir, maka itu artinya ‘pedang Allah’ telah berhasil dipatahkan oleh musuh Allah, dan itu tidak mungkin terjadi.”

Akibat penghiburan dari temannya inilah, Khalid bin Walid Radliyallahu anhu tak lagi merasa risau dgn apa pun ketetapan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak Khalid bin Walid meninggal, karena penyakit tsb di atas tempat tidur saat ia berusia 58 tahun. Pada hari Selasa tanggal 18 Ramadhan 21 H / 23 Agustus 642 M.

Ketika Khalid bin al-Walid wafat. Khalifah Umar bin al-Khattab Radhiyallahu Anhu, sangat bersedih dgn kepergian Sang Pedang Allah. Ketika itu ada yg meminta Umar bin Khattab agar menenangkan wanita2 Quraisy yg menangis karena kepergian Khalid bin Walid, Umar berkata, “Para wanita Quraisy tidak harus menangisi kepergian Abu Sulaiman (Khalid bin al-Walid).” (Termaktub dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah atau Tarikh Ibnu Katsir, 7/132, karya Imaduddin Abul Fida Al-Hafizh Al-Muhaddits Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i atau Imam Ibnu Katsir rahimahullah,1301 – 1373 M di Damaskus, Suriah).

Setelah wafatnya, Khalid bin Walid mendermakan senjata dan kuda tunggangannya, untuk berjihad di jalan Allah (dari Kitab ath-Thabaqatul Kubra / Ath-Thabaqatul Kabir 7/397,  karya Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Sa’ad ibnu Mani’ al-Bashri al-Hashimi atau Imam Ibnu Saad rahimahullah, 168 – 230 H / 785 – 845 M di Baghdad)

Semoga Allah meridhaimu wahai Abu Sulaiman, mengampuni segala kesalahanmu, dan mempertemukan kita semua di surga Allah yg penuh kedamaian dan ketenangan abadi.

Makam Khalid bin Walid Radliyallahu anhu terletak di Homs, Suriah. Meski area tsb pernah dirusak oleh pasukan Assad pada tahun 2013, pemugarannya kembali telah selesai dilakukan enam tahun kemudian. Makamnya menjadi penanda, bahwa seorang jenderal besar pernah hidup di tengah kaum muslimin, dan memiliki peran masif dalam membungkam musuh2 Islam pada masanya.

Begitulah kisah sang legendaris, panglima besar Islam yg memberikan keteledanan berupa semangat juang dan keikhlasan yg begitu tinggi. Seorang pahlawan besar yg sangat berjasa pada masanya, yg bisa memberikan dampak positif bagi orang banyak dan senantiasa menginspirasi orang2 setelahnya. 

Kita pun demikian, kita bisa meneladani sikap semangat juang dan keikhlasan dari Khalid bin Walid tsb sampai kapanpun, menyebarkan pengaruh positif lewat karya2 yg kita buat dan memberikan manfaat bagi orang di sekitar kita. Dan ketika kita kembali kepada-Nya, kita tidak hanya meninggalkan tangis duka, namun juga kisah dan karya yg selalu bisa menginspirasi anak cucu kita.

Wallahu a’lam.. semoga bermanfaat

Written from various sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA 

اِلَى حَضْرَةِ النَّبِىِّ الْمُصْطَفى صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَالِهِ وَصَحْبِه خُصُوْصًا اَهْلَ بَدْرٍ مِنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَ الاَنْصَارِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ وَنفَعَنَا بِعُلُوْمِهِمْ وَاَمَدَّناَ بِاَسْرَارِهِمْ وَاَعَادَ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِهِمْ فِى الدَّارَيْنِ آمِينْ. الفاتحة ….

اِلَى حَضَرَاتِ اِخْوَا نِهِ مِنَ الْاَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ وَالْاَوْلِيَاءِ وَاَلشَّهَدَاءِ وَاَلصَّا لِحِيْنَ وَاَلصَّحَا بَةِوَ التَّا بِعِيّنَ وَالْعُلَمَاءِ الْعَا مِلِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَ جَمِيْعِ الْمَلَئِكَةِ الْمُقَرَّ بِيْنَ خُصُوْصًا سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَيْدِ الْقَادِرِا لْجَيْلَا نِى . الْفَاتِحَةْ ..

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *