Manusia sebagai makhluk yang hidup dalam rentang waktu terbagi menjadi 4 macam: pertama, hamba yang dihantui oleh masa lalu. Kedua, hamba yang khawatir akan masa depan. Ketiga, hamba yang sibuk memaksimalkan waktu yang ada. Keempat, hamba yang selalu memerhatikan apa yang dibuat oleh Tuhannya.
Manusia golongan akhir ini tidak pernah terlintas dalam hatinya akan gelapnya masa lalu ataupun seramnya masa depan. Dalam benaknya, ia hanya fokus dengan apa yang yang telah ditetapkan oleh Tuhannya.
Untuk menghadapi bayang-bayang masa lalu, seorang hamba yang sudah berada dalam pelukan Tuhannya sebaiknya melupakan bayang tersebut. Jika masih teringat, perbarui rasa menyesal dan perbanyak istighfar.
Dalam menjalani waktu, sebaiknya seorang hamba yang faham akan tempat kembalinya untuk terus memanfaatkannya selagi ada, dan terus menggunakannya dalam penghambaan kepada Tuhannya.
Adapun untuk masa depan, serahkan apa yang akan terjadi kepada Allah. Karena siapa yang tidak mengatur, akan diatur. Sudah difahami, bahwa Allah sebaik-baiknya pengatur. Allah yang maha faham apa yang paling layak bagi hamba-hamba-Nya.
Seorang penyair berkata:
و كم رمت أمرا خرت لي في انصرافه
فلا زلــــت لي مــــني ابــــر و ارحــــم
عـــــزمت أن لا احـــــس بـــــخاطــــر
على القلب الا كـــــنت انت الـــــٕـمقدم
و الا تـــــراني عند مـــــا قد نــــهيتني
لانك في قــلبي كـــــــبيرا معــــــــظما
Artinya: berapa kali aku mengharapkan sesuatu yang aku tak mampu mendapatkannya. Namun, engkau selalu bersifat baik dan penuh kasih kepadaku.
Semenjak itu aku fahami, aku bertekad tidak akan mengambil keputusan, kecuali engkau ya Allah selalu aku dahulukan.
Dan aku juga bertekad, engkau tidak akan melihatku dalam keadaan membangkang. Sebab, dalam hatiku engkau selalu menjadi yang aku priotaskan.
Sebagaimana fi’il Madhi yang harus dimabni-kan dengan fathah diakhirnya. Begitu juga seorang hamba yang masa lalunya penuh dengan cahaya ketaatan, dan pelayanan kepada Tuhannya, maka Allah akan menjanjikan akan kemenangan diakhirnya. Ibnu Athoillah as-Sakandari berkata dalam Hikamnya:
من أحرقت بدايته اشرقت نهايته
Siapa yang membakar api semangat di awal perjalanan, maka akan bersinar akhir perjalanannya.
Sebagaimana fi’il Mudhari’ yang terus dalam keadaan rafa’ (terangkat) selama belum datang ‘amil nawasib atau jawazim. Begitu juga seorang hamba akan terus terangkat selama dia mengikuti jalan pendahulunya yang telah sampai, hingga datang Amil nasib dengan bentuk dunia yang akan menghentikan dia dalam perjalanan, atau Amil jawazim dalam bentuk jabatan yang memaksa ia untuk terhenti dalam perjalanan.
————-
Beberapa isyarat dari Sayyidi Syekh Ibnu Ajibah (W. 1224 H) dalam Futuhat al-Qudsiyyah hal 86 dengan beberapa perubahan.

No responses yet