Allah tabaraka wataala berfirman : ‘Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya; dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar (QS. 9:100)

Kemudian Nabi saw bersabda: ‘Sebaik-baik periode adalah periodeku. Kemudian periode setelahku dan periode setelahku’. 

*^^^*

Sekedar untuk menimbang: apakah benar pada masa periode terbaik Rasulullah saw, umat Islam telah menjalankan syariat Islam dengan kaffah ? Apakah pada masa periode Rasulullah saw, para sahabat telah dengan kaffah baik secara kolektif atau personal menjalankan semua perintah dan larangan dalam keseluruhan ajaran yang kemudian disebut dengan kredo syariat Islam. 

Apakah pada periode terbaik itu (khairu zaman qarnin) tidak ada kemunkaran, tidak ada pelanggaran, tidak ada pelecehan hingga perlawanan terhadap syariat Islam ? 

Benarkah umat Islam pada periode terbaik itu adalah umat Islam terbaik — tidak ada pertengkaran, tidak ada persekusi, tidak ada perselisihan, tidak ada perang saudara, tidak ada intrik politik rebutan jabatan, tidak ada korupsi, kolusi dan nepotisme. Tidak saling membunuh sesama saudara sendiri. 

**^^^*

Lantas bagaimana menjelaskan ketika seorang sahabat dengan lantang berkata: ‘Wahai Muhammad bertaqwalah, berbuat adilah’ pada peristiwa pembagian ghanimah—Seorang laki-laki botak berkepala plontos berjenggot lebat berkata: ‘Wahai Muhammad berlakulah yang adil .. ‘ Nabi saw tertegun kemudian berkata: ‘Kalau aku sudah tidak berbuat adil lalu siapa lagi ‘. Kemudian beliau bersabda : nanti dari orang itu akan lahir keturunan yang fasih membaca al Quran tapi hanya sampai di tenggorokan’.  

Tentang peristiwa Tsaqifah—fundamen kepolitikan Islam yang melahirkan kekhilafahan. Apakah para sahabat semua ridha dan legowo atas keputusan diangkatnya khalifah. Tapi kemudian bagaimana menjelaskan bahwa pada setiap suksesi kekhalifahan selalu diputus dengan kudeta dan pertumpahan darah, dibarengi para sahabat membentuk firqah politik berpecah-pecah. 

Bagaimana kemudian secara politik, para salaf terpecah dalam empat kelompok besar—-pengakuan terhadap khalifah. Pertama, hanya Abu Bakar dan Umar saja, kedua Abu Bakar, Umar dan Utsman saja, ketiga : hanya Ali saja, sebelum dimoderasi oleh Marwan bin Hakam menjadi Khalifah ur Rasyidin. Perpecahan ini melibatkan semua sahabat besar yang dijamin masuk surga tanpa dihisab. 

Bisakah menjelaskan bahwa perpecahan umat Islam hari ini terjadi, yang membentuk madzab-madzab, berbagai manhaj, aliran dengan segala pertengkaran, baik politik, sosial hingga urusan teknis dalam berbagai disiplin, sesungguhnya adalah warisan periode salaf yang disebut sebagai periode terbaik. Artinya, yang diwariskan para salaf bukan hanya kebaikan, tapi juga implikasi negatif yang menyertainya tanpa kecuali. 

*^^^*

Jadi bagaimana menjelaskan tentang ‘masa terbaik’ dalam konteks penegakkan syariat Islam secara kaffah itu—Apakah ‘periode terbaik’ adalah berkumpulnya ‘insan kamil’ yang dipahami sebagai manusia bertaqwa yang tidak pernah salah— apakah masa ke-salafan, yang dipahami sebagai sebaik-baik zaman, adalah masa tanpa cela ? 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *