Jaringansantri.com – Sebagai sebuah kisah masa lalu yang melimpah, sejarah Islam di Nusantara adalah bahan kajian yang sangat kaya untuk ditelusuri. Kekayaan itu dibuktikan dengan penggalian sejarah Islam di Nusantara yang seperti tidak pernah berhenti dibahas. Bahkan hingga tulisan ini dibuat.

Masih banyak peninggalan kita kebudayaan berupa arkeologi Islam, naskah-naskah yang berisi kekayaan intelektual yang belum disentuh dan belum digali. Ini belum dihitung dengan sejarah tutur kita baik folklore maupun semisalnya. Padahal seluruhnya masih menyimpan kebijaksaan nenek moyang kita terdahulu melihat zamannya.

Namun, selain tugas menemukan itu, masih ada yang perlu kita sayangkan, yakni ketika bukti peninggalan yang sebelumnya sudah ditemukan kemudian disetir oleh interpretasi kepentingan kelompok tertentu, dengan agenda tertentu pula. Sebagaimana munculnya film Jejak Khilafah di Nusantara yang tengah ramai diperbincangkan karena menggunakan sejarah Islam di Nusantara sebagai basis datanya.

Film yang berceritakan tentang adanya relasi kuat raja-raja di Nusantara dengan Turki Utsmani dan diklaim keduanya adalah bagian kekhilafahan yang utuh mengundang banyak kritik. Bukan saja basis datanya yang diselewengkan, tapi juga adanya analisa yang dipaksakan. Yakni perlunya kita kembali melihat sejarah Islam di Nusantara dengan pendekatan yang lebih soft (halus).

Terkait analisa ini, Kiai Ahmad Baso sebagai peneliti naskah Nusantara pun angkat bicara. Dalam sebuah diskusi virtual (webinar) yang diadakan Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah Jakarta pada sabtu, 29 Agustus 2020, ia menjelaskan kelirunya analisa dalam film Jejak Khilafah di Nusantara.

Menurutnya, hubungan antar kerajaan di masa klasik, lebih kepada hubungan diplomatik. Bukan kepada pembaiatan yang kerap disebut-sebut. Kalaupun ada, misalnya di Aceh, bukan berarti membuat seluruh wilayah Nusantara lainnya melakukan hal yang sama. Karena setiap raja memiliki wewenang atas kerajaannya sendiri, meskipun memiliki karakter kerajaan yang sama, yakni kerajaan berbasis Islam.

Kiai Ahmad Baso memberi contoh dengan Kerajaan Mataram Islam di bawah pimpinan Sultan Agung, Meskipun Sultan Agung menjadikan Islam sebagai agama resmi Negara, bukan berarti ia mengikuti agama Daulah Turki Usmani yang saat itu pun sempat menolak Aceh sebagai vasal (bagiannya).

Ia lebih memlilih mendapatkan gelar dari pemimpin Ka’bah di Makkah yakni Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram, yang notabene pusat Islam di dunia, bukan di Turki. Sultan Agung meminta gelar sultan pada 1641. Dia mengikuti jejak Sultan Banten, Pangeran Ratu yang menjadi raja Jawa pertama yang mendapatkan gelar sultan dari Makkah, sehingga namanya menjadi Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir. Itu pun bukan di Turki Usmani, dan tanpa sepengetahuan dari Turki Usmani.

Adapun pada masa berikutnya, dimana Mataram berganti raja, dengan dimulainya Amangkurat I dan seterusnya, memang menggunakan istilah Khalifatullah. Namun, -masih menurut Kiai Ahmad Baso, gelar tersebut bukanlah bermakna pemimpin dalam artian pemimpin yang mendapat legitimasi dari Daulah Usmaniyah. Tapi pemimpin wilayah yang terjadi sinkretisme antara agama dan kekuasaan.

Kenapa demikian? Karena untuk menguatkan posisi sebagai raja Jawa, sosok tersebut menisbatkan diri menjadi bagian dari “bayang-bayang” Tuhan di bumi, dan itu biasa bagi raja-raja Jawa. Fakta yang demikian yang kerap dilupakan oleh para punggawa khilafah. Bahwa sejarah Islam di Nusantara masih begitu kaya dengan naskah dan peninggalan lainnya yang kerap tidak diperhatikan, tetapi terburu-buru diklaim dengan analisa pribadi.

Karenanya, klaim bahwa Nusantara adalah bagian dari Daulah Turki Usmani adalah klaim yang catat dan dipaksakan. Perlunya memahami sejarah Islam lebih mendetail adalah hal yang harus dilakukan agar tidak kembali terjadi hal-hal yang demikian. Terlebih menyangkut masa depan Negara kita, dimana para Ulama sejak dahulu sudah menyebut wilayah ini sebagai Jumhuriyyah (republik), kesatuan wilayah yang berisi kemajemukan.

Dalam kesempatan webinar yang berjudul “Jejak Islam di Nusantara untuk masa Depan Indonesia” ini, Kiai Ahmad Baso juga memberi pesan penutup bahwa naskah-naskah Nusantara masih banyak yang tersebar di berbagai daerah bahkan luar negeri. Tugas para pemuda adalah bagaimana naskah tersebut bisa terus digali dan ditemukan makna-maknanya. Sehingga kekayaan khazanah masa lalu kita sebagai sebuah bangsa yang menghargai intelektualitas dapat terus diabadikan dan tidak salah menafsirkan masa lalu bagi masa depan yang lebih baik.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *