Dari sekian banyak peserta Dauroh yang diadakan Habib Umar tahun ini, ada salah seorang yang sudah pernah berkenalan denganku di inbox Facebook. Dulu ia sering bertanya-tanya tentang Tarim wa ma Yata’allaqu Biha. Alhamdulillah ia akhirnya bisa sampai juga di Tarim meski harus meninggalkan anak istrinya di Jawa Tengah selama 40 hari. 

Waktu itu ia baru saja tiba di Tarim, Aku bertanya kepadanya, ” Kok bisa tiba-tiba njenengan inbox saya waktu itu .. ? Kok bisa punya keinginan kuat untuk datang ke Tarim.. ? Apa njenengan pernah mimpi Habib Umar sebelumnya.. ? “

Tiba-tiba raut wajahnya berubah, ia menunduk lalu menangis lama sekali. Aku jadi menyesal telah menanyakannya hal ini. Aku tidak tahu bahwa pertanyaan ini begitu sensitif untuknya. 

Ketika aku sudah merasa tak akan mendapat jawaban – setelah tangisnya mereda – ia menjawab : 

” Saya mimpi bertemu Kanjeng Nabi Gus… “

Dan cerita selanjutnya adalah konsumsi pribadi…

***

Suatu Sabtu pagi

Waktu itu sebenarnya aku sama sekali tak mempunyai niat untuk menghadap Habib Umar. Tapi di Musholla Ahlul Kisa’ pagi itu aku melihat temanku tersebut duduk beberapa langkah dari Mihrab Habib Umar. Tampak juga segerombolan orang mengelilingi Habib Umar yang sedang melaksakan sholat Dhuha. Kebanyakan memang mempunyai hajat untuk berbicara dengan beliau. Ada juga yang hanya ingin duduk dekat beliau, sekedar mengalap barokah.

Sebelumnya aku sudah menawarinya untuk menceritakan mimpinya itu kepada Habib Umar. Atau mungkin ada hal-hal lain yang ingin ia tanyakan atau sampaikan. Ia menyetujui dan mengajakku menemaninya karena memang ia sama sekali tak bisa berbicara bahasa arab. 

Tak disangka pagi itu semuanya berjalan lancar. Kami menunggu di belakang Habib dan tak lama kemudian sudah ada di samping beliau untuk menyampaikan unek-unek kami. Aku gunakan kesempatan ini untuk menanyakan perihal kepulanganku.

” Sayyidi.. Saya berniat pulang setelah melaksakan haji. Tapi saya serahkan semua keputusan pada Panjenengan.. “

2 tahun yang lalu aku pernah menyampaikan pernyataan yang sama kepada beliau, dan jawaban beliau waktu itu adalah : ” Kamu ‘tidak baik’ untuk pulang di waktu ini…”

Sebenarnya aku hanya mengharapkan jawaban iya atau tidak dari beliau. Tapi di pagi itu beliau dengan sabar menanyakan semua hal tentangku. ” Kitab-kitab apa saja yang sudah dipelajari ?” Dalam ilmu Fiqh, Nahwu, Tafsir dll. Beliau juga menanyakan apa yang akan aku rencanakan ketika pulang nanti, tentang keadaan rumahku, dll. Setelah aku jawab pertanyaan-pertanyaan beliau tersebut, beliau berkata :

” Bismillah ‘ala Barakatillah.. ” Beliau lantas memberikanku arahan-arahan tentang apa-apa yang harus aku lakukan setelah kembali ke tanah air nanti.

Beliau lalu menoleh ke temanku dan langsung saja tanpa dikomando – sambil menangis –  ia mencium tangan habib. Langsung saja aku jelaskan kepada beliau bahwa ia adalah salah satu peserta dauroh dari Indonesia yang awalnya bermimpi Rasulullah Saw ……. Ila akhirihi.

Aku lalu menyampaikan dua permintaannya kepada Habib : Agar hatinya dibukakan untuk selalu mencintai Rasulullah Saw, dan semoga Allah menganugrahkan anak keturunannya rasa cinta yang dalam kepada kanjeng Nabi dan keluarganya.

Di pagi itu.. menyaksikan temanku yang bahkan tak memahami doa-doa Habib untuknya, meskipun ia bisa dikatakan awam dan tak se-‘santri’ diriku, tapi dengan rasa ‘cinta’ tulus yang ia miliki dan nikmat agung melihat wajah Baginda Nabi yang pernah ia rasakan, aku benar-benar merasa kerdil. Bagaikan kerupuk terkena air yang terus menyusut dan mengecil.. 

Restu dan izin dari beliau sudah aku kantongi. Itu artinya tinggal menghitung hari menuju kepulanganku. aku akan menikmati hari-hari tenang sebelum pulkam, tanpa kelas wajib, tanpa hafalan dan tentunya aku akan mempunyai waktu yang lumayan untuk nonton beberapa pertandingan World Cup – meskipun negara jagoanku -Italia- sudah gugur sebelum gelaran Piala Dunia dimulai.

Malam itu, jam 10 waktu Tarim. aku baru saja menikmati profesi baruku sebagai penerjemah ceramah. ketika salah seorang teman memberitahuku bahwa Ustadz Ahmad Said Batohan dari tadi sibuk mencariku. Beliau ini salah satu pengurus senior paling populer di Darul Musthofa yang mengepalai cabang-cabang Darul Musthofa yang tersebar di beberapa daerah di Hadhramaut.

” cepet hubungi dia.. Sepertinya ada masalah penting ” temanku terlihat serius..

” lah ada apa ya.. ? Baru kali ini dia mencariku.. Pasti ada sesuatu… ? Aku berpikir keras.

Aku lekas saja mendatangi penjaga gerbang untuk meminjam HP dan menelpon Ustadz Batohan.

” Assalamualaikum ustadz.. ?”

” Waalaikum salam Ustadz Ismail.. ” jawabnya. Ada beberapa keanehan dibalik jawaban salamnya. Pertama ia memanggilku ustadz, kedua nada bicaranya tampak akrab dan ramah. “Pasti beliau ini ada maunya ..” aku berpikir lagi…

Setelah basa-basi menanyakan kabar ala orang Hadhromi, beliau langsung aja berkata :

” siapkan pakaian dan barang-barangmu, besok pagi jam 7 kamu berangkat ke ‘Inat.. “

” ke ‘Inat ?? untuk apa ustadz.. ?” 

 awalnya aku menyangka bahwa aku akan menjadi Guide Ziarah bagi pelajar-pelajar dauroh, tapi jawabannya benar-benar mengejutkan.. 

” besok kamu akan ke ‘Inat.. Disana kamu akan…… “

Bumi seakan berguncang dan langit kelap-kelip. Aku benar-benar salting dengan jawabannya di malam itu, aneh, mengherankan, membingungkan, kok bisa aku.. ? Kenapa bukan yang lain. ? Baru saja aku dikagetkan oleh kekalahan Spanyol oleh Rusia beberapa jam yang lalu, padahal ribuan umpan dan tembakan sudah mereka kerahkan untuk memborbardir gawang lawan. Tapi berita yang aku dapatkan di malam itu benar-benar membuatku lupa akan piala dunia dan seisinya. 

meski begitu berat di hati, aku hanya bisa pasrah dan tawakkal. lah mau gimana lagi.. ? Mau nangis gulung-gulung demi menolak perintah itu.. ?

mandat telah turun dari atas, dan sebuah tugas berat sedang menantiku di depan sana…

Hayalan untuk menikmati hari-hari santai sebelum kepulangan tampaknya akan sirna begitu saja..

***

Keesokan harinya dengan persiapan praktis dan seadanya aku meluncur ke  ‘Inat, sebuah daerah terpencil yang berjarak sekitar 40 km dari kota Tarim. disinilah tempat bersemayam Syaikh Abu Bakar Bin Salim, salah satu Wali paling masyhur salam sejarah Saadah Ba’alawy, beliau ini adalah moyang Habib Umar Bin Hafidz dan para habaib bermarga BSA lainnya. 

Keberkahan dan kekeramatan Syaikh Abu Bakar masih terasa sangat kental di ‘Inat sampai sekarang. Salah satu buktinya, abu yang ada di area pemakaman beliau (Katsib ‘Inat) dikenal mujarab untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Konon, ada seorang dokter dari Singapura yang datang kesini -hanya- untuk meneliti pasir ‘Inat, gara-garanya adalah salah satu pasiennya yang tiba-tiba sembuh mendadak setelah meminum air yang dicampur pasir tsb.

Dulu ‘Inat hanya dikenal sebagai sebuah daerah pelosok dengan panas yang begitu menyengat, tapi setelah Syaikh Abu Bakar Bin Salim hijrah kesana, ‘Inat akhirnya menjadi salah satu Primadona yang namanya bisa berdiri sejajar dengan Tarim, Seiwun, Shibam, dan sarang-sarang Awliya lainnya..

Disini aku ditugaskan di Ribath ‘Inat, salah satu Cabang dari Darul Musthofa yang umurnya lebih tua dari ‘pondok’ Induknya. Sebabnya, Habib Umar-lah yang menghidupkan kembali Ribath ini dan mengirimkan pelajar-pelajar dari berbagai negara untuk belajar dan bermukim di Ribath yang didirikan Habib Hasan Bin Ismail ini.

Ada pengalaman unik di kamis pertamaku disini, malam Jum’at aku menghadiri Maulid di masjid Jami’ Syaikh Abu Bakar Bin Salim, tiba-tiba ada seorang anak kecil disampingku yang sok akrab dan nanya-nanya, terakhir ia tanpak begitu serius dan hendak membisikkan sesuatu, ia bertanya :

” kamu sudah pernah bermimpi bertemu Rasulllah Saw.. ?”

Aku tersenyum, aku malas menjawab pertanyaannya, ngapain Ente nanya-nanya itu ?  aku pikir bocah seperti dia tidak seyogyanya menanyakan urusan ‘tinggi’ seperti itu, seharusnya yang ia tanyakan adalah :.

” udah nonton Naruto episode terbaru.. ? Udah tau kalo Ronaldo pindah ke Juventus ..? “

Jumat pagi kami berziarah ke makam Habib Hasan Bin Ismail Al Hamid Sang Pendiri Ribath, disitu salah seorang teman menyebutkan salah satu dawuh pendiri Ribath – padahal dawuh itu sering kali dinukil oleh Habib Umar, entah bagaimana aku bisa lupa – :

” seorang Santri yang selama seminggu tidak pernah bermpimpi bertemu Kanjeng Nabi maka dia bukanlah seorang Santri.. ! “

Sebuah kalam yang mirip-mirip kalam guru beliau Al Habib Abdullah Umar Assyathiry, – hanya saja kalam Sang Murid terlihat lebih ‘berat’ dan ekstrim :

” seorang Santri yang tidak pernah sholat Tahajjud maka ia bukanlah seorang Santri.. “

Aku langsung teringat pada wajah polos anak kecil itu, lah pantesan saja dia nanya-nanya perilah mimpi Rasulullah Saw, pastinya ia sudah pernah mendengar dawuh Habib Hasan Bin Ismail itu, ingin sekali rasanya aku temui lagi bocah itu dan berkata :

” beruntung kamu dek.. Hidup di daerah yang diberkahi ini, gak mengenal Dubsmahs, Tiktok dan Mobilegend seperti kebanyakan bocah diluar sana.. “

Dan sekarang aku disini, menunggu waktu pulang dan kabar haji sambil ‘berlatih’ menjadi seorang ‘bapak’ yang mengurus dan mengajar puluhan pelajar yang ada di Ribath ‘Inat ini. Sebuah pengalaman yang menarik, pelajar-pelajar disini berasal dari berbagai suku dan negara, Thailand, Malaysia, Yaman (utara dan selatan), dan tentunya Indonesia. ada juga seorang Warga negara Australia yang ternyata Blasteran Bandung-Belanda. Sebuah ‘pelatihan’ gratis untuk menjadi seorang ‘pengasuh’ 🙂

Bismillah tawakkaltu ‘alallah..

‘Inat, 19 July.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *