Salah satu aspek yang mendorong manusia di era digital “tanpa batas” sekarang ini, untuk nekat berperilaku “aneh”, adalah dorongan ingin viral. Setiap subjek yang ingin menyampaikan “informasi” memang bertujuan agar infomasinya dibaca, didengar dan diperhatikan oleh khalayak publik. Apalagi jika kabar yang akan disampaikan terkait dengan eksistensi diri sang subjek pembawa pesan. Maka segala cara akan dipakai untuk melakukannya. Meskipun tidak ada yang salah dengan perilaku sosial ini, tetapi jika disertai dengan unsur kebohongan, intimidasi, provokasi, fitnah dan caci maki, maka akan mengundang persoalan pajang di belakang hari. Bahkan tak jarang akan berakhir di jeruji bui kantor polisi.
Media sosial memang mensuport ideologi “individualism” dengan sangat kuat. Maka tak heran jika ajang media sosial dipenuhi dengan narasi yang beragam, mulai dari ungkapan kegelisahan personal sampai kritik sosial. Mulai dari hiburan yang menyenangkan sampai kabar duka yang menyedihkan. Mulai dari ekspresi kegundahan sampai ekspresi marah pun dilayani dengan simbol “emosi” yang dengan cepat dibuat untuk merespon status orang lain dan diri sendiri. Semua hasrat paling dasar manusia “diajangi” dalam media sosial. Karena itu pula muncul istilah “viral” terkait dengan “infomasi” yang dengan sangat cepat dilihat dan direspon oleh nitizen (para penduduk dunia Maya). Keadaan viral tersebut ternyata melahirkan rasa puas bagi subjek yang memposting. Karena itulah selalu muncul dorongan untuk mengulangi lagi dengan informasi lain yang juga diharapkan bisa viral kembali. Bahkan yang tidak viral pun tetap bertahan dalam “mimpi” yang dibangun sang operator media bahwa suatu ketika mereka bisa viral. Paling tidak mereka sudah sangat puas bisa mengikuti dan mendapatkan respon simbolik dari teman dan terutama subjek yang menjadi idolanya. Seperti pengakuan Nadjwa dan Dedy Corbuzier dalam kamar “YouTube” nya, yang ternyata belum saling “mengikuti” dalam akun medsos yang mereka punya. Padahal itu sangat penting.
Kata viral menjadi kunci bagi setiap subjek yang ingin “sukses” di media sosial. Kata ini adalah mantra yang paling efektif untuk mendatangkan perhatian publik yang ujungnya adalah mendatangkan “rupiah”. Hari-hari terakhir ini misalkan, di dunia FB diramaikan dengan status “melepas hijab” yang mulai viral. Status yang menceritakan pengalaman “spiritual” seorang muslimah yang tidak tahan menjalani kehidupan beragama yang ketat secara syar’i. Dimana kemudian merasa hidupnya tidak sesuai dengan sunnah “kemanusiaannya” yang harus menggunakan akalnya. Karena akalnya selama ini “dibunuh” secara perlahan dengan doktrin ungkapan “agama itu harus pakai dalil, bukan pakai akal” oleh para ustadz sosmed salafi.
Harus diakui para ustadz “hijrah” ini memang jauh lebih canggih dalam mengolah kata2 mutiara yang bernuansa “agama”, ketimbang para kiai atau ulama pesantren yang lugu dan tidak banyak berwacana. Akibatnya di dunia maya para ustadz seleb dan mualaf jauh lebih digandrungi nitizen. Apalagi penampilan mereka selalu didukung dengan rekayasa “gimmick” yang lebih canggih dari pada ustadz tradisional yang biasanya cuman mengandalkan “kelucuan”. Maka ketika para ustadz gimmick ini menjadi viral dan banyak pengikutnya di dunia maya. Semakin banyak “korban” yang terjebak jaring perangkap mereka. Terlepas apakah “subjek” yang sedang viral dengan pengakuannya kenapa harus melepas hijab tersebut bagian dari korban ustad gimmick atau ustadz hijrah. Atau dia sedang berbohong agar menjadi viral, kita tetap harus bersikap hati-hati dalam bermedia. Sebab sekali lagi “viralisme” telah bermetamorfosa menjadi virus yang bisa membuat orang nekat melakukan apa saja di dunia maya. Termasuk melakukan kebohongan publik agar mendapatkan simpati, seperti yang banyak dilakukan akun-akun “pengemis” sedekah yang sering menampilkan korban perang, bencana dan konflik kekerasan lainnya demi meraup keuntungan pribadi dan golongan. Dimana kemudian uang atau dana yang mereka peroleh malah digunakan untuk membiayai kegiatan yang tidak sah secara hukum.
Kita tidak boleh terpukau oleh judul ataupun bungkus yang bisa jadi menipu. Seperti judul sebuah status “Melepas Hijab” di atas, alih-alih mau mengembalikan Islam dalam ruang yang lebih terbuka dan adil, malah masuk dalam jebakan Batman bahwa ajaran Islam itu tidak manusiawi. Karena memang viralnya status itu justru ditunggangi dengan kepentingan kelompok tertentu yang ingin mempertentangkan dalil dengan akal secara ekstrim. Padahal dalam ajaran Islam keduanya tidak mungkin dipisahkan. Akal adalah dalil itu sendiri. Karena setiap dalil tidak mungkin bertentangan dengan akal. Kalaupun bertentangan, bisa dipastikan itu bukan dalil, tetapi tafsir. Memang masyarakat sekarang ini terlalu serius dalam menanggapi isu “agama”. Karena semua aspek kemudian diformalkan dengan stempel “agama”, termasuk kulkas yang harus punya label “halal” (memang ada orang makan kulkas?). Akibatnya agama seolah dipenuhi dengan tampilan yang menyeramkan dan mengekang kebebasan manusia. Padahal sebaliknya agama itu diturunkan untuk membebaskan manusia dari belenggu kebodohan karena tak lagi bisa memanfaatkan akal dan nuraninya. Tapi anehnya kalau yang viral isunya soal “melepas syahwat” tiba-tiba hampir semua bisa kompak bersatu he-he-he. #SeriPaijo
Tawangsari 11 September 2020

No responses yet