Tentang tawakal, ada dua kutub ekstrim akibat kurang paham yg namanya tawakal. Ada pihak yg terlalu ektrim mendahulukan tawakal hingga emoh usaha. Di lain pihak, ada yang usaha terus tapi gak sadar maqom kehambaannya, jadinya sombong tapi ngaku tawakal. Kedua kutub ini halu.
Ada cerita riwayat seorang shahabat Kanjeng Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Anas bin Malik RA, pada suatu hari ada seorang laki-laki berhenti di depan masjid untuk mendatangi Kanjeng Nabi. Unta tunggangannya dilepas begitu saja tanpa ditambat.
Kanjeng Nabi pun heran, “Kenapa unta itu tidak diikat?”
Lelaki itu menjawab, “Saya lepaskan unta itu karena saya percaya pada perlindungan Gusti Allah,”
Menurut saya pribadi, lelaki ini orang a’robi atau badui. Buktinya berani sok-sokan ngomong tawakal di depan Kanjeng Nabi. Gak sopan banget.
Tapi karena Kanjeng Nabi itu baik, beliau gak tersinggung. Kanjeng Nabi malah menegur secara santai, simpel dan bijaksana,
إعقلها و توكل
“Ikatlah unta itu dulu, sesudah itu baru kamu bertawakal.”
Maka lelaki itu pun lalu menambatkan unta itu di sebuah pohon kurma.
Suatu penjelasan yang gamblang mengenai tawakal telah diberikan Kanjeng Nabi Muhammad SAW lewat peristiwa itu. Bahwa sesudah manusia berusaha, lalu sadar akan batasan, kemudian baru menyerahkan hasilnya pada ketentuan Gusti Allah. Itulah tawakal menurut ajaran Islam.

No responses yet