Setiap orang pada dasarnya ingin menjadi baik dan berbuat baik,tapi seringkali orang itu tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Untuk itu, manusia perlu belajar dan membiasakan diri untuk selalu berbuat baik.

Kita kerap lupa terhadap sekitar, terlalu sibuk mencapai prestasi puncak, kedudukan dan kekayaan semata. Seperti kata Socrates, akhirnya kita hanya akan peduli dengan diri kita sendiri tanpa mempedulikan lingkungan kemanusiaan dan sosial.

Hidup di Indonesia yang merupakan negara muslim terbesar, namun tidak menerapkan syariah Islam sebagai landasan negara sangatlah unik, karena demokrasi di negeri ini membuat semua pihak bebas berekspresi.

Isu-isu yang berkaitan dengan kemanusiaan memang menjadi tema yang hangat dan menarik untuk dibicarakan. Sekat territorial, ras, gender, golongan dan agama melebur menjadi satu arus besar mengawal kemanusiaan. Ketiadaan kemanusiaan merupakan sebuah masalah besar terhadap kemanusiaan itu sendiri, seperti yang terjadi di Syiria, Afghanistan, Yaman, Irak dan bahkan di Barat sana.

Islam seolah tidak mampu menjadi penengah, esensi islam sebagai agama yang manusiawi seolah hilang, islam sebagai agama yang ramah menjelma menjadi agama yang marah. Pemahaman terhadap islam yang terlalu dangkal, mengakibatkan banyak persoalan yang akan menimbulkan kehancuran terhadap peradaban manusia, bukan saja manusia muslim, namun namun seluruh manusia di muka bumi ini.

Pada dasarnya kita mempunyai agama yang memadai untuk kita saling membenci, tetapi tidak memadai untuk kita saling mencintai, agama yang memiliki dua wajah ganda seperti uang logam, seolah menjadi sebuah problematika bagi para pengikutnya, di satu sisi mengajarkan kasih sayang, perdamaian dan toleransi, disisi lain juga telah menjelma menjadi sosok mengerikan sekaligus menakutkan sehingga mendapatkan legitimasi dari pengikut agama lain. Melihat ironi sedemikian rupa, tepatlahkiranya mengutip apa yang pernah dikatakan Abu Hayyan At- Tauhidi (923-1023): «Al-insân asykala ’alaihil insân» (manusia telah sengsara oleh manusia lainnya!).

Islam sebagai sebuah ajaran dikenal sebagai agama yang sangat humanis, bahkan konsep tauhid sebagai dimensi ideal dalam ajaran islam tidak boleh dipisahkan dari kehidupan sosialnya, sebagaimana ajaran tasawuf yang pada dasarnya mengorientasikan diri terhadap Allah semata. Ia mampu berdialektika dengan keadaan sosial umat islam, namun sayangnya, secara empiris dalam masyarakat, ajaran yang humanis dan menekankan nilai-nilai sosial tidak tampak dalam masyarakat muslim kita.

Hal ini bisa dilihat dengan adanya kesenjangan dalam realitas masyarakat muslim, antara nilai-nilai agama yang bersifat ideologi dengan nilai-nilai sosialnya. Orang islam lebih tersinggung jika agamanya dilecehkan, sementara tidak tersinggung jika ada ketimangan sosial dimana-mana. Disini ada degradasi nilai-nilai sosial dan kemanusian, padahal jika dicermati ajaran islam memiliki nilai-nilai sosial dan kode etik yang tinggi, bahkan dimensi syariah islamiah dan akhlak dalam islam memiliki jangkauan yang sangat luas jika dibandingkan dengan dimensi aqidah.

Kita sering mendapati seruan agar manusia itu beriman, dan kemudian beramal, misalnya dalam surat Al-baqarah ayat kedua, disebutkan manusia itu menjadi Muttaqin, yaitu orang yang taqwa atau beriman ‘’percaya kepada yang ghaib‘’ kemudian mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dalam ayat ini kita melihat trilogi; iman, shalat,zakat. Sementara dalam formulasi yang lain, kita juga mengenal trilogi;iman,ilmu, amal. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa iman berujung pada amal dan aksi, yang artinya tauhid harus diaktualisasikan sebagai pusat keimanan seseorang yang berorientasi pada kemanusiaan untuk memperjuangkan kemuliaan peradaban manusia bukan merusaknya.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *