Pada 11 September 2020, saya dijapri teman dosen UINSA dari Fakultas Syariah, Dr (cand) WHP Al-Blitary.
Intinya, beliau bertanya siapa orang yang di youtube yang disebut Gus Nawawi Pasuruan. Dengan secepat kilat saya jawab, karena saya bukan gus dan juga bukan sekretaris per-gus-an, maka saya tidak kenal dia. Lalu Dr. WHP bilang di youtube yang tayang 13 Agustus 2020 itu, Nawawi begitu simpatik kepada Felix dan banyak memujinya (https://youtu.be/N_Otb7Li4oc).
Saya membuka video yang dikirimkan Dr. WHP, dalam video itu Dik Nawawi mengaku kenal dengan Felix dari salah satu ustadz di Pondok Sidogiri. Dua poin youtube yang panjang yang saya ingat.
Pertama saat Dik Nawawi bertanya dengan polosnya kenapa kalau khilafah adalah ajaran Islam, kok dianggap sebagai momok menakutkan oleh yang lain? Felix dengan panjang lebar mengulas, dan intinya menurut Felix adalah karena adanya framing buruk atas khilafah. Silakan baca nanti buku saya akan terbit, yang mengulas seputar hal itu, dan hal lain.
Kedua, Dik Nawawi bertanya dengan nada kayak orang belum tahu sama sekali terhadap HTI, yakni apakah Ustadz Felix mentaghutkan Pancasila dan mengkafirkan NKRI. Tentu Felix menjawab itu fitnah, lalu Felix mencoba mengurai sejarah Pancasila. Dia bilang menghormati kesepakatan atas NKRI. Namun kata Felix Indonesia masih kurang sempurna dan khilafah yang akan menyempurnakan dengan jalan dakwah.
Sayang Dik Nawawi berhenti tidak melanjutkan bertanya dengan kritis bagaimana final proses dakwah khilafah di NKRI dan bagaimana nasib NKRI saat itu? Malah Dik Nawawi bertanya hal lain yang menekankan kalau memang khilafah adalah ajaran Islam, lalu kenapa ada orang bahkan ormas Aswaja yang anti khilafah, selain karena framing apa ada lagi penyebabnya?
Felix yang menguasai medan diskusi dan konteks gerakan khilafah di Indonesia saat ini berusaha menurunkan speed obrolan dan obralan jawabannya…. Saya sudah menerka jawabannya, maka yutube yang masih panjang itu saya matikan karena poinnya sudah saya tangkap. Saya geser video itu ke bagian akhir, dan Dik Nawawi malah menyimpulkan seharusnya dengan yang beda sesama muslim bukan dipersekusi tapi dinasehati, masak dengan kafir non muslim malah bisa bagus dan manis muka tapi dengan muslim tidak demikian. Itulah inti yang dilakukan Dik Nawawi atas dialog dengan Felix.
Adik Nawawi ini sama sekali tidak melakukan kritik, tapi malah full apresiasi terhadap Felix. Beda saat di youtube tayang 15 Juli 2020, dia cenderung “mencari kesalahan” Gus Baha (https://youtu.be/itbAz6naPNg).
Dik Nawawi di awal video begitu mengagumi Gus Baha dengan sederet pujian. Namun di kalimat selanjutnya dia memberi statemen bahwa saat kita mengagumi seseorang, jangan sampai kita kehilangan akal sehat lalu menjadi cinta buta.
Dik Nawawi bilang bahwa ada suatu rekaman video dimana Gus Baha “menggembosi” UAS dan UAH. Inti videonya adalah ucapan Gus Baha terkait pondok NU atau lembaga NU yang mengundang UAS dan UAH karena si pengundang tidak tahu latar belakangnya.Lalu Gus Baha mengibaratkan dengan menjelaskan kajian epistemologi hukum Islam bahwa bila ada hukum global bertentangan dengan hukum detail, maka yang dimenangkan yang detail. Lha sekarang ini malah ulama kita tahu ilmu detail malah diajak ke ulama yang tahu ilmu global.
Saya (Ainur Rofiq Al Amin) membenarkan fenomena yang disinggung Gus Baha di forum tertutup bukan ceramah umum itu. Kalau kita banyak mengkaji buku-buku keislaman dan menggunakan nalar kritis, akan bisa menyetujui statemen Gus Baha. Saat ini dengan fenomena hijrah superfisial, dan munculnya ustad dadakan plus lahirnya artis yang beralih profesi sebagai pendakwah ataupun mereka yang sedikit-sedikit bilang kembali ke Alquran dan hadis adalah bukti nyata atas fenomena keberagamaan saat ini.
Lalu Dik Nawawi ini menjelaskan kepada Gus Baha kayak menjelaskan kepada muridnya tentang siapa UAS dengan disebutkan banyak gelarnya, dan pengikutnya yang banyak serta sekian penjelasan lain.
Pertanyaan sederhana, coba Dik Nawawi ini apakah komunitasnya akan mengundang penceramah luar yang tidak seide dengan komunitasnya? Tentang cinta buta terhadap tokoh jangan sampai kehilangan akal sehat, maka kita bisa ganti bertanya apakah Dik Nawawi pernah mengkritik sang Junjungannya? Masak junjungannya 100 persen benar terus?
Iseng-iseng Saya mencoba “sowan” ke google ternyata ketemu Nur Sugik mengunjungi pengurus FPI Pasuruan dan di situ ada juga Dik Nawawi.
Nampaknya tidak hanya Gus Baha, KH. Marzuqi Mustamar pun juga dia singggung di https://youtu.be/IN1ce2C-anY. Dik Nawawi berupaya “meluruskan” statemen KH. Marzuqi Mustamar.
***
Bersama Dr. (Cand) WHP dan Kiai Dr. Asrorun Niam di suatu masa…

No responses yet