Dalam palajaran hadist sewaktu di Tsanawiyah penulis pernah mengafal lafadz hadist tentang firqoh yang terjadi dalam ummat Islam yang diriwayatkan oleh Tirmidzi. Redaksi Hadits yang beliau riwayatkan selengkapnya adalah:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً وَ تَفَرَّقَتْ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّمِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوْا وَمَنْ هِيَ يَارَسُوْلَ اللَّهِ؟. قَالَ مَاأَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِي (سنن الترمذي، رقم ٢٥٦٥)
Secara sederhana guru saya yang juga seorang kiai “pesantren” memaknai hadis di atas bahwa kaum Yahudi terpecah menjadi 72 golongan dan ummat nabi Muhammad S.A.W, terpecah dalam 73 golongan. Dari 73 golongan ummat Islam itu semua (merasakan) masuk neraka, hanya satu yang tidak (merasakan) masuk neraka yakni kelompok yang secara Istiqomah mengikuti Sunnah Nabi dan Sunnah para sahabatnya. Salah satu Sunnah itu adalah lebih mengedepankan “persatuan/persaudaraan” atau silaturahim ketimbang perpecahan atau terputusnya tali persaudaraan. Apakah itu “persaudaraan sedarah, sesuku, sebangsa, seagama, sesama manusia, ataupun sesama mahluq Allah SWT. Bahkan guru saya itu mengharuskan kita menghafalkan ayat 103 surah Ali Imron, untuk menguatkan argumennya tentang penjabaran hadis tersebut. Terlepas benar atau tidak, saya hanya khusnudhon pada kiai saya yang ingin dunia ini dipenuhi nilai Islam yang Rahmatan Lil aalamin.
Secara sosiologis kelahiran agama-agama monoteis dunia (Yahudi, Nasrani dan Islam) terkonsentrasi di tanah “Arab” yang tandus dengan lingkungan penuh padang pasir. Dalam kacamata Ibnu Khaldun bangsa Arab adalah bangsa terdiri dari banyak “kelompok” atau ashobiyah dan hidup dalam kultur “kompetisi yang ketat dan keras”. Sehingga seringkali menghadapi dan terlibat dalam peristiwa kekerasan dan peperangan. Itulah kenapa beliau berargumen bangsa Arab terlibat dalam kekerasan karena latar alamnya yang keras sehingga melahirkan watak manusia yang keras pula. Di sisi lain Narasi sejarah kenabian dalam kitab suci atau kitab tarikh (sejarah), juga dipenuhi dengan gambaran konflik dan kekerasan. Bahkan sejak keturunan pertama nabi Adam sudah terjadi “pertumpahan darah” antara Qobil dan Habil. Padahal gambaran setting dalam narasi kehidupan keluarga nabi Adam, seolah hidup di lingkungan yang subur dan bukan padang pasir. Seperti penggambaran kebiasaan menutupi aurat dengan dedaunan, yang sangat susah dibayangkan jika menggunakan dedaunan tanaman padang pasir. Artinya konflik awal manusia bukan karena kompetisi dalam memperebutkan sumber alam. Tetapi justru persaingan cinta terhadap “pasangan”.
Terlepas dari asumsi Ibnu Khaldun tentang kuatnya kultur padang pasir dalam mempengaruhi perilaku kekerasan bangsa Arab. Narasi kekerasan agama ini memang sudah bercampur aduk ketika keturunan Adam semakin banyak dan melahirkan beragam suku bangsa di dunia ini. Karena itulah kemudian konflik kekerasan meluas ke arena perebutan yang lain (bukan perebutan pasangan semata), mulai dari persoalan otoritas kekuasaan dalam lingkup kesukuan, politik, sampai sumberdaya alam yang menjadi trend di zaman kita sekarang ini. Menariknya semua konflik tersebut selalu memiliki keterkaitan dengan pandangan atau keyakinan “teologis”. Terutama perasaan “tidak ridho” dalam menerima keputusan akhir Tuhan tentang kebenaran yang dikabarkan lewat para utusan (Nabi dan Rasul). Seorang penulis sejarah , Karen Amstrong menggambarkan dengan sangat rinci bagaimana “peperangan agama” itu terjadi di sepanjang sejarah agama itu sendiri. Mereka berperang atas nama Tuhan yang sama demi membela ajaran nenek moyang yang juga sama, yakni ajaran monoteis nabi Ibrahim. Karena ketiga agama besar dunia ini semuanya mengakui kenabian Ibrahim atau Abraham. Namun karena kepentingan duniawi yang ditumpangkan pada ajaran agama mereka begitu kuat. Maka kesadaran “silaturahmi” itu kalah sengan hasrat dan keinginan untuk saling menguasai.
Kembali pada narasi kekerasan Qobil dan Habil, yang motif utamanya adalah “kecemburuan” atau iri karena gagal “mengusai” apa yang diinginkan. Dalam konteks ini, kekerasan awalnya berkembang secara personal. Nabi Adam yang tidak mampu menyelesaikan konflik kedua anaknya itu, mengembalikan permasalahan itu kepada Allah. Dimana kemudian Allah melalui nabi Adam memerintahkan keduanya untuk melakukan “persembahan” kepada Allah. Siapa yang memberikan persembahan terbaik (mulai dari niat sampai kualitas objek yang dijadikan sesajen) dialah yang dianggap paling taqwa. Maka watak “altruism” mengorbankan kepentingan diri untuk kepentingan semesta (baca : Tuhan yang “mengurus” alam semesta dengan segala isinya atau mahluk Nya) itu menjadi semacam indikator utama “ketaqwaan”. Para nabi adalah mereka yang rela berkorban untuk ummat atas nama Tuhan atau Allah. Meskipun mereka diperlakukan dengan beragam kekerasan, mereka lebih suka menghindarkan diri dari keinginan untuk membalas kekerasan itu dengan kekerasan yang serupa. Alih-alih membalas, para nabi justru memaafkan, menyantuni dan bahkan mengampuni mereka yang telah berbuat keji pada dirinya.
Sementara di zaman akhir ini kenapa tiba-tiba banyak orang beranggapan bahwa ajaran agama lebih sering menjadi sumber lahirnya kekerasan ketimbang perdamaian? Jawabannya secara sederhana adalah, karena masyarakat terlalu berlebihan dalam menempatkan agama sebagai bagian dari perangkat untuk memuaskan hasrat cinta duniawi mereka. Bahkan sebagian dari mereka dengan terang-terangan “bermaksiat” dengan ajaran agama untuk meraih kekuasaan politik tanpa mempedulikan keutuhan tali silaturahmi. Dengan “agama” mereka mencaci maki sambil menyesatkan saudaranya si sana sini. Dimana-mana mereka berteriak dan merasa paling benar sendiri. Bukan hanya itu mereka bahkan berani mengkafirkan ulama atau kiai perwaris Sunnah Nabi, yang lebih mumpuni ilmu dan ahlaqnya. Kemudian memuja muji sang pencaci yang sebenarnya cuman sales tampon yang digunakan para perempuan ketika sedang tidak suci. Agama tiba-tiba direduksi hanya dengan slogan penegakan syari’at yang murni. Anehnya muaranya adalah motto jamaah khilafer “Semua masalah solusinya adalah khilaf-ah”. Alih-alih mengurai permasalahan, mereka justru menambah beban bagi agama untuk bisa kembali menjadi perangkat solusi berbagai konflik dan persoalan ummat. Maka tak perlu heran jika di Timur Tengah dan Afrika Utara yang penduduknya mayoritas beragama Islam selalu dilanda peperangan saudara karena provokasi kaum khilaf-ah yang kantor pusatnya berdiri aman dan megah di Inggris yang bersahabat mesra dengan Amerika Serikat dan Israel. #SeriPaijo
Tawangsari 15 September 2020

No responses yet